Bersabar Dalam Kondisi Sulit

    0
    892

    Di sebuah rumah sakit, ada beberapa pasien membentak para dokter yang dalam asumsi mereka telah salah menyampaikan analisa terhadap keadaan kesehatan mereka. Mereka membentak, mencaci dan mengatakan bahwa para dokter itu tidak paham, dan meminta mereka berhenti dari profesinya sebagai dokter; karena analisa yang mereka sampaikan ternyata berbeda dengan asumsi mereka.

    Paparan singkat di atas sedikit tidaknya mewakili realita yang terjadi di negeri kita ini. Terjadi pada beberapa oknum saudara kita yang in sya Allah memiliki semangat beragama yang baik, namun kurang ditopang oleh keilmuwan yang benar terhadap agama.

    Ketika para ulama menyerukan penghentian sementara shalat berjama’ah di masjid karena dasar ilmu yang mereka miliki tentang sikap beragama yang benar dalam menghadapi masa pandemi, sebagian saudara kita berdasarkan semangat dan asumsi mereka justru membantah itu, membentak, mencaci dan mengatakan bahwa para ulama itu tidak paham, serta meminta mereka untuk berhenti dari profesinya sebagai ulama, imam atau da’i.

    Tentu kejadian ini sangat disayangkan karena sedikit tidaknya memberikan gambaran tentang lemah dan minimnya wawasan keagamaan sebagaian dari saudara kita di negeri kita ini;

    • Lemhanya wawasan keagamaan mereka tentang sikap mereka terhadap ulama
    • Lemahnya wawasan dan kesadaran keagamaan mereka tentang kewajiban menjadikan ulama sebagai rujukan beragama
    • Lemahnya wawasan dan kesadaran keagamaan mereka bahwa Islam memerintahkan untuk taat kepada pemerintah
    • Lemahnya wawasan dan kesadaran keagamaan mereka bahwa Islam memerintahkan untuk merujuk kepada otoritas yang memiliki spesialisasi keilmuwan dalam bidangnya masing-masing.

    Untuk itu, pada rubrik kali ini, akan dinukilkan beberapa fatwa ulama berkenaan dengan disyari’atkannya penghentian sementara shalat berjama’ah di masjid hingga masa pandemi dinyatakan berakhir oleh pemerintah. Termasuk di dalamnya, pelaksanaan shalat Jum’at, shalat tarwih dan shalat I’ed yang keduanya tidak lama lagi akan kita jalani. Semoga Allah segera mengangkat wabah ini dari negeri kita agar kita dapat kembali melaksanakan aktivitas kita secara normal.

     

    Fatwa terkait dengan penghentian sementara shalat jama’ah dan shalat jum’at di masjid

    Otoritas perkumpulan para ulama besar dalam pertemuan khusus ke-24 yang dilaksanakan di kota Riyad pada hari Rabu bertepatan pada tanggal 16/7/1441H telah melihat apa yang disodorkan terkait dispensasi tidak menghadiri shalat jum’ah dan jamaah dalam kondisi menyebarnya wabah atau takut tersebarnya wabah. Setelah mengadakan kajian mendalam dalam nash syariat Islam, tujuan dan kaidah-kaidahnya serta perkataan ahli ilmu dalam masalah ini, maka otoritas perkumpulan para ulama besar memberikan penjelasan berikut ini:

    Pertama: pasien yang terkena musibah ini diharamkan menghadiri shalat jum’ah dan jamaah berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

     لا يورد ممرض على مصح

    “Jangan dikumpulkan orang yang sakit dengan orang sehat” (muttafaq’aaihi)

    Kedua: siapa yang diputuskan oleh instansi khusus untuk diasingkan, maka dia harus berkomitmen akan hal itu dan tidak menghadiri shalat jamaah dan jum’ah, dia menunaikan shalat-shalatnya di rumah atau di tempat pengasingannya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syuraid bin Suwaid At-Tsaqofi radhiallahunahhu berkata,

     كان في وفد ثقيف رجل مجذوم فأرسل إليه النبي صلى الله عليه وسلم إنا قد بايعناك فارجع

    “Dahulu ada utusan dari Tsaqif yang terkena kusta. Maka Nabi sallallahu alihi wa sallam mengirim pesan ‘Sungguh kami telah membait anda, maka pulanglah.” HR. Muslim.

    Ketiga: siapa yang khawatir terkena celaka atau mencelakai orang lain, maka dia diberi keringanan tidak menghadiri jum’ah dan jamaah berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam:

      لا ضرر ولا ضرار

    “Tidak boleh mencelakai diri dan mecelakai orang lain.” HR. Ibnu majah.

    Dari semua keterangan yang disebutkan, kalau dia tidak menghadiri jum’ah, maka dia shalat dhuhur 4 rakaat (di rumah).

    Dan otoritas perkumpulan ulama besar memberikan wasiat agar semua mengikuti taklimat, arahan dan aturan-aturan yang dikeluarkan oleh instansi khusus. sebagaimana memberikan wasiat agar semuanya bertakwa kepada Allah azza wajalla dan kembali kepada Allah subhanahu dengan berdoa dan merendahkan diri dihadapan-Nya agar mengangkat cobaan ini. Allah Ta’ala berfirman:

      وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم  

    “Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” QS. Yunus: 107

    Dan Allah subhanahu berfirman:

     وقال ربكم ادعوني استجب لكم

    “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” QS. Gofir: 60

    Untuk kelengkapannya, silahkan membaca di link: https://www.spa.gov.sa/2047028

     

    Fatwa terkait pelaksanaan shalat tarwih di masa pandemi

    Kementrian Urusan Agama Islam Kerajaan Saudi Arabia menyampaikan beberapa pertanyaan kepada Mufti Umum Kerajaan Saudi Arabia dan ketua Haiah Kibaril Ulama, Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alusy Syaikh hafizhahullah berkenaan dengan syariat (perintah) melakukan shalat tarawih di rumah, selama masa pandemi di bulan Ramadhan ?

    Maka beliau menjawab : terkait shalat tarawih di rumah-rumah pada bulan Ramadhan tahun ini dikarenakan tidak mungkin dilakukan di masjid-masjid disebabkan langkah-langkah penjagaan yang diambil oleh instansi-instansi terkait dalam rangka mencegah tersebarnya virus corona (Covid 19) maka hendaknya kaum muslimin melakukan shalat tarawih di rumah-rumah mereka untuk mendapatkan keutamaan qiyamul lain di bulan Ramadhan yang diberkahi, dan dikarenakan Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melakukan qiyam Ramadhan di rumahnya, dan tidak samar lagi bahwa hukum shalat tarawih adalah sunnah dan tidak wajib.

    Selanjutnya, pertanyaan kedua yang diajukan kepada beliau adalh tentang disyariatkannya shalat I’ed di rumah ?

    Jawaban Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alusy Syaikh hafizhahullah : Adapun shalat I’ed apabila keadaan virus corona terus berlanjut dan tidak mungkin shalat I’ed dilaksanakan di tanah lapang dan masjid-masjid yang dikhususkan untuk diselenggarakannya shalat id maka shalat id dilakukan di rumah-rumah dengan tanpa khutbah setelahnya.

    Dan telah terbit sebelumnya fatwa dari Al Lajnah Ad Daimah lil Fatwa dimana tersebut di dalamnya pernyataan adalah sebagai berikut :

    “Dan barangsiapa yang terluput dari melaksanakan shalat I’ed dan ingin mengqadhanya maka disunnahkan baginya untuk mengqadha shalat I’ed tersebut sesuai dengan cara yang telah dituntunkan oleh syariat (sebagaimana tatacara pelalaksanaan shalat i’ed di lapangan) dengan tanpa khutbah setelahnya”.

    Maka jika mengqadha shalat I’ed disunnahkan bagi orang yang terluput dari melaksanakannya bersama imam yang melakukan shalat I’ed bersama kaum muslimin, maka lebih disyariatkan lagi untuk dilakukan oleh orang-orang yang tidak diselenggarakan shalat I’ed di negeri mereka; dikarenakan melaksanakan shalat I’ed walaupun di rumah adalah bentuk melaksanakan syiar islam tersebut sesuai dengan kemampuan, dan Allah Ta’ala berfirman :

    فاتقوا الله ما استطعتم

    “Maka bertakwalah kalian sesuai dengan kemampuan kalian”. Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم

    “Apabila aku memerintahkan kalian dengan sesuatu maka lakukanlah hal itu sesuai dengan kemampuan kalian”.

    Unutk kelengkapannya, dapat di baca pada link : https://www.spa.gov.sa/viewstory.php?lang=ar&newsid=2075735

     

    Tausiyah MUI terkait dengan pelaksanaan shalat tarwih dan I’ed di tengah wabah covid-19

    Kiai Muhyiddin, Wakil Ketua Umum MUI, membacakan tausiyah MUI, yang berisi enam butir tausiyah, melalui konferensi pers online, Rabu (15/4) petang. Pada poin kedua Beliau mengatakan bahwa MUI mengajak umat Islam mematuhi protokol kesehatan sehingga bisa memutus rantai penyebaran Covid-19. Apabila di suatu kawasan telah ditetapkan sebagai daerah yang rawan penyebaran Covid-19 oleh pihak berwenang, maka umat Islam di situ dihimbau tidak melaksanakan shalat Rawatib (lima waktu), Tarawih, dan shalat Ied di masjid atau tempat umum lainnya serta pengajian umum atau tabligh akbar.

    Untuk kelengkapannya, dapat di baca pada link : https://mui.or.id/berita/27848/mui-keluarkan-tausiyah-ramadhan-1441-h-di-tengah-wabah-covid-19/

     

    Demikian beberapa pernyataan dan keterangan para ulama berkenaan dengan masalah ini. Dan jika ternyata ada beberapa tokoh agama (secara personal) yang berbeda pendapat, maka hal yang seharusnya dipahami bahwa dalam masalah-masalah khilaf yang mengaitkan kepentingan publik, maka tidak semua perbedaan pendapat boleh diakomodir, karena hal itu akan berujung pada kekacauan. Olehnya di dalam qaidah fiqh dinayatakan; “Hukmul haakim yar’faul khilaaf” (putusan hakim / otoritas yang berwenang / ulil amri adalah putusan yang mengikat dan memutus perbedaan pendapat). Wallahu a’alam

     

     

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here