Beberapa Masalah di Luar Wilayah Kewenangan Akal

    0
    174

    Satu diantara sifat Allah adalah Maha Bijak dalam seluruh ketetapan Nya. Tidak satupun ketetapan Nya, melainkan ada hikmah dibalik ketetapan itu.

    Diantara hikmah tersebut ada hikmah yang nampak, dapat dianalogikan, dan dapat disaksikan secara indrawi.

    Namun di antara ketetapan itu, ada juga jenis ketetapan yang tujuan penetapannya tidak mungkin dapat dianalogikan oleh akal manusia yang terbatas. Tidak dipahami maksud dari penetapannya kecuali sebagai ujian bagi hamba akan ketaatan mereka dalam menjalankan ketetapan tersebut dan atau mengimani ketetapan itu.

    Bila pada jenis yang pertama terdapat ruang bagi para ulama untuk berijtihad, maka pada jenis yang kedua tidak ada ruang bagi akal manusia untuk mengutak-atiknya.

    Mana saja tetapan yang masuk dalam lingkup jenis pertama (masalah-masalah agama yang berada di luar wilayah kewenangan akal) ?

    Ibadah

    Ibadah ditinjau dari sisi hikmah yang mendasarinya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu;

    1. Ibadah-ibadah yang bersifat ta’abbudiyyah adalah jenis ibadah yang tidak diketahui sebab disyari’atkannya melainkan semata merupakan bentuk syari’at agama yang wajib diimani dan dijalankan. Contoh; penentuan jumlah rakaat shalat, nominal harta yang wajib dizakati, besaran kepemilikan harta waris, dan yang semisal.
    2. Jenis ibadah yang dipahami sebab disyari’atkannya (mu’allal). Contohnya adalah perintah mencuci tangan di luar bejana sebelum mencelupkannya ke dalam bejana tersebut bagi seorang yang baru bangun dari tidur.

    Dari penjelasan ini diketahui bahwa ibadah yang bersifat ta’abbudiyyah bukanlah merupakan tetapan agama yang boleh untuk diutak-atik. Olehnya, jenis ibadah ini tidak boleh diqiyaskan untuk menjadi landasan hukum bagi ibadah jenis lain, kecuali ada dalil lain yang mengakomodirnya. Penjelasan ini selanjutnya dirangkum dalam sebauh kaidah fiqhiyyah yaitu;

    لا قياس في العبادات

    “Qiyas tidak berlaku pada ibadah-ibadah (yang bersifat ta’abbudiyyah).”.

    Perlu diketahui bahwa maksud dari penafian qiyas dalam ibadah-ibadah ta’abbudiyyah adalah qiyas yang dilakukan pada asal ibadah, misalnya qiyas ibadah shalat dengan ibadah haji. Qiyas semacam ini tidak dibenarkan kecuali ada keterangan lain yang kuat menjadi pendukung benarnya qiyas tersebut.

    Namun jika qiyas itu dilakukan pada cabang ibadah, maka hukumnya adalah boleh. Contohnya penetapan hukum boleh bertayammum untuk melaksanakan shalat sunnah (cabang ibadah) diqiyaskan dengan syari’at bertayammum untuk melaksanakan shalat wajib bagi mereka yang tidak mendapatkan air (asal ibadah). Contoh lain; Keringanan melaksanakan shalat jamak karena salju atau udara dingin yang mencekam (cabang ibadah) diqiyaskan dengan keringanan melaksanakannya karena alasan hujan (asal ibadah).

    Kesimpulannya bahwa hukum asal yang berlaku antara sebuah ibadah ta’abbudiyyah dengan ibadah lain adalah tidak diqiyaskan. Namun jika qiyas diberlakukan antara asal ibadah dengan cabang ibadah, maka diperbolehkan –tentu- jika terpenuhi ketentuan-ketentuan bolehnya pemberlakuan qiyas.

    Nama dan Sifat-Sifat Allah

    Secara umum, seluruh perkara ghaib adalah milik Allah. Tidak ada yang mengetahuinya, melainkan Ia sendiri Nya.

    Diantara perkara ghaib adalah persoalan nama dan sifat Allah. Bukan wilayah akal siapapun untuk bisa mengetahuinya. Seluruh hal itu masuk dalam kewenangan mutlak Allah; baik dengan disampaikannya sendiri dalam kitab-Nya atau dengan melalui penjelasan dan penjabaran Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Imam al Qaraafi -rahimahullah- berkata;

    الْأَصْلُ فِي أَسْمَاءِ اللَّهِ تَعَالَى الْمَنْعُ إلَّا مَا وَرَدَ السَّمْعُ بِهِ … فَإِنَّ مُخَاطَبَةَ أَدْنَى الْمُلُوكِ تَفْتَقِرُ إلَى مَعْرِفَةِ مَا أَذِنُوا فِيهِ مِنْ تَسْمِيَتِهِمْ وَمُعَامَلَتِهِمْ حَتَّى يَعْلَمَ إذْنَهُمْ فِي ذَلِكَ فَاَللَّهُ تَعَالَى أَوْلَى بِذَلِكَ وَلِأَنَّهَا قَاعِدَةُ الْأَدَبِ وَالْأَدَبُ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى مُتَعَيِّنٌ لَا سِيَّمَا فِي مُخَاطَبَاتِهِ

    “Asal yang berlaku (bagi penetapan dan penafian) nama-nama Allah adalah tidak boleh kecuali jika ada keterangan (yang benar) dari Allah dan Rasul-Nya … Sesungguhnya untuk berbicara (berdialog) pada raja-raja yang terendah sekalipun harus dengan mengetahui panggilan apa yang mereka izinkan untuk diri mereka. Dengan panggilan tersebut, orang-orang memanggil dan berinteraksi dengan mereka. Bila hal itu berlaku ditataran raja dengan masyarakat, maka tentu demikianlah juga yang (wajib) berlaku dalam interaksi antara makhluk dan penciptanya. Hal itu adalah bagian dari adab tatakrama. Dan beradab ketika berdialog (munajat) dengan Allah adalah hal yang lebih wajib ditegakkan.”[ Anwaar al Buruuq fi Anwaa’i al Furuuq, 5 /64]. Allah berfirman;

    وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”. (al Israa’; 36)

    Demikianlah perkara-perkara yang berada di luar wilayah kewenangan akal untuk melakukan ijtihad di dalamnya. Olehnya, wajib bagi setiap orang yang cerdas untuk berusaha memelihara kecerdasannya. Diantaranya dengan tidak merusak akalnya dengan tetap berusaha menerobos wilayah yang tidak akan pernah mampu diterobos oleh akal siapapun makhluk.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here