Surah Al Baqarah

Ayat 30

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ 

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Penjelasan dan Kandungan

Bagaimana kronologis penciptaan manusia?, sebuah pertanyaan yang wajib untuk diketahui oleh setiap manusia; agar mereka menjadi jelas akan proses tersebut dan akan lebih menerangi jalan mereka ke depan.

 

Bagaimana kronologis pernciptaan manusia ?.

 

Jawaban dari pertanyaan ini telah dikabarkan Allah dalam kitab-Nya yang agung.

 

Ketika Allah akan menciptakan manusia, malaikat yang mengetahui hal itu lantas bertanya kepada Allah akan kebijakan ini; pertanyaan yang bukan ditujukan sebagai bentuk pengingkaran mereka, namun pertanyaan yang ditujukan sebagai bentuk keingintahuan mereka akan hikmah penciptaan itu[1]. Hal ini sekaligus menjadi petunjuk yang jelas akan kemahakuasaan Allah dan bahwa makhluk, siapaun ia, tetaplah adalah makhluk, diliputi dengan banyak kekurangan dan keterbatasan. Allah berfirman menjelaskan kronologis tersebut;

 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

 

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”.”.

 

Demikianlah Allah gambarkan ketidaktahuan para malaikat akan maksud dari kebijakan Allah hendak menciptakan manusia, sedangkan dalam prediksi mereka bahwa manusia itu kelak akan banyak membuat konflik dan keonaran. Olehnya, yang sepantasnya mendapat kepercayaan untuk memakmurkan bumi adalah mereka, dan bukan –justru- manusia yang dalam prediksi mereka akan banyak berbuat kerusakan.

 

Hal ini –sekali lagi- memberi petunjuk yang jelas bahwa Allah adalah Zat yang maha tahu, sedangkan makhluk adalah Zat yang dilingkupi oleh berbagai kelemahan dan keterbatasan. Olehnya, menanggapi keingintahuan dan persangkaan para malaikat, Allah berfirman;

 

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

 

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”.

 

 

__________

 

[1] Bentuk pertanyaan demikian sama dengan permintaan yang diajukan oleh nabiullah Musa ‘alaihissalaam- kepada Allah, agar Ia menampakkan wujud-Nya. Permintaan demikian bukan merupakan permintaan yang memberi isyarat akan ketidakpercayaan nabiullah Musa akan keberadaan Allah (al Quran; al Baqarah; 260). Namun permintaan demikian, ditujukan untuk lebih menambah kepercayaan dan keimanan Beliau, sebagaimana dinyatakan;

ليس الخبر كالمعاينة

“Tidaklah keyakinan yang akan didapatkan oleh sseorang yang mendengar sama dengan keyakinan yang didapatkan oleh seorang yang melihat secara langsung.”.

Share this: