Adzan Dan Qamat Di Telinga Bayi

    0
    48

    Pertanyaan :

    Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu Ustadz, saya mau tanya bagaimanakah hukumnya mengadzani bayi yang baru lahir? Jazakallahu khair ustadz

    Jawaban :

    Adzan adalah satu diantara jenis ibadah. Olehnya tidak boleh dilakukan pada waktu-waktu yang ditentukan kecuali bila ada dalil yang menunjukkan hal itu. Terlebih bahwa asal tujuan dari syariát adzan itu adalah pemberitahuan akan masuknya awal waktu shalat, maka tidak dibenarkan mengumandangkannya dengan tujuan-tujuan tertentu selain dari tujuan asal penetapannya kecuali ada dalil yang menunjukkan kebolehannya.

    Ada keterangan berasal dari Abi Raafié menyatakan bahwa Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- pernah mengumandangkan adzan di telinga Hasan bin Ali ketika lahir. Hadits tersebut dikeluarkan oleh imam Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Thabraani dan Abdul Razzaq. Namun dalam jalur sanadnya terdapat seorang perawi bernama Áashim bin Úbaidillah. Abu Hatim berkata tentangnya; hadits yang diriwayatkannya adalah mungkar, mudhttharib (guncang) dan tidak boleh dijadikan landasan hukum. Ibnu Maíen melemahkannya, dan imam Bukhari juga menyatakan bahwa haditsnya mungkar.

    Selain itu, ada juga keterangan yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la yang berisi anjuran untuk mengumandangkan adzan di telinga kanan bayi dan qamat di telinga kirinya, dan bahwasanya jika hal itu dilakukan maka sang bayi akan selamat dari kejahatan ummu as shibyaan (jin perempuan). Namun didalam sanadnya terdapat perawi bernama Marwan bin Salim al Ghifaari, sedangkan ia adalah perawi yang matruuk (ditinggalkan haditsnya).

    Keterangan tentang anjuran adzan di telinga kanan dan qamat di telinga kiri bayi ketika baru lahir juga diriwayatkkan oleh imam al Baihaqi, dengan jalur sanadnya hingga ke Ibnu Ábbas. Namun lagi-lagi dalam sanadnya terdapat seorang perawi bernama al Hasan bin Ámr, yang oleh imam Bukhari dinyatakan sebagai seorang yang suka meriwayatkan hadits secara dusta.

    Intinya bahwa keterangan-keterangan yang dijadikan sandaran akan anjuran mengumandangkan adzan dan qamat di telinga bayi ketika baru lahir adalah keterangan-keterangan yang tidak valid berasal dari Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam-.

    Berdasarkan itu, maka sebagian ulama menyatakan tidak disyariátkan adzan dan tidak juga qamat di telinga bayi ketika lahir. Adapun jika orang tua ingin melindungi anaknya dari kejahatan orang-orang hasad atau kejahatan makhluk Allah yang lainnya, maka hendaklah ia berkata sebagaimana doa Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- kepada Hasan dan Husain

    أُعِيْذُكَ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ كُلِّهَا مِنْ كُلِّ شَيْطَانِ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ

    “Aku memohon perlindungan kepada Allah untukmu dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari setiap kejahatan setan dan binatang bisa yang mematikan, dan dari setiap mata yang hasud.”. (HR. Bukhari)

    Demikian juga bagi mereka yang ingin menjadikan kalimat pertama yang mengiringi kelahiran sang bayi itu adalah kata-kata yang baik, maka dianjurkan membaca doa yang telah disebutkan tadi. Dan boleh juga baginya melantunkan kalimat-kalimat dzikir yang lain mengawali kelahirannya atau memutar tilawah al Quran atau yang lainnya, tanpa menetapkan lafadz adzan dan qamat sebagai lafadz yang disyariátkan untuk dikumandangkan di telinga bayi mengiringi kelahirannya.

    Tidak dipungkiri bahwa sebagian ulama ada juga yang mensyariátkannya dengan asumsi dasar bahwa hadits-hadits yang berkenaan dengan itu adalah hadits yang hasan atau meski hadits tersebut lemah, tetapi kelemahannya masih dapat ditolelir bila meninjau penguat-penguat yang lainnya. Namun pendapat yang pertama in sya Allah adalah pendapat yang lebih hati-hati.

    Wallahu a’lam bis shawaab