As Shalaatu Khairun Minan Naum

    0
    66

    Pertanyaan :

    Assalaamualaikum. Pertayaan saya ustadz, ada masjid yang jika adzan subuh yang adzan dia tidak pernah mengucapkan assalatu khairon minannau, apakah ada dalil yang membolehkan hal tersebut. Syukron atas jawabannya .

    Jawaban :

    Sebelum masuk pada inti jawaban dari pertanyaan yang diajukan, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa adzan itu adalah ibadah yang disyari’atkan sebagai tanda masuknya awal waktu shalat. Demikianlah tujuan asal dari ibadah ini sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa keterangan tentang awal disyari’atkannya ibadah ini (adzan).

    Bila hal diatas telah kita pahami, maka lafadz adzan itu adalah sebagaimana yang telah dan biasa didengarkan oleh kaum muslimin diseluruh belahan dunia;

    *) Lafadz takbir

    *) Lafadz dua kalimat syahadat

    *) Lafadz “hayya ‘ala as shalaah” dan “hayya ‘ala al falaah” (diistilahkan dengan sebutan lafadz “al hay’alataan”

    *) Lafadz takbir

    *) Lafadz laailaaha illallaah

    Demikianlah lafadz adzan yang telah diketahui bersama, meski sebenarnya ada perbedaan pendapat ulama tentang jumlah pengucapan dari masing-masing lafadz itu ketika adzan. Namun perbedaan itu tidak akan dibahas dalam uraian singkat ini.

    Selanjutnya, tentang lafadz “as shalaatu khairun min an naum” (shalat adalah lebih baik dari tidur), yang diistilahkan dengan sebutan lafadz “at tatswiib”, dan dikumandangkan diwaktu subuh, lafadz ini memang diperselisihkan oleh para ulama tentang waktu dikumandangkannya;

    *) Sebagian mengatakan bahwa lafadz ini dikumandangkan pada adzan pertama diwaktu subuh (kurang lebih 15 sebelum masuk waktu shalat subuh)

    *) Sebagian lagi mengatakan bahwa lafadz ini dikumandangkan pada saat adzan kedua, menandakan masuknya waktu shalat subuh.

    Perlu diketahui bahwa pada waktu subuh, disyari’atkan mengumandangkan dua kali adzan;

    *) Adzan yang pertama, kurang lebih 15 menit sebelum masuk waktu shalat subuh, bertujuan untuk membangunkan orang-orang yang masih tertidur agar segera bangun dan mengingatkan mereka yang masih tengah melaksanakan shalat malam agar berhenti sejenak untuk makan dan minum jika mereka akan berpuasa keesokan harinya, karena waktu sahur akan segera berakhir, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud, yang diriwayatkan oleh imam Abu Daud dan yang lainnya.

    *) Adzan kedua, dikumandangkan mengiringi terbitnya fajar, sebagai tanda masuknya waktu shalat subuh.

    Berdasarkan keterangan diatas, sebagaian ulama menyatakan bahwa pendapat yang lebih kuat dalam masalah penetapan waktu dikumandangkannya lafadz tatswiib ini adalah pendapat kelompok pertama yang menyatakan bahwa lafadz ini hendaknya diucapkan pada adzan pertama dan bukan pada adzan kedua. Diantara alasannya adalah;

    1) Memperhatikan arti dari lafadz tatswiib tersebut dan membandingkannya dengan tujuan disyari’atkannya mengumandangkan lafadz itu disimpulkan bahwa mengumandangkannya di saat adzan pertama adalah lebih sesuai dan singkron dari pada mengumandangkannnya di saat adzan kedua.

    2) Bila saja diwaktu subuh disyari’atkan mengumandangkan adzan pertama dengan tujuan salah satunya adalah untuk membangunkan orang-orang yang masih tertidur; lantas bila lafadz at tatswiib ini (shalat lebih baik dari tidur) baru diucapkan pada saat adzan kedua, waktu dimana orang-orang telah dibangunkan oleh adzan pertama; … maka kepada siapakah lafadz itu ditujukan sedangkan orang-orang telah terbangun ketika itu ?!

    3) Mengucapkan lafadz tatswiib pada adzan pertama juga lebih layak daripada mengumandangkannya pada adzan kedua mengingat bahwa adzan kedua itu adalah adzan sebagai penanda akan awal masuknya waktu shalat. Olehnya hendaknya lafadznya pun sama dan tidak berbeda dengan adzan pada waktu shalat yang lainnya, karena tujuannya sama, yaitu sebagai pertanda awal waktu. Dan untuk membedakan adzan tersebut (dengan tujuan pertanda masuknya waktu shalat) dan antara adzan yang selainnya (dengan tujuan membangunkan orang yang masih tidur), maka disyari’atkanlah lafadz tatswiib ini.

    4) Dari keterangan-keterangan yang ada berkenaan dengan adzan subuh di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diketahui bahwa pada waktu subuh itu, yang mengumandangkan adzan ada dua orang, yaitu Bilal dan Abdullah bin Ummi Maktuum. Bilal mengumandangkan adzan pertama dan Abdullah bin Ummi Maktum mengumandangkan adzan kedua. (HR. Muslim, dari Abdullah bin Umar). Dan dari beberapa keterangan lain diketahui bahwa yang mengumandangkan lafadz tatswiib itu ketika adzan adalah Bilal dan bukan Abdullah bin Ummi Maktum. Olehnya disimpulkanlah bahwa lafadz tatswiib ini disunnahkan pada adzan pertama dan bukan pada adzan kedua. Dari Hafsh bin Umar , dari Bilal, Beliau (Bilal) berkata ;

    أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْذِنُهُ بِالصُّبْحِ فَوَجَدَهُ رَاقِدًا ، فَقَالَ : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنْ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَحْسَنَ هَذَا يَا بِلَالُ ، اجْعَلْهُ فِي أَذَانِك 

    “Beliau pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menyampaikan kepada Beliau akan (dekatnya) waktu subuh. Namun ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidur, maka Beliau (Bilal) pun berkata sebanyak dua kali, “Shalat lebih baik dari tidur”. Mendengar itu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbangun) dan berkata; sungguh baik pernyataan itu wahai Bilal. Ucapkanlah pernyataanmu itu pada adzan yang engkau kumandangkan.”. (HR. Thabraani)

    5) Kesimpulan ini dipertegas dengan adanya hadits Abi Mahdzhurah, Beliau berkata;

    كنت أؤذن لرسول الله صلى الله عليه و سلم وكنت أقول في أذان الفجر الأول حي على الفلاح الصلاة خير من النوم الصلاة خير من النوم الله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله

    Pernah saya mengumandangkan adzan di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika mengumandangkan adzan pertama di waktu fajar (dan bukan pada saat adzan kedua-pent), saya berkata; “ … hayya ‘ala al falaah, as shalaatu khairun min annauum, as shalaatu khairun min annaum, Allahu akbar, Allah akbar, Laailaaha illallaah.”. (HR, Nasaai)

    Kesimpulan

    1. Lafadz tatswiib pada saat fajar dianjurkan untuk dikumandangkan pada saat adzan pertama. Dan pendapat inilah kiranya yang dipegangi oleh sebagian masjid yang tidak mengumandangkan lafadz tersebut pada saat adzan kedua di waktu fajar (yang menandakan masuknya waktu shalat subuh).

    2. Masalah ini adalah masalah ijtihad (boleh untuk didiskusikan dan bukan persoalan baku dalam agama). Setiap orang boleh beramal sesuai dengan pendapat yang diyakininya lebih tepat berdasarkan dalil-dalil yang telah dipelajarinya. Olehnya, tidak boleh bertikai dan berpecah karena perbedaan pendapat dalam masalah ini dan masalah-masalah lain yang semisalnya.

    Wallahu a’lam bi as shawaab.