Berbicara Antara Adzan dan Qamat

    0
    120

    Menjaga kekhusyuan dalam shalat dan melakukan hal-hal atau persiapan-persiapan penunjang untuk khusyu adalah hal yang diperintahkan. Olehnya,

    *) Agama memerintahkan bagi yang berhajat untuk buang air atau makan agar menyelesaikan hajatnya terlebih dahulu sebelum shalat

    *) Agama melarang shalat di depan gambar yang dapat mengganggu konsentrasi dalam shalat

    *) Agama melarang terburu-buru (berlari-lari) untuk mendapatkan shalat berjamaah

    Termasuk dalam rangkaian persiapan penunjang itu adalah menjaga kondusifitas (ketenangan dan kenyamanan) di dalam masjid. Karena itu maka melakukan kegaduhan, berisik dan yang semacamnya adalah hal yang terlarang ketika telah berada di masjid, terlebih pada interval waktu antara adzan dan qamat.

    Adapun melakukan pembicaraan yang bermanfaat atau tidak mengganggu dan merusak kondusifitas tersebut, maka tidaklah mengapa. Diantara alasannya;

    *) Tidak ada keterangan shahih berisi larangan berbicara antara adzan dan qamat

    *) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara antara adzan dan qamat mengingatkan para sahabat agar merapatkan, meluruskan dan menyempurnakan shaf.

    Imam Nawawi rahimahullah;

    مَذْهَبُنَا وَمَذْهَبُ الْجُمْهُورِ مِنْ أَهْلِ الْحِجَازِ وَغَيْرِهِمْ جَوَازُ الْكَلَامِ بَعْدَ إقَامَةِ الصَّلَاةِ قَبْلَ الْإِحْرَامِ لَكِنَّ الْأَوْلَى تَرْكُهُ إلَّا لِحَاجَةٍ

    “Madzhab kami dan madzhab mayoritas ulama Hijaz serta yang lainnya menyatakan bolehnya berbicara antara adzan dan qamat. Namun demikian, lebih baik meninggalkannya kecuali jika ada keperluan dalam pembicaraan tersebut.”. (Al Majmu’, 4/277)  

       

    Lihat di link ini , link ini dan link ini