Aku Ingin Seperti Si Fulan

    0
    28

    Satu diantara sekian banyak potret indahnya kehidupan para sahabat radhiyallahu anhum adalah semangat mereka untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Setiap individu dari mereka ingin terlibat dalam kebaikan yang sama seperti yang dilakukan oleh sahabat yang lainnya. Bersaing untuk melakukan amal shalih. Berlomba-lomba menuju surga Allah Ta’la. Termasuk didalamnya semangat berkompetisi untuk berbagi dan memberi.

    Memiliki kelebihan harta adalah potensi yang harus dimanfaatkan dan diberdayakan untuk mendulang kebaikan dan pahala. Kekayaan tidak selalu identik dengan kecintaan kepada dunia. Namun kekayaan ibarat dua mata pisau yang dapat mengantarkan seseorang kepada kebaikan ataukah keburukan. Tergantung keimanan dan ketakwaan seseorang. Karena sesungguhnya sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang berada ditangan orang yang shalih.

    Seperti halnya kisah Abu Bakar dan Umar yang berlomba-lomba menginfakkan harta mereka di jalan Allah. Begitu juga dengan Kisah orang-orang miskin dari kalangan sahabat yang curhat kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam terkait ketidakmampuan mereka untuk bersedekah sebagaimana layaknya orang-orang yang memiliki kelebihan harta. Dan kisah-kisah lainnya.

    Potret kehidupan nyata yang membuat hati orang yang beriman “iri” dengan semangat mereka dalam melakukan kebaikan. Ingin melakukan sebagaimana yang mereka lakukan. Ingin mendapatkan kesempatan yang sama untuk melakukan kebaikan seperti yang dilakukan oleh saudaranya yang lain untuk berinfak,berbagi dan bersedekah sesuai dengan kelapangan harta yang dimiliki. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    لاَ حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ عَلَّمَهُ اللَّهُ القُرْآنَ، فَهُوَ يَتْلُوهُ آنَاءَ اللَّيْلِ، وَآنَاءَ النَّهَارِ، فَسَمِعَهُ جَارٌ لَهُ، فَقَالَ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُهْلِكُهُ فِي الحَقِّ، فَقَالَ رَجُلٌ: لَيْتَنِي أُوتِيتُ مِثْلَ مَا أُوتِيَ فُلاَنٌ، فَعَمِلْتُ مِثْلَ مَا يَعْمَلُ

    Artinya :”Tidak diperbolehkan hasad kecuali kepada dua hal : seseorang yang Allah ajarkan kepadanya Al Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang hari, lalu tetangganya mendengar (kebaikan yang ia lakukan) seraya berkata :”Kalau saja diberikan kepadaku sebagaimana yang diberikan kepada si fulan maka niscaya aku akan melakukan (kebaikan) sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan. Dan seseorang yang Allah anugerahkan kepadanya harta kemudia ia gunakan harta tersebut pada Al Haq. Maka laki-laki lain (yang mendengar kebaikan yang dilakukan oleh si fulan) berkata : “Kalau saja diberikan kepadaku sebagaimana yang diberikan kepada si fulan maka niscaya aku akan melakukan (kebaikan) sebagaimana yang dilakukan oleh si fulan”. (H.R.Bukhari)

    Perasaan “iri” positif (yang dalam istilah syar’I disebut dengan gibthoh) seperti inilah yang harusnya muncul dalam diri seorang mukmin ketika melihat saudaranya melakukan kebaikan. Perasaan yang muncul karena kecintaannya untuk melakukan ketaatan kepada Allah. Perasaan yang timbul karena ia meyakini bahwa iman butuh pembuktian. Dan pembuktiaan dari keimanan yang benar itu adalah melakukan amal shalih serta tetap berada dalam kebaikan.

    ✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here