Berdoa Dengan Bahasa Indonesia Ketika Sholat

    0
    84
    Pertanyaan :

    Apakah hukum berdoa dengan selain bahasa Arab di dalam sholat, seperti ketika sujud ?. Jazakumullahu khairan

    Jawaban :

    Doa adalah satu diantara ibadah agung di sisi Allah. Doa adalah satu diantara pintu rahmat Allah, Ia perintahkan sebagai jalan bagi hamba untuk mengadu dan memohon apa saja yang ia inginkan kepada-Nya.

    Di sisi lain, hamba adalah sosok yang lemah. Betapa banyak keinginan dan harapannya. Namun sekali lagi, mereka adalah sosok yang lemah. Pada titik itulah nampak kebutuhan hamba kepada Dzat Yang Maha Berkuasa.

    Diantara kelemahan manusia adalah ketidakmampuan banyak dari mereka berbahasa Arab. Olehnya, perintah berdoa di dalam Al Quran, Allah nyatakan secara mutlak dan tidak membatasinya harus berbahasa Arab.

    Disamping perintah berdoa, agama juga memberi petunjuk tentang waktu-waktu mustajabah (utama) untuk mengajukan doa dan permintaan itu. Satu diantara waktu tersebut adalah ketika sujud, pada saat shalat.

    Saat itu, tentu merupakan kesempatan emas bagi mereka yang memiliki masalah untuk mengajukan permohonannya kepada Allah. Diantara mereka ada yang mampu dan merasa cukup dengan doa-doa global yang disebutkan di dalam Al Quran dan sunnah; itulah yang terbaik dipanjatkannya ketika berdoa, pada saat sujud.

    Diantara mereka ada golongan yang paham bahasa Arab, namun mereka tidak mendapatkan doa dari Al Quran dan sunnah, yang sesuai dengan harapan dan keinginan yang hendak ia keluhkan dan pinta secara lebih spesifik kepada Allah. Di saat itu, mereka panjatkan doanya dalam bahasa Arab, tidak sebagaimana doa yang ada contohnya dalam Al Quran maupun sunnah; demikianlah tingkatan kedua dari doa yang dipanjatkan ketika sujud dalam shalat.

    Diantara golongan manusia, ada juga yang tidak menghafal doa dari Al Quran maupun sunnah, dan tidak juga mampu membahasakan keinginan dan harapannya dalam bahasa Arab. Golongan demikian, meski sebagian ulama memandang makruh berdoa dengan selain bahasa Arab ketika shalat, bahkan sebagiannya lagi menganggapnya sebagai pembatal shalat; namun pendapat yang lebih tepat –wallahu a’lam- bahwa mereka tetap dianjurkan berdoa di waktu mustajab itu (meski tidak dengan bahasa Arab); dan spesifikasi doa seperti ini berada pada tingkatan terendah dari tingkatan doa yang dipanjatkan ketika sujud. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

    والدعاء يجوز بالعربية وبغير العربية ، والله سبحانه يعلم قصد الداعي ومراده ، وإن لم يقوم لسانه ، فإنه يعلم ضجيج الأصوات باختلاف اللغات على تنوع الحاجات

    Berdoa diperbolehkan dengan menggunakan bahasa arab dan selain bahasa arab. Dan Allah Ta’ala Maha Mengetahui apa yang menjadi maksud dan keinginan orang yang berdo’a, meskipun lisannya tidak begitu baik (mengucapkan kata-kata dalam do’anya) maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui kebisingan suara (dari doa yang ia panjatkan) dengan menggunakan bahasa yang bermacam-macam untuk mengungkapkan kebutuhan yang beragam pula. (Majmu’ Fatawa, Jilid 22 hal.488-489). Di tempat lain, Beliau berkata;

    فَأَمَّا الدُّعَاءُ فَلَمْ يُوَقِّتْ فِيهِ لَفْظٌ؛ لَكِنْ كَرِهَهُ أَحْمَد بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ فَالْمَرَاتِبُ ثَلَاثَةٌ. الْقِرَاءَةُ وَالذِّكْرُ وَالدُّعَاءُ بِاللَّفْظِ الْمَنْصُوصِ ثُمَّ بِاللَّفْظِ الْعَرَبِيِّ فِي مَعْنَى الْمَنْصُوصِ ثُمَّ بِاللَّفْظِ الْعَجَمِيِّ. فَهَذَا كَرِهَهُ أَحْمَد فِي الصَّلَاةِ وَفِي الْبُطْلَانِ بِهِ خِلَافٌ

    “Adapun doa, maka tidak harus dengan lafadz tertentu. Hanya saja, imam Ahmad memakruhkan doa selain dengan bahasa Arab. Olehnya maka tingkatan bacaan, dzikir dan doa yang dipanjatkan ada tiga, yaitu;

    *) Yang dipanjatkan sesuai dengan teks yang dicontohkan dalam nash (Al Quran maupun sunnah)

    *) Yang dipanjatkan tidak sesuai dengan teks yang dicontohkan dalam nash, namun memiliki kesamaan makna dan dipanjatkan dalam bahasa Arab.

    *) Yang dipanjatkan tidak dengan bahasa Arab.

    Untuk tingkatan yang terakhir ini; imam Ahmad menyatakannya makruh jika dipanjatkan dalam shalat; dan terhadap batal tidaknya shalat orang yang berdoa di dalamnya dengan menggunakan selain bahasa Arab, ada perbedaan pendapat di kalangan ulama.”. (Majmu’ Fatawa, Jilid 22 hal.477)

    Memahami uraian di atas, maka yang terbaik adalah berusaha mencari do’a-do’a yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan As Sunnah dan membacanya berulang-ulang. Jika belum hafal, maka berusahalah untuk menghafalkannya, dimulai dari do’a-do’a yang pendek, singkat dan mudah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Selanjutnya, berusahalah mempelajari bahasa Arab agar tidak masuk dalam wilayah yang diperselisihkan berkenaan dengan masalah yang ditanyakan.

    Wallahua’lam

    ✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc
    
    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa