Agama & Nasehat

“Agama itu adalah nasehat (arabnya; nashiihah)”, demikan penggalan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mungkin diantara kita, ketika mendengar kata nasehat, maka yang menggelayut dalam fikiran adalah beberapa ucapan yang disampaikan oleh seorang kepada yang lainnya. Namun sesungguhnya tidak demikian. Nasehat itu tidaklah sebatas ucapan yang disampaikan oleh seorang kepada yang lainnya.

Kalau demikian, apa hakikat dari nasehat itu ?. Disebutkan dalam “Lisaan al ‘Arab” (2/615) tentang pengertian kata “Nashaha” yang merupakan bentuk kata kerja dari kata “Nashiihah”;

نَصَحَ الشيءُ خَلَصَ والناصحُ الخالص من العسل وغيره وكل شيءٍ خَلَصَ فقد نَصَحَ

“Sesuatu itu “nashaha” artinya murni dan asli. “An Naashih” maknanya adalah sesuatu yang murni dan asli, contohnya madu murni dan yang lainnya.”.  Disebutkan di dalam “Tahdziibu al Lughah” (4/146);

فلانٌ ناصِحُ الجَيْبِ معناه ناصِحُ القلبِ ليس فيه غِشٌّ

“Si Fulan itu “Naasihu al Jaib”, maksudnya si Fulan bersih hatinya dan tidak dikotori dengan kecurangan.”. Demikianlah makna asal dari kata “nasehat”. Olehnya itu maka dikatakan bahwa hakikat dari nasehat itu adalah keinginan tulus dari seorang yang disertai dengan amalan nyata dalam melaksanakan segala yang menjadi kewajibannya terhadap seluruh komponen yang menjadi objek dari nasehat tersebut.

Lantas siapa yang menjadi objek dari nasehat ?.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ ؟. قَالَ  لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasehat”. Kami (para sahabat) bertanya; nasehat buat siapa ?. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda; “Nasehat untuk Allah, dan untuk kitab-Nya, dan untuk rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin, serta untuk seluruh kaum muslimin yang selain mereka.”. (HR. Muslim, no. 82)

Bila demikian, maka hakikat dari nasehat itu adalah;  keinginan tulus dari seorang yang disertai dengan amalan nyata dalam melaksanakan segala yang menjadi kewajibannya terhadap;

  1. Allah,
  2. Kitab-Nya,
  3. Rasul-Nya,
  4. Para pemimpin kaum muslimin; ulama dan umara’ (pemerintah)
  5. Serta kepada seluruh kaum muslimin yang selain dari mereka.

Inilah hakikat nasehat, karenanya  -wallahu a’lam- Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi isyarat lewat haditsnya ini bahwa hakikat agama ini adalah nasehat, karena cakupannya yang melingkupi seluruh kewajiban seorang hamba terhadap seluruh komponen yang menjadi objek dari nasehat tersebut.

 

Wallahu a’lam bis shawaab

You may also like...

%d bloggers like this: