Beberapa Kekeliruan Ketika Ramadhan

Setiap kali Ramadhan tiba, sejuta harapan tentu ada dalam benak seorang mukmin. Ingin menjadi lebih baik dari Ramadhan yang telah lalu, demikianlah satu di antara harapan tersebut. Ramadhan memang menjanjikan berjuta harapan. Karena itulah akan sangat mirislah orang yang membuang kesempatan itu, menyia-nyiakannya, dan melakukan amalan yang justru akan mengurangi bagian yang seharusnya ia dulang atau bahkan memusnahkannya. Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda,

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَكَمْ مِنْ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan betapa banyak orang yang berdiri melaksanakan shalat di malam hari (tapi) tak memperoleh apa-apa melainkan (kantuk dan lelah) akibat begadang” (HR Ahmad).

Seluruh kesia-siaan yang didapatnya itu tak lain karena perbuatannya sendiri, menodai Ramadhan dengan melakukan hal yang sia-sia atau bahkan yang diharamkan. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Nah, berikut ini adalah beberapa kesalahan umum yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin khususnya di Indonesia pada saat Ramadhan.

  1. Menyambut dan mengisi Ramadhan dengan petasan, mengganggu orang dan kepentingan serta kenyamanan umum

Khususnya jika petasan itu diledakkan pada waktu-waktu istirahat, terlebih pada waktu-waktu shalat ketika orang-orang memerlukan keheningan agar dapat khusyuk dalam melaksanakan ibadah (shalat malam, baca Al-Qur’an, dll).

  1. Merasa sedih, malas, loyo, dan tidak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

Acapkali perasaan malas datang menghantui mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktivitas-aktivitas nonproduktif lainnya, sehingga ini berpengaruh pada produktivitas kerjanya yang cenderung menurun.

Asumsi ini adalah salah karena sesungguhnya puasa justru mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat, serta memiliki amanah dan kesadaran akan pegawasan Allah dalam sekecil apa pun tindakan kita.

Sejarah mencatat betapa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, tercapai di bulan Ramadhan.

Ketika berpuasa, peluang untuk korupsi air tatkala wudhu amatlah terbuka (berwudhu sambil minum sedikit), bahkan orang di samping pun tidak akan tahu. Namun, ternyata hal tersebut tidak dilakukan karena adanya kesadaran akan pengawasan Allah (muraqabatullah); dan tertanamnya rasa demikian itu pun adalah satu di antara kemenangan besar seorang muslim di bulan Ramadhan.

  1. Berpuasa terlebih dahulu dari waktu yang telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai langkah berjaga-jaga, seandainya ada kekeliruan dalam penetapan awal Ramadhan

Hal demikian tidaklah dibolehkan karena seseorang dalam melaksanakan puasa Ramadhan haruslah dengan niat yang tegas (yakin), yang tidak disertai dengan keraguan. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda,

لَا يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمَهُ فَلْيَصُمْ ذَلِكَ الْيَوْمَ

“Janganlah sekali pun seorang dari kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika hari itu bertepatan dengan puasa sunnah yang telah dijalankannya secara rutin, maka tidak mengapa ia berpuasa ketika itu.” (HR Bukhari)

  1. Berpuasa tapi tidak melaksanakan shalat fardhu lima waktu

Ini penyakit yang—diakui atau tidak—menghinggapi sebagian umat Islam. Mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal, shalat dan puasa termasuk rangkaian yang tak terpisah, alias satu paket dalam rukun Islam, sehingga konsekuensinya, bila salah satunya dilalaikan, akan berakibat gugurnya predikat mukmin dari dirinya. Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلَاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَر

“Ikatan yang membedakan kami (kaum muslimin) dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR Ahmad)

  1. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

Kebiasaan ini biasanya menimpa sebagian umat yang tidak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat balas dendam atas segala keterkekangan yang membatasi mereka selama dua belas jam sebelumnya. Tingkah mereka tidak ubahnya anak kecil yang baru belajar puasa kemarin sore. Mereka tidak juga dewasa dan memahami bahwa esensi dari puasa adalah latihan pengendalian diri. Lantas jika pada akhirnya mereka menjadikan waktu berbuka sebagai ajang balas dendam, mungkinkah dinyatakan bahwa mereka itu berhak meyandang predikat lulus dalam ajang latihan pengendalian diri?

  1. Berpuasa tapi juga melakukan maksiat

Esensi puasa sebagaimana yang telah dipahami adalah latihan menahan diri. Tidak hanya dari aktivitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari. Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.

Hasil yang ingin dicapai selama masa training ini sesungguhnya adalah munculnya generasi yang mampu menahan pandangan liarnya, mampu menahan lisan, dan mampu menahan diri dari sesuatu yag tidak halal dilakukannya.

Oleh karena itu, Allah mengingatkan seorang yang berpuasa, tetapi tidak juga mau meninggalkan perbuatan maksiat yang dilakukannya. Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).” (HR Abu Daud)

  1. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh; sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib.

Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 5 sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari: “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo.”

Hal lain yang biasanya menyebabkan seorang lalai dari shalat subuh adalah jadwal makan sahur mereka yang terlalu cepat, yang menyebabkan panjangnya rentang waktu antara usainya mereka dari sahur dan awal waktu subuh. Lamanya rentang waktu inilah yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk tidur kembali, dan akhirnya terlelap hingga tidak melaksanakan shalat subuh pada waktunya. Padahal, waktu terbaik bersantap sahur adalah di akhir waktu. Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa rentang waktu akhir sahur Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam dengan awal pelaksanaan shalat subuh adalah kurang lebih selama bacaan 50 ayat Al-Qur’an (HR Bukhari). Riwayat ini setidaknya mengisyaratkan dua hal, yaitu kadar makanan mereka pada saat sahur tidak banyak dan waktu sahur mereka adalah di akhir waktu malam. Waktu inilah sebenarnya yang sesuai dengan makna “sahar” secara bahasa, yaitu waktu menjelang subuh.

Membahas masalah sahur, hal yang juga perlu dikritisi adalah kebiasaan membangunkan sahur ala Indonesia. Gebrak-gebruk pukul 02.00. Laahaula wa laa quwwata illa billah. Sungguh memprihatinkan keadaan mereka yang lagi sakit dan butuh istirahat, bayi yang tiba-tiba saja terkaget dari tidur mereka, orang-orang yang lagi beribadah dan sangat membutuhkan keheningan malam. Belum lagi jika yang dijadikan sarana untuk membagunkan ala mereka itu adalah speaker masjid … innalillahi wa inna ilaihi raaji’un. Hal-hal demikian, di luar Ramadhan tentu tidak akan ditoleransi karena mengganggu kepentingan umum. Janganlah kita menjadikan Ramadhan sebagai media atau tameng untuk melegalkan hal-hal yang mengganggu kepentingan umum tersebut. Sesungguhnya Islam yang merupakan rahmat bagi seluruh alam berlepas diri sejauh-jauhnya dari seluruh hal yang dapat mendatangkan dampak buruk bagi alam.

Hal lain yang juga ada di negara kita ini adalah kalau dahulu orang-orang memanfaatkan waktu mereka setelah usai bersantap sahur dengan membaca Al-Qur’an—dengannya para sahabat mengetahui rentang waktu antara akhir sahur mereka bersama Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- dan awal waktu subuh, yaitu kurang lebih 50 ayat bacaan al Quran—generasi sekarang memanfaatkan rentang waktu itu dengan menonton hiburan khas bersantap sahur, baik berupa tayangan musik, gosip selebriti, lawak, dan berbagai tayangan konyol lainnya yang sangat kontra dengan nilai-nilai puasa yang hendak mereka jalankan, wal ‘iyaadzu billah. Itulah “zikir” generasi sekarang mengawali hari-hari puasa mereka. Lantas apa lagi yah “zikir” mereka menjelang petang? Ternyata “zikir” mereka lagi-lagi adalah hiburan menanti buka puasa. Demikianlah generasi kita dicekoki oleh racun pemikiran yang sangat mematikan. Wa hasbunallahu wa ni’ma al wakiil.

Masih seputar sahur, kebanyakan orang—khususnya di negara ini—masih saja memahami waktu imsak, sebagaimana yang diistilahkan secara popular, sebagai waktu awal diharamkannya makan dan minum. Pemahaman ini adalah pemahaman yang salah karena awal waktu diwajibkannya puasa sesungguhnya adalah ketika fajar telah terbit dan bersamaan dengan masuknya waktu shalat subuh. Allah berfirman,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْر

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (Albaqarah:187)

  1. Masih tidak merasa malu membuka aurat (muslimah)

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, istikamah dan tekad kuat untuk melakukan reformasi diri, diharapkan dapat menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang.

Menutup aurat bagi wanita, misalnya, akan lebih mudah direalisasikan di bulan Ramadhan daripada di luar bulan tersebut. Jadi, hendaknya setiap kita menjadikan Ramadhan ini sebagai momentum perubahan.

  1. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Salah satu faktor yang mendasari munculnya fenomena ini adalah merebaknya sebuah hadis lemah yang disandarkan pada Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam yang artinya adalah “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” (Silsilah Al Ahaadiits Ad Dhaifah). Hadits ini tidak saja tertolak dari sisi jalur periwayatan, pun bila dicermati tertolak dari sisi matannya atau makna redaksinya. Seluruh aktivitas manusia sesungguhnya bisa bernilai ibadah, kapan pun dilaksanakan. Termasuk tidur, jika dilakukan sesuai dengan adab yang diajarkan oleh Islam dan diniatkan untuk memperkuat diri dan memperbaharui semangat dalam beribadah kepada Allah. Namun, jangan pula terlupakan, bahwa seluruh aktivitas mereka, pun dapat bernilai dosa, jika dilakukan secara tidak proporsional menurut kacamata syariat. Nah, bagaimanakah jika seorang tidur semenjak lepas sahur hingga dekat zuhur, bangun sejenak, dan lantas lanjut lagi hingga dekat waktu berbuka puasa, akankah tidur model ini dinilai sebagai sebuah ibadah?

  1. Menjadikan shalat tarwih sebagai alasan keluar rumah dan mejeng dengan atau mencari pasangan

Shalat tarwih secara berjamaah adalah satu di antara syiar Ramadhan. Sungguh naif jika momen yang berkah ini justru dimanfaatkan untuk melakukan maksiat kepada Allah. Ingat bahwa salah satu yang menjadikan dosa seorang itu menjadi lebih besar di sisi Allah, yaitu ketika dilakukan pada momen-momen, tempat-tempat, atau berkenaan dengan benda-benda yang disucikan oleh agama. Sebagai contoh, penistaan Al-Qur’an, tidaklah akan sama dosanya dengan penistaan terhadap literatur-literatur buatan manusia meskipun keduanya adalah tindak kejahatan.

Khusus bagi saudariku para muslimah, Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda tentang sebaik-baik tempat shalat buat Anda,

لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian larang para wanita untuk turut menghadiri jamaah di masjid. Namun, rumah-rumah mereka adalah tempat yang lebih baik bagi mereka untuk melaksanakan shalat.” (HR Abu Daud). Hadis tentang bolehnya wanita keluar untuk melaksanakan shalat di masjid ini berlaku bagi para wanita yang keluar dari rumah-rumahnya dalam keadaan aman dari fitnah, baik yang bersumber dari mereka dan yang dikhawatirkan akan menimpa mereka. Bagi mereka yang keluar dengan memakai mukena yang siap untuk ditanggalkan dan digantikan dengan busana mejeng dengan segala asesorisnya, lengkap dengan wangi parfum yang sangat memikat, maka bagi mereka, tentu hadis di atas tidak berlaku, bahkan Allah peringatkan mereka,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى (الأحزاب :33)

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu.” (Al-Ahzab: 33). Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ

“Siapa saja wanita yang memakai parfum, maka janganlah ia melaksanakan shalat berjamaah bersama kami (para lelaki).” (HR Muslim). Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

لَوْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَأَى مَا أَحْدَثَ النِّسَاءُ لَمَنَعَهُنَّ الْمَسْجِدَ كَمَا مُنِعَتْ نِسَاءُ بَنِى إِسْرَائِيلَ.

“Sekiranya saja Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam menyaksikan perilaku wanita-wanita saat ini ketika keluar dari rumah-rumah mereka, niscaya beliau akanlah melarang mereka untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid sebagaimana dahulu para wanita bani Israil dilarang untuk menghadirinya.” (HR Muslim). Demikian yang beliau deskripsikan tentang wanita-wanita di zaman beliau, lalu bagaimana dengan wanita-wanita di zaman sekarang?

  1. Masih sering meninggalkan shalat fardhu lima waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan (bagi laki-laki muslim)

Sebuah fenomena yang sangat menggembirakan di awal Ramadhan adalah penuh sesaknya masjid dengan para jamaah. Namun, hal yang sangat disayangkan bahwa ternyata fenomena baik ini biasanya hanya bertahan hingga 10 hari awal di bulan mulia itu. Selanjutnya mengalami penyusutan hingga pada 10 akhir Ramadhan, dan masjid pun seakan kembali seperti asalnya, kosong melompong, ditinggal para jamaahnya, yang tengah “hijrah” ke berbagai pusat belanja dan pertokoan. Sekali lagi, fenomena ini membuktikan betapa banyak orang yang masih saja memahami agama ini secara parsial (setengah-setengah), dan tidak utuh, sedangkan Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّة (البقرة : 208)

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan.” (Albaqarah: 208).

12. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, membuat cemilan, dan masak-masak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, padahal pada hari-hari itulah seorang seharusnya lebih giat dalam beribadah dan berburu pahala.

Demikian beberapa contoh dari hal-hal keliru yang banyak dilakukan oleh muslimin berkenaan dengan Ramadhan. Semoga dengan mengetahuinya akan menjadikan kita lebih mawas diri dan lebih baik dalam memanfaatkan setiap waktu di bulan mulia tersebut. Tidak malah menjadikan Ramadhan ibarat fatamorgana, begitu menggiurkan, dan menebar harapan, tetapi seketika akan menjadi hampa dan buyar tatkala ada di hadapan mata. Wallahul musta’an wahuwa waliyyu at taufiq.

You may also like...

%d bloggers like this: