Akhlak Penuntu Ilmu

    0
    323

    Pertanyaan :

    Asalamualikum, saya mau bertanya, saya sering melihat beberapa akhwat yang pakaiannya sudah rapi dan ilmunya banyak. Namun ketika di rumah, semua kegiatan sehari-hari di lakukan oleh orang tua / suami apakah itu benar ?. Dan ada beberappa ikhwan yang berbicara agama, namun ketika melihat wanita tak berhijab tidak bisa menundukan pandangan dan ketika sudah mengenal malah berani berkata-kata yang menggoda si wanita, itu bagaimana hukumnya ?

     

    Jawaban :

    Islam hadir ditengah kehidupan manusia untuk menuntun mereka kepada kehidupan yang terbaik. Maka merupakan hal yang seharusnya berlaku adalah bahwa tingkat pemahaman seorang terhadap agama berbanding lurus dengan akhlak mulia yang menghiasi kesehariannya. Allah berfirman;

    إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

    “Sesungguhnya al Quran ini memberi petunjuk kepada jalan yang terbaik.”. (al Israa; 9)

    Diantara akhlak mulia yang dimaksud adalah akhlak yang ditunjukkannya kepada orang tua atau suami.

    Membantu orang tua dalam menyelesaikan hajatnya adalah merupakan satu diantara kewajiban seorang anak kepada orang tuanya.

    Demikian juga menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah ketika sang suami pergi mencari nafkah, pun adalah tanggung jawab seorang ibu rumah tangga. “Wanita itu adalah pemimpin di rumah suaminya. Dan kelak ia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap yang dipimpinnya.”, demikian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Diantara hal yang juga merupakan adab penuntut ilmu adalah menghormati lawan jenis yang bukan mahram, yang salah satunya ditunjukkan dengan melaksanakan adab-adab islami ketika berkomunikasi dengan mereka; menundukkan padangan, tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, dan yang semisalnya.

    Olehnya, seorang muslim, utamanya kalangan penuntut ilmu agama dari mereka, hendaknya senantiasa takut kepada Allah dengan memperhatikan segala perilaku dan perkataannya. Dan janganlah ia menjadi seorang yang ilmu dan amalannya berada pada dua kutub yang berseberangan. Allah berfirman;

    يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (2) كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

    “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”. (as Shaff; 2-3)

    Demikian juga kepada mereka yang mendapatkan kekurangan diri saudaranya, hendaknya ia berusaha memperbaiki dan menasehatinya dengan cara yang hikmah. Dan janganlah ia melakukan pembiaran, terlebih dengan menggibah atau menjatuhkan kehormatan saudaranya itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

    “Tolonglah saudaramu yang dzhalim –dengan berusaha menghentikannya- dan saudaramu yang terdzhalimi.”. (HR. Bukhari).