Berdusta Mengatasnamakan Agama

Wilayah penentuan hukum agama terhadap perilaku manusia adalah wilayah prifat Allah dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Nya di muka bumi ini. Olehnya tidak seorang pun boleh menyatakan dan melekatkan hukum agama tersebut kecuali dengan dalil yang disebutkan Allah atau disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman;

وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ_القصص: 70

“Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nya-lah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nya-lah segala hukum dan ketetapan dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”. (al Qashash; 70)

Sering kita mendapatkan edaran pesan berantai yang berisi nasehat atau motivasi. Diantara edaran itu adalah “Jika selangkah wanita baligh keluar tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya akan masuk ke neraka.”. Meski mungkin bertujuan baik, tetapi ketika isi BC itu memuat informasi surga dan neraka, yang merupakan merupakan wilayah prifasi Allah, maka tentu harus valid bersumber dari Allah dan Rasul Nya. Tidak boleh mendustakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih firman Allah dengan dalih untuk memberi motivasi dan dorongan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;    

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا، فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa yang sengaja berdusta dengan mengatasnamakan diriku maka hendaklah dia menyiapkan tempat duduknya dari neraka.”. (HR. Bukhari dan Muslim)  

Olehnya, jika seorang mendapatkan pesan dengan sanad atau sumber yang tidak jelas seperti yang disebutkan, maka tidak boleh membaginya hingga ia mendapat kejelasan dari para ulama akan validitas berita tersebut.

Terlebih bahwa ternyata isi dari pesan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menyatakan bahwa seorang itu tidak akan dibebankan untuk menanggung dosa orang lain, kecuali -tentunya- jika orang itu yang memerintahkan, mengajar, berwasiat atau memprovokasi orang lain itu untuk melakukan sebuah perbuatan dosa. Allah berfirman;

وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”. (al An’aam; 164)

You may also like...

%d bloggers like this: