Berinfak Dari Harta Suami Tanpa Sepengetahuannya

    0
    42

    Pertanyaan :

    Bolehkah seorang istri berinfak dari harta suaminya tanpa izin atau melebihkan infak dari nominal yang diizinkan oleh suami ?.

    Jawaban :

    Asal yang berlaku berkenaan dengan harta seseorang adalah sebagaimana yang disabdakan Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam-;

    لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ إِلَّا بِطِيبِ نَفْسٍ مِنْهُ

    “Tidak halal harta seorang bagi yang selainnya kecuali dengan keikhlasan hati orang itu.”. (HR. Ahmad). Maka –wallahu álam- berdasarkan asal yang berlaku inilah seorang sahabat wanita pernah datang bertanya kepada Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam-, “Bolehkah ia mengambil harta suaminya untuk keperluan diri dan anaknya tanpa sepengetahuan suaminya –mengingat bahwa sang suami tidak memberikan nominal yang cukup buatnya- ?.”. Ketika itu, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

    خُذِي مَا يَكْفِيكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوفِ

    “Ambillah sejumlah yang cukup untuk keperluanmu dan keperluan anakmu.”. (HR. Bukhari).

    Selain asal yang telah disebutkan, asal lainnya bahwa seorang istri wajib taat kepada suaminya pada hal-hal yang tidak melanggar syariát agama. Termasuk didalamnya jika suaminya membatasi nominal tertentu untuk disedekahkan.

    Olehnya, bertolak dari dua asal yang telah disebutkan, seorang wanita tidaklah dibenarkan untuk mengambil nominal lebih dari apa yang telah diizinkan oleh sang suami. Menguatkan penegasan ini adalah riwayat Abu Umamah, ia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda ketika Beliau berkhutbah pada pelaksanaan haji wada;

    لا تنفق امرأة شيئا من بيت زوجها إلا بإذن زوجها قيل يا رسول الله ! ولا الطعام قال ذاك أفضل أموالنا

    “Tidak diperbolehkan bagi perempuan muslimah menginfakkan sesuatu dari rumah suaminya, kecuali dengan seizinnya. Kemudian ditanyakan kepada Beliau, “Wahai Rasulullah, termasuk juga makanan?.”. Beliau menjawab; “Itu merupakan harta kita yang berharga.” (HR Tirmidzi).

    Dikecualikan dari seluruh keterangan ini, satu keadaan, yaitu ketika sang istri mengetahui secara benar bahwa sang suami ridha, tidak akan marah, atau bahkan justru akan senang jika hartanya digunakan untuk infak. Dan selama hal tersebut tidak membawa mudharat bagi rumah tangga mereka. Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- bersabda;

    إِذَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ كَسْبِ زَوْجِهَا عَنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِهِ

    “Apabila seorang wanita menginfakkan harta suaminya tanpa perintah (tanpa sepengatahuan) dari sang suami, maka sang suami mendapat setengah pahalanya.”. (HR. Bukhari).