Bahaya Riba Bagi Kehidupan

Ibnu Qoyyim Al jauzi berkata, Tidaklah Allah mengharamkan suatu perkara  kecuali Karena didalam perkara tersebut ada keburukan dan membahayakan bagi kehidupan manusia, dan tidaklah Allah memerintahkan suatu perkara untuk dilakukan kecuali didalamnya terdapat kebaikan dan manfaat bagi manusia.

Salah satu hal yang diharamkan oleh Allah adalah melakukan perbuatan riba. sebagaimana firman Allah Ta’ala :

وَ أَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَ حَرَّمَ الرِّبَا

Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.(Al Baqarah :275)

Selain pelakunya terkena dosa besar, riba juga akan mengakibatkan dampak buruk dan membahayakan kehidupan manusia. Beberapa ahli ekonomi muslim telah menjelaskan beberapa bahaya riba bagi kehidupan manusia, yaitu :

Riba Merusak Sumber Daya Manusia ( SDM)

Sumber daya manusia adalah penggerak roda ekonomi di setiap negara. Maka bila dalam di suatu negara, semua transaksi ekonomi mengandung riba, akan rusaklah sumber daya manusia negara tersebut, dan bila sumber daya manusianya rusak, maka rusaklah negara tersebut.

Fakhruddin Ar Razi yang wafat tahun 606 H dalam tafsirnya mafaatih al Ghaib menjelaskan bagaimana peran riba dalam menciptakan manusia yang malas bekerja dan takut mengambil resiko mengembangkan hartanya. Ia berkata, “Allah telah mengharamkan riba karena riba menghalangi manusia untuk giat berusaha. Seorang pemilik dirham bila ia yakin akan meraih laba (keuntungan) dari akad riba dengan cara meminjamkan kepada pihak lain tanpa harus mengeluarkan keringat dan mengalami kerugian, tentu dia tidak akan mau bekerja. Karena ketika ia bekerja belum tentu akan mendapatkan laba (keuntungan) dan bahkan mungkin saja sebaliknya, yang ia dapatkan adalah kerugian. Hal ini pada akhirnya akan menyebabkan terhalanginya kemaslahatan umat manusia. Karena kemaslahatan dunia tidak akan berjalan dengan baik tanpa perdagangan, kerja, dan pembangunan. (Fakhruddin Ar Razi, Mafatih al Ghaib,jilid 2 hal 358).

Riba Penyebab Utama Terjadinya Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga-harga barang secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli sebuah mata uang.

Penyebab utama inflasi adalah riba, karena produsen yang mendapatkan modal dari pinjaman berbunga pasti akan menambahkan bunga yang harus dibayarnya kepada debitur (lembaga yang memberikan hutang) ke dalam harga produksinya, hingga harga jual barang yang diproduksi sama dengan biaya produksi ditambah bunga. (Dr Sulaiman Al Asyqar, Qodhaaya fiqhiyyah mu’ashiroh jilid 2 hal 61).

Jika suku bunga naik, secara langsung harga barang dan jasa akan naik sehingga daya beli mata uang menjadi turun. Ini yang dinamakan dengan inflasi, yang disebabkan oleh dorongan biaya produksi. Dan bila suku bunga turun maka permintaan kredit menjadi tinggi. Bank-bank pemberi kredit memberikan kredit jauh lebih besar dari fisik uang yang mereka miliki, maka bila jumlah uang lebih banyak dari barang yang ada terjadilah situasi yang dinamakan dengan inflasi, karena meningkatkatnya permintaan.( DR Abdullah Al Umrani Al Manfa’atu fil Qardh hal 449).

Ini membuktikan bahwa suku bunga yang hakikatnya adalah riba merupakan penyebab utama turunnya daya beli mata uang terhadap barang. Dengan turunnya daya beli mata uang maka seluruh uang negara tersebut akan berkurang nilai tukarnya. Misalnya seseorang yang memiliki uang satu juta rupiah dalam rentang waktu beberapa tahun ke depan nilai tukarnya akan turun menjadi 500 ribu rupiah walaupun nominalnya sama satu juta rupiah. Uang satu juta rupiah bisa membeli beberapa kebutuhan pokok seperti beras, minyak, telur, gula, kopi, gas, air minum gallon, dan lain sebagainya. Namun dengan sebab muamalah riba yang deras dilakukan oleh kum muslimin sendiri maka nilai satu juta menjadi turun karena harga-harga barang kebutuhan pokok tersebut melonjak tinggi. Mungkin inilah makna firman Allah,

يَمْحَقُ اللّهُ الرِّبَا

Allah memusnahkan harta riba secara (berangsur-angsur). (Al Baqarah : 276).

Kata *محق* dalam Bahasa arab berarti lenyap secara berangsur-angsur. Kondisi harta riba lenyap secara berangsur-angsur tepat sekali untuk gambaran inflasi, dimana daya beli uang berkurang secara berangsur disebabkan oleh riba. (DR Erwandi Tarmidzi, Harta Haram mu’amalat kontemporer hal 352).

Riba Merusak Hubungan Harmonis Sesama Manusia

Dalam Mausu’ah Iqtishadiyyah (ensiklopedi ekonomi) disebutkan bahwa riba memainkan peranan penting dalam kehancuran masyarakat terdahulu, dimana pemberi pinjaman tanpa belas kasih menyita kebun para penerima pinjaman jika mereka tidak mampu membayar hutang yang berlipat ganda karena ditambah dengan bunga. Jika harga kebun belum mencukupi untuk menutupi hutang yang sudah berlipat ganda itu maka mereka merampas hak kemerdekaan para peminjam dan menjadikan mereka budak yang diperjualbelikan.

Bilamana para penerima pinjaman tidak memiliki harta apapun sampai rumah dan kebunnya dirampas sehingga ia tidak memiliki penghasilan lagi untuk menafkahi keluarga, maka sangat mungkin bagi mereka menempuh jalan pintas yang tidak terhormat untuk bisa meyambung hidup mereka dan anak-anak mereka. Maka muncullah banyak tindakan kriminalitas, seperti pencurian, perampokan, dan begal dalam kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian hilanglah ketentraman dan rasa aman dalam masyarakat tersebut dan berganti menjadi ketakutan, penindasan, dan tidak jarang berakhir dengan pembunuhan.

 

 

✍️ Penulis : Ustadz Muhammad Mukhtar, Lc

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: