Di antara isu yang marak belakangan ini adalah isu tentang jilbab yang kembali dihembuskan oleh sekelompok orang yang hendak menyuarakan kebebasan berbusana tanpa harus terikat dengan ketentuan yang telah disepakati oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil dari Al Quran, sunnah, dan pernyataan para ulama dari kalangan sahabat, taabi’ien, dan ulama-ulama setelahya.

Mereka menyatakan bahwa jilbab bukanlah merupakan pakaian yang wajib dikenakan oleh wanita muslimah. Tidak ada larangan bagi wanita muslimah keluar rumah dengan rambut yang terurai. Demikian pendapat mereka, yang seakan berusaha ingin merubuhkan bangunan kokoh bernama “ijma” (kesepakatan para ulama) bahwa rambut wanita adalah aurat. Dan agama melarang wanita untuk menampakkan auratnya kecuali kepada suami dan mahramnya.

Dengan pendapat nyeleneh mereka tersebut seakan mereka ingin berkata, “Kesepakatan para ulama tersebut adalah salah dan yang benar adalah pendapat kami ini.”.
Untuk itu, akan dipaparkan dalam rubrik ini pendapat dari empat madzhab mewakili madzhab-madzhab lain yang diakui dalam Islam, yang merupakan gambaran sederhana betapa para ulama telah sepakat bahwa seluruh anggota tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan.

Madzhab Hanafi

Disebutkan dalam “Al Mabsuuth”, oleh imam As Syaibaani, 3/56 :

وَأما الْمَرْأَة الْحرَّة الَّتِي لَا نِكَاح بَينه وَبَينهَا وَلَا حُرْمَة مِمَّن يحل لَهُ نِكَاحهَا فَلَيْسَ يَنْبَغِي لَهُ أَن ينظر إِلَى شَيْء مِنْهَا مكشوفا إِلَّا الْوَجْه … وَهَذَا قَول أبي حنيفَة

“Adapun wanita yang bukan istri dan bukan pula mahram, maka tidak halal bagi laki-laki untuk melihatnya tanpa hijab kecuali wajah dan telapak tangannya … Demikian pendapat dari imam Abu Hanifah rahimahullah.”.

Madzhab Maliki

Disebutkan dalam “Al Kaafi fi fiqhi ahlil madinah”, 1/238 ;

وأقل ما يجزئ المرأة الحرة ما يواريها كلها إلا وجهها وكفيها

“Batasan aurat yang wajib ditutupi oleh seorang wanita dan menjadi syarat sah shalatnya adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.”.

Madzhab Syafi'ie

Imam As Syafi’ie berkata, sebagaimana yang tercantum dalam “Al Umm”, 1/109 ;

وَكُلُّ الْمَرْأَةِ عَوْرَةٌ إلَّا كَفَّيْهَا وَوَجْهَهَا وَظَهْرَ قَدَمَيْهَا عَوْرَةٌ

“Seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali dua telapak tangan dan wajahnya. Dan bagian atas telapak kakinya juga adalah aurat.”.

Madzhab Hanbali

Disebutkan dalam Al Muqnie fi fiqhil imam Ahmad, 44 ;

والحرة كلها عورة إِلا الوجه. وفي الكفين روايتان

“Seluruh tubuh wanita merdeka adalah aurat kecuali wajahnya. Adapun kedua tepak tangannya, maka terdapat dua riwayat dari imam Ahmad (riwayat yang menyatakan bahwa kedua telapak tangannya adalah aurat dan riwayat yang menyatakan bahwa keduanya bukan aurat).”.

Demikianlah gambaran umum dari empat madzhab yang dikenal oleh seluruh kaum muslimin terkait dengan batasan aurat. Tidak satupun dari mereka yang menyatakan bahwa seorang wanita boleh menampakkan rambutnya (tidak mengenakan jilbab) ketika berhadapan dengan selain suami atau mahramnya.

Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata (Maraatibul Ijma’, Imam Ibnu Hazm, 29) ;

وَاتَّفَقُوا على أَن شعر الْحرَّة وجسمها حَشا وَجههَا ويدها عَورَة

Para ulama telah sepakat menyatakan bahwa rambut dan seluruh tubuh wanita adalah aurat, kecuali wajah dan telapak tangannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here