Diantara Manhaj Ahlussunnah Wal Jama’ah

    0
    76

    Diantara ciri ahlussunnah wal jama’ah adalah kecondongan hati mereka untuk selalu berpedoman pada al Quran dan sunnah yang shahih.

    Segala asumsi dan pemikiran mereka akan senantiasa dikembalikannya pada al Quran dan sunnah shahih tersebut sebagai parameter menentukan benar tidaknya asumsi dan pemikiran mereka itu.

    Bila ternyata asumsi dan pemikiran mereka itu sesuai dengan arahan keduanya, maka mereka akan bersyukur kepada Allah atas petunjukNya; sebagaimana mereka -tentu- akan mengambil petunjuk tersebut sebagai arahannya dalam bertindak.

    Namun bila ternyata asumsi dan pemikiran mereka itu bertentangan dengan Alquran dan sunnah yang shahih, maka mereka tidak akan pernah ragu untuk membuangnya dan kembali rujuk kepada al Quran dan sunnah.

    Dasar pemikiran mereka bawa al Quran dan sunnah yang shahih adalah dua pedoman yang pasti akan mengarahkan kepada kebenaran.

    Sedangkan asumsi dan sekedar pemikiran manusia, mungkin benar dan mungkin juga salah.

    Olehnya, merujuk kepada sesuatu yang pasti tentu akan lebih didahulukan daripada merujuk kepada sesuatu yang belum pasti.

    Karena kecondongan untuk merujuk pada satu sumber itulah (al Quran dan sunnah shahih), maka lahirlah kesamaan pandang dalam beragama, yang juga merupakan satu diantara karakter ahlussunnah wal jama’ah; dimana dan kapanpun mereka berada.

    Kecondongan demikian, itulah yang dinamakan manhaj. Meski berbeda pendapat, ahlussunnah wal jama’ah akan tetap bersatu, saling menghormati, tidak akan bertikai dan tidak akan saling bermusuhan.

    Meski berbeda pendapat, namun semangat mereka adalah satu, yaitu: “jika benar sebuah hadits, maka itulah pendapatku.”

    Berbeda dengan para pentaklid asumsi, pendapat dan pemikiran. Maka mereka tidak akan pernah selaras dalam beragama, akan saling menjatuhkan dan saling bermusuhan; karena tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka (dan enggan untuk kembali rujuk pada manhaj yang benar dalam beragama sebagaimana tuntunan para ulama pewaris sekalian nabi).

    Dalam uraian tadi, terdapat jawaban dari tiga pertanyaan;

    1. Mengapa ahlussunnah wal jama’ah lebih mendahulukan dalil agama daripada logika dan rasio ?
    2. Mengapa ahlussunnah akan tetap bersatu meski berbeda pendapat ?
    3. Apa dasar yang menyatukan mereka dalam perbedaan ?

    Demikian tiga pertanyaan itu dan jawabannya. Semoga Allah senantiasa membimbing dan menuntun kita semua ke jalan yang benar dan melindungi kita dari fitnah perpecahan.