Apakah disyari’atkan puasa syawwal bagi mereka yang masih memiliki utang Ramadhan ?

Diantara hal yang bulan ini ramai dibicarakan adalah hukum mendahulukan puasa syawwal dari pada puasa qadha;

  • Sebagian ulama ada yang membolehkan
  • Sebagian yang lain tidak membolehkan

Diantara alasan mereka yang membolehkan adalah;

*) Firman Allah berkenaan dengan seorang yang meninggalkan puasa Ramadhan karena sakit atau sedang dalam safar;

فَمَن كَانَ مِنكُم مَّرِيضًا أَوۡ عَلَىٰ سَفَرٖ ‌فَعِدَّةٞ مِّنۡ أَيَّامٍ أُخَرَۚ

“Wajib bagi mereka mengqadha puasanya dihari apa saja selain Ramadhan.”. (al Baqarah; 184 dan 185). Ayat ini menunjukkan bahwa qadha Ramadhan adalah ibadah yang sifatnya muthlak, boleh dilakukan kapan saja.

*) Mengingat hal tersebut dan mengetahui bahwa puasa syawwal adalah ibadah yang waktu pelaksanaannya terbatas (muqayyad); maka ketika di bulan syawwal seorang tidak mampu atau sukar menggabungkan pelaksanaan qadha Ramadhan yang sifatnya boleh dilaksanakan kapan saja (muthlak) dengan puasa syawwal yang terbatas waktu pelaksanaannya (muqayyad), disaat itu boleh didahulukan pelaksanaan ibadah muqayyad (agar waktu pelaksanaannya tidak lewat) dari pada ibadah muthlak (karena bisa dikerjakan kapan saja).

*) Seorang yang ada udzhur (alasan yang benar), meski secara kasat mata (hissan) tidak melaksanakan sebuah ibadah karena udzurnya itu, tetap saja ia dinilai secara hukum (hukman) telah melaksanakannya. Ketika ia meninggal sebelum sempat mengqadhanya, tidaklah ia dinyatakan sebagai orang yang tidak berpuasa. Olehnya, hadits Rasulullah tentang anjuran melaksanakan puasa syawwal, yang menyatakan,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ ‌سِتًّا ‌مِنْ ‌شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

“Barangsiapa yang telah berpuasa kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawwal …” (HR. Muslim) ; hendaknya hadits tersebut tidak saja dimaknai “barangsiapa yang telah full berpuasa selama sebulan (hissan)”, tetapi juga hendaknya dimaknai “barangsiapa yang secara hukum (hukman) dinyatakan telah berpuasa …”. Pemaknaan ini lebih dikuatkan lagi dengan melihat keutamaan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkenaan dengan puasa syawwal ini, yaitu; ia seakan telah berpuasa sepanjang tahun. Mengapa dikatakan ia bagaikan berpuasa sepanjang tahun ?. Ulama berkata; karena pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan sebanyak 10 kali. Jika demikian maka puasa sebulan sama dengan puasa 300 hari. Dan puasa enam hari setelahnya sama dengan puasa 60 hari. Hingga dinyatakanlah bahwa seorang yang berpuasa satu bulan ditambah enam hari dibulan syawwal, maka sama dengan seorang yang berpuasa 360 hari atau setahun. Jika demikian, barangsiapa memiliki utang Ramadhan yang ia niatkan akan qadha setelah pelaksanaan puasa enam hari di bulan Syawwal, maka setelah mengqadhanya berarti ia pun dinyatakan telah melaksanakan puasa Ramadhan itu berserta puasa syawwal. Keadaannya sama dengan seorang yang membayar qadhanya terlebih dahulu sebelum puasa syawwal; kedua-duanya dinyatakan telah berpuasa Ramadhan dan enam hari di bulan syawwal; karena itu keduanya berhak mendapat keutamaan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Aisyah tersebut.

*) Aisyah adalah seorang istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dikenal sangat rajin dalam beribadah. Pernah Beliau mengabarkan bahwa karena berkhidmat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Beliau tidak melaksanakan puasa qadha Ramadhan melainkan sebulan sebelum tiba Ramadhan selanjutnya (Sya’ban). Bila seorang berkeyakinan tidak boleh melaksanakan puasa sunnah sebelum melunasi puasa qadhanya, keyakinan itu akan menggiringnya pada kesimpulan bahwa Aisyah radhiyallahu ‘anha selama 10 bulan sebelum Sya’ban itu tidak pernah melaksanakan puasa sunnah senin kamis, tidak pernah melaksanakan puasa sunnah tiga hari dipertengahan setiap bulan, tidak juga puasa Arafah, dan tidak pula seluruh puasa sunnah yang lain termasuk 6 hari di bulan syawwal. Kesimpulan semacam ini, secara logika perlu dikaji ulang mengingat bahwa Aisyah adalah seorang istri Rasulullah yang dikenal sangat rajin dalam beribadah –sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya-. 

Demikian diantara pandangan mereka yang menyatakan bahwa boleh mendahulukan pelaksanaan puasa syawwal dari pelaksanaan puasa qadha Ramadhan. Meski demikian, mendahulukan puasa qadha adalah lebih utama bagi mereka yang mampu melakukan hal tersebut.

Wallahu a’lam bis shawaab

Pages: 1 2

You may also like...

%d bloggers like this: