Apa yang wajib dikeluarkan ketika zakat fithri ?

    0
    505
    “Apa yang wajib dikeluarkan ketika zakat fithri ?”

    Menjawab pertanyaan ini, hal yang penting dipahami bahwa satu diantara tujuan inti dari zakat fithri yaitu menyempurnakan puasa seseorang dan menambal hal-hal yang dapat mengurangi nilai puasa orang tersebut.

    Oleh karena itu, hendaknya dia melakukan hal maksimal dalam pelaksanaannya sebagai upayanya mengakhiri puasanya dengan penutupan yang juga maksimal.

    Berkenaan dengan ulasan ini maka hal yang telah disepakati oleh para ulama bahwa jenis harta yang dikeluarkan untuk zakat fithri adalah makanan pokok yang ukurannya adalah empat mud atau kurang lebih sama dengan 2400 gr dan –untuk lebih hati-hati- dibulatkan menjadi tiga kg. Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

    فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ

    “Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah mewajibkan zakat fithri sebesar satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum. Diwajibkan atas kaum muslimin baik dari golongan orang merdeka atau budak, laki-laki dan perempuan, serta atas anak kecil dan orang dewasa. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyuruh mengeluarkan zakat tersebut sebelum orang-orang keluar melaksanakan shalat I’ed.”. (HR. Bukhari)

    Demikianlah tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masalah ini, demikian juga para sahabatnya.

    Bolehkah mengeluarkannya berupa nominal uang ?

    Jumhur ulama mengatakan tidak sah mengeluarkannya dalam bentuk nominal uang, kecuali jika ia mengeluarkannya dalam bentuk nominal uang ke petugas zakat yang akan membelikannya makanan pokok.

    Mengeluarkannya dalam bentuk nominal uang sebagai ganti dari makanan pokok tidak merupakan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak juga para sahabatnya ketika masa itu; seluruh mereka tidak ada yang mengeluarkan zakat fithri berupa nominal uang, meski nominal tersebut ada pada mereka dan kebutuhan orang ketika itu terhadap uang, -pun tidak lebih kurang dari kebutuhan orang sekarang terhadapnya.

    Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk memperkaya (mencukupkan) mereka pada hari ‘ied ?. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;  

    أَغْنُوهُمْ عَنْ طَوَافِ هَذَا الْيَوْمِ

    “Cukupkanlah orang-orang fakir dengan zakat fithri sehingga mereka tidak meminta-minta di hari itu.”.

    Dikatakan terhadap pertanyaan ini bahwa hadits yang disebutkan adalah hadits yang oleh para ulama dinyatakan sebagai hadits yang lemah, karena salah seorang perawinya bernama Muhammad bin Umar Al Waaqidiy adalah perawi yang lemah sebagaimana dinyatakan imam Daaraquthni. Imam Bukhari dan Abu Hatim menyatakan bahwa haditsnya matruuk (ditinggalkan). (Mizanul I’tidaal).

    Kalaupun makna dari hadits ini ingin diterapkan maka makna dari kata “ughnuuhum” (buat mereka kaya/cukup) yaitu sebagaimana dinyatakan di dalam subulus salaam ;

    وَإِغْنَاؤُهُمْ يَكُونُ بِإِعْطَائِهِمْ صَدَقَتَهُ أَوَّلَ الْيَوْمِ

    “Dengan segera membagikan zakat tersebut di awal waktu wajibnya kepada mereka”, dan bukan dengan mengalihkan jenis zakat yang wajib diberikan kepada mereka dari makanan pokok kepada nominal uang.

    Jika dikatakan bahwa memberikannya dalam bentuk nominal uang akan lebih memberi maslahat kepada sebagian kalangan ?

    Dijawab bahwa rasa iba dan perhatian kalian untuk meringankan kebutuhan saudara-saudara kalian adalah hal yang terpuji. Tetapi rasa iba dan keperihatinan itu pun harus kalian berikan kepada diri kalian sendiri sebelum kepada orang lain, yaitu keperihatinan terhadap sah tidaknya ibadah yang kalian lakukan;

    *) Bukankah jika kalian menyalurkannya berupa makanan pokok, mereka dapat menjualnya kembali jika mereka betul membutuhkan nominal uang tersebut ?

    *) Dan jika kalian betul-betul berkecukupan dan berkeinginan kuat memberi kelonggaran kepada saudara kalian tersebut maka berilah kepadanya zakat fithri kalian dan bersedekahlah. In sya Allah hal tersebut akan membantu mereka tanpa harus melakukan hal yang tidak dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Selain itu ada fenomena yang kurang bagus berkembang di masyarakat yaitu fenomena ingin instan dan tidak mau repot bahkan terhadap pelaksanaan kewajiban agama mereka. Membolehkan penyaluran zakat fithri dalam bentuk nominal uang akan semakin memberi angin segar kepada mereka yang tidak mau repot untuk melaksanakan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; tidak mau repot pergi belanja ke toko muslim untuk membeli beras, tidak mau repot memilah-milahnya, dan tidak mau repot melangkah sendiri mengangkat beras yang wajib ia serahkan kepada mustahik atau petugas zakat.  

    Kesimpulan
    1. Hukum membayar zakat fithri berupa nominal uang adalah perkara yang diperselisihkan oleh ulama.
    2. Mayoritas ulama berpendapat tidak sah membayar zakat fithri berupa nominal uang

     

    Wallahu a’lam bis shawaab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here