Diskusi Hangat Masalah Agama

    0
    54

    Pertanyaan :

    Saya membaca beberapa buku tentang perbedaan ulama dalam sebuah masalah. Diantara mereka terkadang ada yang berpendapat bahwa masalah A hukumnya adalah haram, tetapi ulama lain justru menyatakannya halal. Ulama yang berpendapat halal menguraikan alasan-alasannya dan memaparkan dalil yang melemahkan alasan dari ulama yang menyatakannya halal, demikian juga sebaliknya. Bagaimana tanggapan Ustadz terhadap fenomena seperti itu ?

    Jawaban :

    Diantara ciri manusia adalah berbeda. Diantara perbedaan itu adalah perbedaan pola pandang dan cara berfikir. Tercapainya kesepahaman -tentu- merupakan nikmat yang wajib diupayakan. Maka untuk mencapai kesepahaman itulah, diskusi merupakan cara yang sangat efektif.

    Dalam setiap diskusi, tentu masing-masing kelompok atau orang akan mengajukan alasan, bukti dan fakta yang dimilikinya. Alasan, bukti dan fakta yang dimilikinya itu, pun tentu berbeda dengan yang dimiliki oleh lawan diskusinya. Maka untuk memenangkannya, masing-masing pastinya akan mengemukakan atau menampakkan hal-hal yang menguatkan pendapatnya dan hal-hal yang melemahkan pendapat lawan diskusinya.

    Model diskusi seperti yang disebutkan diatas adalah hal lumrah dan demikianlah realitanya.

    Para ulama pun telah terbiasa dengan diskusi semacam ini. Hal demikian diantaranya diketahui dari karya-karya monumental mereka. Sebagai contoh adalah kitab fiqh perbandingan “al Mughni” karya imam Ibnu Qudamah al Maqdisiy. Dalam kitab itu, Penulis mengurai setiap masalah fiqh yang diperselisihkan dengan uraian yang sangat detail. Beliau mulai dengan mengungkapkan pendapatnya beserta dalilnya. Selanjutnya Beliau menyebutkan pendapat-pendapat lain yang berbeda beserta alasan masing-masing. Dan terakhir, Beliau kembali menguatkan pendapatnya dengan menyebutkan alasan-alasan pendukungnya, serta menyebutkan sisi-sisi lemah dari alasan-alasan yang disebutkan oleh kelompok yang tidak sepaham.

    Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat yang terjadi diantara mereka tidak sekedar berputar pada wilayah afdhal atau tidak, sunnah atau makruh. Tetapi perbedaan pendapat itu, bahkan masuk pada wilayah halal atau haram, boleh atau tidak boleh, sah atau tidak sah. Tetapi meski demikian, perbedaan pendapat tersebut, ternyata tidak menjadikan mereka saling berpecah dan bermusuhan. Lantas bagaimana cara menjaga ukhuwwah dalam perbedaan ketika berdiskusi ?. Menjaga adab dalam diskusi, menjadi hal yang sangat urgen dalam menjawab pertanyaan tersebut. Satu diantara point penting dalam mendiskusikan hal-hal yang bersifat khilafiyyah bahwa seorang dituntut untuk memiliki keyakinan dasar bahwa apapun argument yang disampaikan oleh lawan diskusi kita adalah argument yang mungkin saja benar. Olehnya, kehati-hatian dalam menjatuhkan vonis “salah” adalah hal yang harus diperhatikan. Bahkan tidak jarang, ada sebuah masalah yang telah kita yakini sebagai perkara yang tidak lagi harus dibahas (sudah sangat jelas), namun ternyata setelah melalui diskusi, ada dalil kuat yang boleh jadi mematahkan keyakinan kita tersebut. Dan disaat itulah, keikhlasan seseorang akan teruji, adakah dia akan rujuk dari pendapatnya yang keliru atau tetap bertahan dalam kesalahannya.