Dupa Sebagai Pengharum Ruangan

    0
    209

    Allah berfirman;

    إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

    “Sesungguhnya Allah senang dengan orang-orang yang senantiasa bertaubat dan senantiasa bersuci” (Al Baqarah; 222). Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ

    “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan”. (HR. Muslim)

    Dari kedua keterangan ini diantaranya dinyatakan bahwa diantara adab yang dianjurkan dalam Islam bagi seseorang adalah senantiasa tampil dalam keadaan baik untuk menjaga kondusifitas dan kenyamanan; baik pribadi demikian juga kenyamanan orang lain.

    Olehnya itu dianjurkan memakai wewangian (kecuali wanita di tempat umum atau bagi selain mahramnya), dianjurkan memakai pakaian yang layak, dianjurkan bersiwak, dianjurkan senantiasa berada dalam keadaan suci (baik dari hadats maupun dari najis), dan yang semisal dengan itu.

    Anjuran ini akan lebih ditekankan manakala seseorang berada di ruang publik. Dan akan lebih ditekankan lagi jika mereka yang berada di ruang publik itu hendak melakukan ritual peribadatan, seperti shalat lima waktu berjama’ah, shalat idul fithri, idul adha, dan yang semisalnya. Olehnya itu, sangat dianjurkan bagi seseorang untuk berwudhu dari rumah, memakai pakaian yang baik, memakai harum-haruman, dan yang semisalnya. Sebagaimana seorang yang berpotensi mengganggu kenyamanan mereka yang tengah beribadah di larang mengahadiri tempat pelaksanaan ibadah itu secara berjama’ah. Misalnya mereka yang habis memakan bawang, mereka yang tengah sakit, dan yang semisalnya. Mereka tidak boleh menghadiri ruang publik untuk melaksanakan ritual agama kecuali telah bersiwak misalnya, atau telah sembuh dari penyakitnya.

    Sejalan dengan itu, maka dianjurkan bagi panitia masjid atau panitia tempat berkumpulnya orang-orang untuk melakukan sebuah aktivitas ibadah (kajian, tabligh akbar, forum silaturrahim, dan yang semisalnya) untuk menyiapkan kondisi ruangan yang akan digunakan sebaik mungkin agar orang-orang yang hadir merasa nyaman ketika melakukan aktivitasnya itu. Diantara yang mungkin mereka lakukan untuk tujuan itu adalah dengan menyiapkan pengharum ruangan; baik berupa cairan yang disemprotkan atau bubuk atau kayu yang dibakar.

    Terkait dengan penggunaan bubuk atau kayu yang dibakar atau dalam bahasa lainnya adalah dupa (dupa atau hio atau kemenyan adalah sebuah bahan yang mengeluarkan bau wangi aroma terapi. Dupa mengeluarkan asap ketika dibakar), maka dibenarkan untuk tujuan yang telah diuraikan. Penggunaan dupa untuk tujuan ini dapat juga digantikan dengan pengharum ruangan berupa cairan yang disemprotkan sebagaimana ulasan sebelumnya. Namun jika dupa ini digunakan untuk tujuan ghaib, mistik atau tujuan-tujuan semisal itu, maka tidaklah dibenarkan, diantaranya karena pekerjaan itu (membakar kemenyan) sama dengan perbuatan agama lain dalam ritual-ritual keagamaannya atau sama dengan perbuatan para dukun dalam beberapa ritual mereka. Wallahu a’lam bis shawaab

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here