Home » Anda Muslim?

Anda Muslim?

Imam Al Qurthubi rahimahullah berkata membawakan riwayat dari Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah;

قدم أعرابي في زمان عمر بن الخطَّاب – رضي الله عنه – فقال: من يقرئني ممَّا أُنزل على محمد – صلى الله عليه وسلم -؟ قال: فأقرأه رجل (براءة) فقال: {إنَّ الله بَرِيءٌ منَ الْمُشْركِينَ وَرَسُولِهِ} وهو بالجرّ، فقال الأعرابي: أوقد برئ الله من رسوله؟ فإن يكن الله برئ من رسوله فأنا أبرأ منه، فبلغ عمر مقالة الأعرابي، فدعاه، فقال: يا أعرابي؛ أتبرأ من رسول الله – صلى الله عليه وسلم -؟ فقال: يا أمير المؤمنين، إنّي قدمت المدينة، ولا علم لي بالقرآن، فسألت من يقرئني، فأقرأني هذا سورة براءة، فقال: {إنَّ الله بَريءٌ منَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهِ} فقلت: أوقد برئ الله من رسوله، إن يكنَ الله برئ من رسوله فأنا أبرأ منه. فقال عمر: ليس هكذا يا أعرابي، قال: فكيف هي يا أمير المؤمنين؟ قال: {إنَّ الله بَريءٌ منَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ} فقال الأعرابي: وأنا أبرأ ممن برئ الله ورسوله منه. فأمر عمر بن الخطّاب – رضي الله عنه – ألا يُقرئ النَّاس إلا عالم باللُّغة، وأمر أبا الأسود فوضع النّحو

Seorang arab badui di masa Umar radhiyallahu ‘anhu pernah berkata meminta orang-orang membacakan Al Quran kepadanya. Maka ada seorang laki-laki membacakan surah At Taubah ayat ke-3 kepadanya, yaitu firman-Nya;

إنَّ الله بَرِيءٌ منَ الْمُشْركِينَ وَرَسُولِهِ

dengan membaca kasrah pada huruf laam dalam kata rasuulihi . Mendengar ayat tersebut dibacakan dengan harakat demikian (seharusnya dengan harakat dhammah), orang arab badui itu lantas berkata, “Apakah Allah pun telah berlepas diri dari rasul Nya?” Jika demikian, maka saya juga akan berlepas diri dari Rasulullah. Pernyataan arab badui itu akhirnya sampai kepada Umar, dan beliaupun memanggilnya. Umar berkata, “Wahai arab badui betulkah bahwa engkau telah berlepas diri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?”. Arab badui itu berkata, “Wahai amirul mukminin, saya tiba di Medinah sedang saya tidak mengetahui sedikitpun tentang Al Quran. Maka saya pun meminta orang-orang membacakannya kepadaku … (kemudian beliau ceritakan secara lengkap sebab berlepas dirinya beliau dari Rasulullah)”. Mendengar kronologis demikian, Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ayat itu tidaklah dibaca seperti yang engkau dengar”. Arab badui itu berkata, “Kalau begitu bagaimana cara benar membacanya?”. Kemudian Umar membacakan ayat itu dengan bacaan yang benar kepadanya;   

إنَّ الله بَريءٌ منَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولُهُ

dengan membaca huruuf laam pada kata rasuuluhu menggunakan harakat dhamma. Setelah mendengar bacaan yang benar dari ayat itu, arab badui itu lantas berkata, “Jika demikian, maka saya akan berlepas diri dari orang-orang yang Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari mereka.”. Sejak saat itu, Umar radhiyallahu ‘anhu melarang orang-orang mengajar dan membacakan Al Quran kepada orang lain kecuali mereka yang paham aturan dan tata bahasa Arab. Dan saat itu pula, Umar radhiyallahu ‘anhu meminta Abu Al Aswad Ad Dualiy membuat pedoman tata bahasa Arab, yang selanjutnya dikenal dengan ilmu nahwu.”. (AlQurthubi, 1964)

Selain riwayat di atas, ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa kejadian ini terjadi di masa Ali radhiyallahu ‘anhu. Dan ada juga riwayat-riwayat yang menyebutkan peristiwa lainnya sebagai faktor awal yang melatarbelakangi peletakan ilmu nahwu. Namun betapapun riwayat-riwayat itu berbeda, hanya saja substansinya tetap sama bahwa peletakan dasar ilmu tata bahasa Arab itu diawali karena adanya semangat menjaga kemurnian bahasa Arab dari berbagai kesalahan akibat interaksi mereka dengan orang-orang asing dan secara khusus adanya semangat keberagamaan untuk menjaga Al Quran dari segala penyimpangan dan perubahan makna. (AsShaaidiy, 1988)

Demikianlah semangat dasar yang melatarbelakangi lahirnya ilmu nahwu (tata bahasa Arab). Semangat dasar ini hendaknya dipahami secara baik oleh setiap muslim untuk kembali membangkitkan motivasi mereka dalam mempelajari bahasa Arab sebagai bahasa agama. Dan bagi mereka yang telah mempelajarinya atau mengajarkannya, pengetahuan tentang semangat dasar yang melatarbelakangi peletakan ilmu ini diharapkan dapat menjaga mereka agar tetap berada dalam garis lurus untuk sampai pada tujuan dasar peletakan ilmu ini. Tidaklah sama antara belajar dan mengajarkan bahasa Arab dengan belajar dan mengajarkan bahasa selainnya. Anda muslim?. Sudah anda belajar bahasa agama anda?.

 

 

References

AlQurthubi, M. b. A. A. A., 1964. Al Jaami’e Li Ahkaami Al Quran. Kairo: Daaru Al Kubtub Al Mishriyyah.

AsShaaidiy, A. R. I. F., 1988. Ushuul Ilmi Al ‘Arabiyyah Fil Madinah. Madinah: Majallah Al Jami’ah Al Islamiyyah.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
%d bloggers like this: