Air Kencing Balita

    0
    212
    Pertanyaan :

    Bagaimana cara membersihkan pakaian atau benda yang terkena air kencing bayi yang belum mengkonsumsi makanan selain ASI ?. Dan apakah jika air kencing itu mengenai pakaian dan telah kering hingga tidak tersisa lagi warna dan aromanya, pakaian itu dinyatakan telah suci ?

    Jawaban :

    Dalam sebuah hadits yang dibawakan oleh Ummu Qais binti Mihshan Al Asadiyyah radhiyallahu ‘anha dinyatakan bahwa

    أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ , لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَأَجْلَسَهُ فِي حِجْرِهِ , فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ , فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ عَلَى ثَوْبِهِ , وَلَمْ يَغْسِلْهُ

    Pernah Beliau datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa bayi laki-lakinya yang belum mengkonsumsi makanan (selain ASI). Saat memangku bayi tersebut, bayi itu pipis di pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salla,. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta air dan memercikkan air tersebut ke bagian yang terkena kencing sang bayi dan Beliau tidak mencucinya.

    Senada dengan hadits ini adalah hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata :

    أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – أُتِيَ بِصَبِيٍّ , فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ , فَدَعَا بِمَاءٍ , فَأَتْبَعَهُ إيَّاهُ. وَلِمُسْلِمٍ: فَأَتْبَعَهُ بَوْلَهُ , وَلَمْ يَغْسِلْهُ

    Pernah dihadirkan seorang bayi laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu bayi laki-laki tersebut pipis di atas pakaian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka Beliau meminta air dan memercikkan air itu ke atas bagian yang terkena kencing tersebut, dan Beliau tidak mencucinya.

    Dari kedua keterangan ini dipahami bahwa cara yang cukup untuk membersihkan kencing dari bayi laki-laki yang belum mengkonsumsi makanan selain ASI adalah dengan memercikkan air ke bagian yang terkena najis itu.

    Adapun jika air kencing itu berasal dari selain bayi laki-laki yang belum mengkonsumsi makanan kecuali ASI, maka untuk mensucikannya harus dengan mencucinya.

    Lantas bagaimana jika najis yang mengotori pakaian itu telah kering hingga tidak lagi tersisa bekas dari najis itu pada pakaian atau benda lain yang dikotorinya ?

    Hal yang perlu dipahami bahwa defenisi najis itu adalah benda kotor yang keberadaannya pada diri, pakaian atau tempat shalat seseorang dapat membatalkan shalat yang dilakukannya ketika itu. Dari defenisi ini dipahami bahwa keberadaan najis pada benda adalah hal yang seharusnya dapat terdeteksi oleh panca indra seseorang. Maka jika najis yang lekat pada sebuah benda suci tidak lagi dapat terdeteksi oleh panca indra seseorang (telah lenyap sifat najis itu); baik karena dicuci atau karena kering tersapu angin dan tersinari oleh terik matahari, atau karena sebab yang semisalnya; ketika itu dinyatakan bahwa benda itu tidak lagi najis karena hukum asal dari benda itu adalah suci dan sebab yang menjadikannya najis tidak lagi ada pada benda itu. Namun jika ia mencucinya, maka tentu hal itu lebih baik lagi.

     

    Wallahu a’lam bis shawaab

     

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here