Bersih-Bersih di Pertengahan Sya’ban

    0
    278
    Pertanyaan :

    Assalamu’alaikum ustadz, mohon bantuan apakah hadits berikut benar ; redaksi dan validitasnya ?.

    إِنَّ اللهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

    “Sesungguhnya Allah Ta’ala akan turun memperhatikan para hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa seluruh makhluk-Nya (hamba-Nya) kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan”.

    Jawab :

    Hadits ini diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah. Sanad hadits ini diperselisihkan para ulama. Diantara ulama kontemporer yang menghasankannya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Baani dan Syaikh Syuaib Al Arnauuth rahimahumallah.

    Hadits ini menjelaskan keutamaan malam tersebut bagi mereka yang membersihkan hatinya dari segala bentuk permusahan dan pertikaian dengan saudaranya semuslim.

    Hadits ini secara tersirat berisi anjuran untuk memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih ;

    *) baik dalam interaksi manusia dengan Allah, yaitu dengan meninggalkan praktek-praktek kemusyrikan dan dengan banyak berpuasa pada bulan ini;

    *) dan dalam interaksi mereka dengan sesamanya, yaitu dengan menyudahi segala bentuk pertikaian dengan sesama pada malam tersebut untuk meraih keutamaan yang dijanjikan oleh Allah, yaitu : “Allah akan mengampuni dosa-dosa seluruh makhluk-Nya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”.

    Hadits ini tidak menunjukkan anjuran untuk membuat ibadah khusus pada malam tersebut. Namun barangsiapa yang ingin memanfaatkan moment tersebut dengan melaksanakan shalat malam di rumahnya, maka hal itu adalah baik. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata :

    وَأَمَّا لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَفِيهَا فَضْلٌ، وَكَانَ فِي السَّلَفِ مَنْ يُصَلِّي فِيهَا، لَكِنَّ الِاجْتِمَاعَ فِيهَا لِإِحْيَائِهَا فِي الْمَسَاجِدِ بِدْعَةٌ.

    “Adapun malam nishfu (pertengahan) Sya’ban, maka malam itu memiliki keutamaan. Diantara ulama salaf ada yang melaksanakan shalat (di rumahnya). Namun, berkumpul di masjid untuk menghidupkannya (dengan melaksanakan shalat nishfu sya’ban) bukanlah perkara yang ada tuntunannya.”. (Al Fatawa Al Kubro, 5/344)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here