Bid’ah, Boleh ?

    0
    332
    Pertanyaan :

    Apakah benar mengenai perkataan Umar radhiyallahu anhu yang mengatakan bahwa tarawih adalah sebaik-baik bid’ah. Lalu bagaimana kita menanggapi orang-orang  yang menjadikan perkataan ini sebagai hujjah bahwa bid’ah itu tidak terlarang. Syukron ustadz sebelumnya

    Jawaban :

    Melaksanakan shalat tarwih bersama imam di bulan Ramadhan adalah hal yang dianjurkan. Abu Dzar berkata;

    صُمْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْهُ، حَتَّى بَقِيَ سَبْعُ لَيَالٍ، فَقَامَ بِنَا لَيْلَةَ السَّابِعَةِ حَتَّى مَضَى نَحْوٌ مِنْ ثُلُثِ اللَّيْلِ، ثُمَّ كَانَتِ اللَّيْلَةُ السَّادِسَةُ الَّتِي تَلِيهَا، فَلَمْ يَقُمْهَا، حَتَّى كَانَتِ الْخَامِسَةُ الَّتِي تَلِيهَا، ثُمَّ قَامَ بِنَا حَتَّى مَضَى نَحْوٌ مِنْ شَطْرِ اللَّيْلِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ لَوْ نَفَّلْتَنَا بَقِيَّةَ لَيْلَتِنَا هَذِهِ. فَقَالَ: «إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ، فَإِنَّهُ يَعْدِلُ قِيَامَ لَيْلَةٍ» ثُمَّ كَانَتِ الرَّابِعَةُ الَّتِي تَلِيهَا، فَلَمْ يَقُمْهَا، حَتَّى كَانَتِ الثَّالِثَةُ الَّتِي تَلِيهَا، قَالَ: فَجَمَعَ نِسَاءَهُ وَأَهْلَهُ وَاجْتَمَعَ النَّاسُ، قَالَ: فَقَامَ بِنَا حَتَّى خَشِينَا أَنْ يَفُوتَنَا الْفَلَاحُ، قِيلَ: وَمَا الْفَلَاحُ؟ قَالَ: السُّحُورُ، قَالَ: ثُمَّ لَمْ يَقُمْ بِنَا شَيْئًا مِنْ بَقِيَّةِ الشَّهْرِ

    “Kami pernah puasa ramadhan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat itu, Beliau tidak shalat (tarwih) bersama kami hingga ketika tiba tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan. Pada malam itu, Beliau laksanakan shalat hingga berlalu sekitar sepertiga malam. Kemudian Beliau tidak shalat bersama kami pada enam malam tersisa setelahnya. Pada lima malam tersisa, Beliau kembali shalat bersama kami hingga lewat sekitar seperdua malam. Aku (Abu Dzar) berkata; wahai Rasulullah, (kami ingin) andai engkau dapat shalat mengimami kami pada sisa malam selanjutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Barangsiapa shalat (tarwih) bersama imam hingga sang imam selesai shalat, maka (pahalanya) sama dengan seorang yang shalat semalam suntuk.”. Namun keesokan hariya, pada sisa malam ke-4, Beliau tidak shalat bersama kami. Kemudian pada sisa malam ke-3, Beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengumpulkan para keluarganya untuk shalat (tarwih) dan orang-orang pun berkumpul. Pada malam itu, Beliau shalat sangat lama hingga kami pun menyangka bahwa kami tidak akan mendapati waktu sahur.”. (HR. Ibnu Majah, 1/420)

    Beberapa pelajaran dari hadits ini terkait dengan pertanyaan diatas adalah;

    1. Shalat tarwih bersama imam adalah hal yang dianjurkan; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakannya dan Beliau menganjurkannya secara lisan.
    2. Beliau tidak melaksanakannya setiap malam karena khawatir hal tersebut menjadi wajib dan pada akhirnya akan memberatkan ummatnya. (HR. Bukhari dan Muslim)
    3. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk mengimami para sahabat sedang mereka telah berkumpul menanti Rasulullah, pada saat itu mereka melaksanakan shalat malam (tarwih) sendiri-sendiri secara terpisah, dan ada juga yang melaksanakannya secara berjama’ah, terpisah dengan yang lainnya. Demikianlah kebiasaan ini berlangsung di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    4. Di masa Umar, melihat keadaan demikian, Beliaupun berinisiatif mengubah kebiasaan yang tersebut pada point ke-3. Beliau kemudian mengumpulkan jama’ah masjid dengan satu imam sebulan penuh, di bulan Ramadhan. Hal ini untuk pertama kalinya terjadi pada tahun ke 14 Hijriyah, sebagaimana pernyataan imam Ibnu Abdil Barr. (http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/fatwa/182.htm) . Keadaan baru demikianlah yang dinyatakan oleh Umar sebagai “sebaik-baik bid’ah”.
    5. Diketahui dari penjelasan point ke-4 bahwa maksud dari kata “bid’ah” yang diucapkan oleh Umar bukanlah “bid’ah” dalam terminologi yang dilarang, karena asal dari pelaksanaan shalat tarwih secara berjama’ah dengan imam yang satu adalah hal yang dicontohkan. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melaksanakannya setiap malam karena adanya kekhawatiran sebagaimana yang disebutkan pada point ke-2. Dan kekhawatiran itu telah lenyap dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang berarti bahwa wahyu telah putus, dan hukum-hukum ibadah yang telah ada di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lagi akan berubah hingga hari kiamat.
    6. Bid’ah yang tercela adalah membuat sebuah ritual ibadah atau yang semisal dengan ibadah tanpa ada contoh atau tuntunan agama terkait dengan ritual yang dibuat tersebut.

    Dengan demikian, tidaklah benar menjadikan keterangan Umar tersebut sebagai dalil untuk membenarkan satupun perkara bid’ah dalam ritual agama.

    Wallahu a’lam bis shawaab.