Berdamai dan Raihlah Keutamaan

    0
    320
    Pertanyaan :

    Bagaimana mendamaikan dua orang yang tengah berselisih (keduanya masih dalam ikatan keluarga) karena salah satu dari keduanya telah mempermalukan yang lain di depan banyak orang. Pihak yang dipermalukan telah berusaha damai namun pihak yang mempermalukan terkesan masa bodoh dan tidak menunjukkan respon balik yang positif ?

    Jawaban :

    Menjaga kehormatan seorang muslim adalah satu diantara inti ajaran agama. Satu diantara hal yang dapat mencoreng kehormatan seorang muslim adalah mempermalukannya di depan umum tanpa ada alasan yang dibenarkan dalam agama. Olehnya perbuatan tersebut adalah haram.

    Selanjutnya, tindakan berdamai (ishlaah) yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berselisih adalah hal yang sangat dianjurkan dalam agama. Orang yang melapangkan hati untuk memaafkan orang yang bersalah kepadanya adalah seorang yang memiliki kedudukan istimewa di sisi Allah. Demikian juga pihak-pihak yang menjadi inisiator dari perdamaian itu adalah orang-orang yang istimewa di hadapan Allah. Allah berfirman :

    وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

    “Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. (An Nuur; 22).

    وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (133) الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

    “Dan bersegeralah menuju pengampunan dari Rabb kalian dan juga surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk hamba-hambaNya yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfaq pada saat lapang dan sempit, mampu menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.”. (Q.S.Ali Imron : 133-134)

    لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

    “Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (orang) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”. (An Nisaa’; 114)

    Dengan memahami ayat-ayat ini, hendaknya ada diantara pihak yang berselisih berinisiatif untuk melakukan upaya damai tersebut, bahkan meski ia harus mengabaikan beberapa hak pribadinya yang mungkin untuk diabaikan. (Baca di : https://albinaamenyapa.net/memilih-untuk-tetap-berada-dalam-pusaran-kebaikan/ )

    Dengan melakukan inisiatif tersebut dan dengan menunjukkan keinginan kuat untuk menyudahi pertikaian itu diharapkan Allah akan meluluhkan hati orang yang belum juga menerima atau merespon secara baik keinginan untuk ishlaah ini. Allah berfirman :

    ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

    “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia.”. (Fusshilat; 34)

    Demikian juga bagi pihak ketiga yang mengendus adanya pertikaian tersebut hendaknya ia berupaya menengahinya. Allah berfirman tentang mereka yang berupaya menengahi pertikaian saudaranya, “Barangsiapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”. (An Nisaa’; 114). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَفْضَلَ مِنْ دَرَجَةِ الصِّيَامِ وَالصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ؟. قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ: إِصْلَاحُ ذَاتِ الْبَيْنِ

    “Maukah kalian aku kabari akan sebuah amalan yang memiliki derajat lebih utama dari puasa, shalat dan sedekah ?”. Para sahabat berkata; “Ia kami mau mengetahuinya wahai Rasulullah.”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “mendamaikan pihak yang bertikai.”. (HR. Abu Daud). Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan membolehkan seorang untuk menyampaikan hal-hal positif yang tidak faktual yang dinyatakannya bersumber dari satu pihak yang bertikai ke pihak lainnya dengan tujuan untuk mendamaikan. Dan hal tersebut oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah dinyatakan sebagai bentuk kebohongan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    لَمْ يَكْذِبْ مَنْ نَمَى بَيْنَ اثْنَيْنِ لِيُصْلِحَ

    “Bukanlah masuk dalam kategori dusta seorang yang menyebutkan hal-hal positif (yang tidak faktual) kepada pihak-pihak yang bertikai, jika dilakukan untuk mendamaikan mereka.”. (HR. Abu Daud)

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here