Dana Insert Dari Peserta Lomba, Judikah?

Pertanyaan :

Assalamualaikum ustadz, mau tanya ustadz, bagaimana hukum dari uang insert pada suatu lomba, yang nantinya uang tersebut akan di gunakan untuk hadiah pemenang pada lomba tersebut ? Apakah itu seperti judi atau bagaimana ustadz ?

Jawaban :

Salah satu perbuatan yang diharamkan Allah adalah berjudi. Berjudi adalah salah satu yang dikategorikan sebagai dosa besar. Allah berfirman;

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَآ أَكْبَرُ مِن نَّفْعِهِمَا

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfa’at bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfa’atnya.” (Al-Baqarah: 219).

Di sisi lain, Allah  juga menyebut bahwa judi itu adalah perbuatan syaithan yang harus dijauhi oleh setiap muslim. Ditegaskan bahwa judi itu bukan hanya dosa, tetapi punya dampak lainnya yang akan sangat merugikan. Misalnya akan menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara manusia. Selain itu seorang yang berjudi akan merasakan dampak lainnya berupa sulit untuk ingat kepada Allah dan sulit untuk melakukan shalat. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنتُم مُّنتَهُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu. (QS Al-Maidah: 90-91)

Di antara titik persoalan paling utama dari pengharam judi adalah adanya unsur undian atau sifat untung-untungan. Baik dengan menggunakan alat permainan seperti kartu remi, tebakan, atau dengan menggunakan fasilitas lainnya.

Namun ada faktor utama lain yang jauh lebih penting dan sangat menentukan, yaitu adanya harta atau uang yang dipertaruhkan dalam permainan itu. Bila sebuah event perlombaan melibatkan harta yang dipertaruhkan, yang dipungut dari peserta, di mana yang menang berhak atas uang dari peserta lain yang ikut dalam taruhan itu, maka permainan atau lomba demikian termasuk dalam kategori judi. Tetapi bila sebuah permainan atau lomba yang menggunakan undian, tidak terkait dengan uang atau harta yang dipertaruhkan, maka tidaklah masuk dalam kategori judi.

Beberapa contoh undian yang tidak masuk dalam kategori judi adalah;

*) Undian yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap para istrinya. Undian ini telah menjadi kebiasaan Beliau setiap akan melakukan perjalanan perang ke luar kota. Yang diajak diantara para istrinya hanya satu saja dari 9 orang itu, dan ditentukan dengan cara undian. Siapa yang namanya keluar, maka Dia berhak ikut mendampingi Beliau ke medan perang. Undian seperti ini adalah halal, karena tidak terkait dengan taruhan harta.

*) Contoh lainnya adalah sabda Rasulullah yang menegaskan bahwa seandainya orang-orang mengetahui keutamaan shalat di shaf terdepan, pastilah mereka akan saling mengundi untuk menentukan siapa yang berhak shalat di barisan itu. Undian semacam ini sekali lagi tidak masuk dalam kategori judi karena tidak ada harta yang dipertaruhkan, dan olehnya maka hukumnya adalah boleh.

*) Contoh lain adalah sayembara berhadiah yang dimaklumatkan penguasa Mesir, dalam surah Yusuf. Intinya menegaskan bahwa siapa yang bisa menemukan gelas/piala raja akan diberikan seekor unta yang sarat dengan perbekalan dan makanan. Dan hadiah itu disediakan oleh pihak penguasa (pihak ke tiga). (QS Yusuf : 72). Jenis sayembara ini juga tidak masuk dalam kategori judi, karena meski ada harta yang dipertaruhkan, namun tidak berasal dari peserta sayembara.

Dewasa ini banyak diselenggarakan berbagai lomba dalam berbagai event. Pihak penyelenggara menarik biaya tertentu dari para peserta, dimana biaya tersebut digunakan untuk keperluan lomba, diantaranya disisihkan untuk hadiah bagi para juara. Adakah praktek lomba semacam ini masuk dalam kategori judi ?.

Jawabannya tentu sudah sangat jelas setelah mempelajari dan memahami uraian yang telah disampaikan. Gambaran yang telah disebutkan adalah bentuk perjudian karena hadiahnya disisihkan dari iuran peserta lomba.

Demikian juga dengan permainan olah raga sesama teman dimana yang kalah diwajibkan untuk mentraktir minuman atau membeli shuttlecock dan yang semisal. Pada hakikatnya aturan seperti ini masih terkait dengan kewajiban pihak yang kalah untuk mengeluarkan uang.

Lain halnya bila yang kalah diberi hukuman untuk berlari mengelilingi lapangan, push up atau yang lainnya. Hal ini tidak dilarang karena tidak terkait dengan kerugian yang bersifat finansial/uang. Namun dikaitkan dengan tujuan utama dari olah raga yaitu kesegaran dan kebugaran.

Dikecualikan dari jenis perlombaan yang telah disebutkan adalah jenis perlombaan yang dapat meningkatkan skill seorang dalam berjihad. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

لا سبَقَ إلا في نَصْل أو خُفٍّ أو حَافر

“Tidak diperbolehkan mengambil sabaqa (hadiah taruhan) kecuali pada perlombaan memanah atau pacuan unta dan kuda.” (HR. Tirmidzi). Imam Syaafi’ie rahimahullah berkata;

ما عدا هذه الثلاثة فالسبق فيها قمار

“Selain tiga jenis perlombaan ini, maka taruhan adalah salah satu dari jenis perjudian.”. Disebutkan bahwa imam Malik rahimahullah berkata;

لا سبق إلا في الخيل والرمي، لأنه قوة على أهل الحرب

“Tidak diperkenankan bertaruh melainkan pada pacuan kuda dan memanah, karena keduanya (pacuan kuda dan memanah) adalah bagian dari persiapan jihad”. Imam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata mengomentari hadits Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang telah dikemukakan;

وَعَمِلَ بِهَذَا الْحَدِيثِ فُقَهَاءُ الْحَدِيثِ وَمُتَابِعُوهُمْ فَنَهَى عَنْ بَذْلِ الْمَالِ فِي الْمُسَابَقَةِ إلَّا فِي مُسَابَقَةٍ يُسْتَعَانُ بِهَا عَلَى الْجِهَادِ الَّذِي هُوَ طَاعَةٌ لِلَّهِ تَعَالَى

“Para ulama beramal dengan hadits ini, mereka melarang (bagi peserta lomba) mengeluarkan uang tertentu sebagai hadiah dalam sebuah pertandingan kecuali pada perlombaan-perlomabaan yang dapat meningkatkan skil seseorang dalam jihad, yang merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah -ta’ala-.”.

Olehnya, maka ada juga sebagian ulama yang memasukkan pertandingan menghafal al-Quran, hadits, matan, dan yang semisalnya ke dalam jenis pertandingan yang demikian (dibolehkan). Disebutkan dalam Fataawa al-Azhar;

الرهان بمال، إنما يكون مشروعا فيما دل الدليل على الإذن به كالتسابق بالخيل والإبل والرمى والأقدام وفى العلوم، وقد شرع هذا وأجيز للحاجة إليه لتعلم الفروسية وإعداد الخيل للحرب، وللخبرة والمهارة فى الرمى وللتفقه فى الدين وغيره من العلوم النافعة للإنسان فى حياته

“Pemberian hadiah berupa uang yang dipungut dari perserta lomba baru dinyatakan sebagai hal yang disyari’atkan pada perlomabaan-perlombaan yang diizinkan memberikan hadiah berupa uang yang dipungut dari peserta lomba, seperti pacuan kuda, pacuan unta, memanah, lomba lari, dan pertandingan ilmu syar’I (agama), dan jenis ilmu lain yang bermanfaat bagi manusia dalam kehidupannya. Pemberian hadiah bagi seluruh jenis pertandingan ini disyari’atkan karena adanya sebuah maslahat, yaitu mempersiapkan kekuatan perang dan mencetak generasi ulama dan cendikiawan, yang –tentunya- akan bermanfaat bagi kehidupan manusia.”.

Kesimpulan :
  1. Judi adalah hal yang diharamkan dalam agama.
  2. Salah satu unsur yang terdapat dalam perjudian adalah adanya unsur undian dan taruhan.
  3. Bila undian atau taruhan yang dilakukan, dipersyaratkan dari peserta, sejumlah uang tertentu yang akan dijadikan sebagai hadiah bagi peserta undian atau taruhan, maka yang demikian ini adalah jenis undian atau taruhan yang diharamkan.
  4. Dikecualikan dari jenis taruhan ini adalah segala jenis taruhan yang bertujuan untuk meningkatkan skil seseorang dalam berjihad, demikian juga pertandingan menghafal al-Quran, hadits, matan, dan jenis-jenis ilmu lain yang bermanfaat.
  5. Bila hadiah yang diberikan bukan diambil dari uang yang terkumpul dari peserta, misalnya disiapkan oleh sponsor atau pihak luar lainnya, maka undian semacam ini adalah sayembara yang dihalalkan.

Mengakhiri ulasan ini, berikut kutipan dari Fataawa al-Azhar tentang beberapa syarat, kapan dinyatakan bahwa pemberian hadiah bagi sebuah lomba –selain yang dikecualikan- yang berasal dari dana kontribusi peserta dinyatakan sah;

الأولى أن يكون المال المعين للسابق من غير المتسابقين بأن يكون من ولى الأمر سواء أكان من ماله الخاص أم من بيت المال – أو من أجنبى متبرع وهو المسمى الآن بالجوائز
  1. Hadiah berupa uang itu tidak dipungut dari peserta lomba, tetapi dari pihak ketiga, baik dari pemerintah atau dari sponsor.
الثانية أن يكون المال من أحد المتسابقين دون الآخر بأن يتسابق اثنان ويقول أحدهما لصاحبه إن سبق فرسك فرسى مثلا كان لك كذا منى، وإن يسبق فرسى فرسك فلا شىء لى عليك
  1. Hadiah berupa uang berasal dari salah seorang dari dua orang peserta lomba –misalnya-. Contohnya; dua orang mengikuti lomba pacuan kuda. Seorang diantaranya berkata kepada lawan tandingnya; jika engkau menang, saya akan menghadiahkan kepadamu sejumlah uang tertentu. Namun jika saya yang keluar sebagai pemenangnya, maka tidak ada kewajibanku atasmu.

Demikianlah dua syarat, boleh dengannya memberikan hadiah berupa uang kepada para peserta lomba. Seluruh syarat tersebut ditetapkan sebagai upaya menjaga harta seseorang agar tidak tersia-siakan dengan cara yang tidak dibenarkan (judi) dan tanpa maslahat yang dibenarkan oleh agama.

Wallahu a’lam bis shawaab

You may also like...

%d bloggers like this: