Faaqidut Thahuuraini

    0
    289

    Di dalam shahihnya, Imam Bukhari mengangkat judul bab;

    بَابُ إِذَا لَمْ يَجِدْ مَاءً وَلاَ تُرَابًا

    “Bab, Di saat seorang tidak mendapatkan air dan debu (untuk bersuci)”. Selanjutnya, Beliau rahimahullah membawakan hadits dengan sandanya hingga ke Hisyam bin ‘Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha;

    أَنَّهَا اسْتَعَارَتْ مِنْ أَسْمَاءَ قِلاَدَةً فَهَلَكَتْ، فَبَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا فَوَجَدَهَا، فَأَدْرَكَتْهُمُ الصَّلاَةُ وَلَيْسَ مَعَهُمْ مَاءٌ، فَصَلَّوْا، فَشَكَوْا ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ آيَةَ التَّيَمُّم

    “Beliau meminjam sebuah kalung dari Asma’, lalu kalung itu hilang. Maka Rasulullah memerintahkan sahabatnya untuk mencarinya dan mereka berhasil mendapatkannya. Kemudian waktu shalat tiba sedang mereka tidak menemukan air. Mereka pun shalat (tanpa berwudhu). Selanjutnya mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan turunlah ayat tayammum.”. (HR. al-Bukhari).

    Penjelasan :

    Diantara pelajaran yang dimuat dalam hadits ini adalah tentang hukum seorang yang tidak mendapatkan air untuk bersuci (ketika itu syari’at tayammum belum ada), sedang waktu shalat telah masuk, apakah ia wajib melaksanakan shalat ketika itu (meski tidak bersuci) atau ia menunggu hingga mendapatkan air ?.

    Dalam hadits ini dinyatakan bahwa para sahabat ketika itu tetap melaksanakan shalat, meski tanpa berwudhu. Dan setelah mereka mengadukan peristiwa itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau tidak menyanggah perbuatan para sahabat tersebut, yang memberi isyarat bahwa shalat tetap wajib dilakukan meski seorang tidak mendapat air untuk berwudhu.

    Jika demikian hukum yang ditetapkan bagi seorang yang tidak mendapatkan air (disaat belum ada syari’at tayammum), maka demikianlah juga hukum yang sama ditetapkan bagi mereka yang tidak mendapatkan air untuk berwudhu dan juga tidak mendapatkan debu untuk bertayammum. Mereka berdua tidak wajib bersuci karena tidak mendapatkan air dan tidak mendapatkan debu. Keadaan orang demikian diistilahkan dengan sebutan, “faaqidu at thahuuraini” (seorang yang tidak mendapatkan dua sarana untuk bersuci, yaitu air dan debu).

    Lantas, ketika mendapatkannya, apakah mereka wajib berwudhu dan mengulang (mengqadha) shalatnya itu ?. Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyuruh sahabatnya untuk mengqadha shalat mereka itu. Seandainya wajib, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memerintahkan itu kepada mereka.

    Keadaan seorang yang “faaqidu at thahuuraini” jika diterjemahkan dalam konteks kekinian kiranya sama dengan tenaga medis atau kesehata dalam penanganan covid-19 yang diwajibkan mengenakan pakaian standar (APD) yang tidak memungkinkan mereka untuk bersuci ketika akan shalat (baik dengan berwudhu ataupun dengan bertayammum).

    Berkenaan dengan perincian bagaimana dan apa yang harus mereka lakukan dalam kondisi seperti ini, alhamdulillah Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan fatwa detail tentang hal tersebut. Dinyatakan pada bagian memutuskan, ketentuan hukum :

    1. Tenaga kesehatan muslim yang bertugas merawat pasien COVID-19 dengan memakai APD tetap wajib melaksanakan shalat fardhu dengan berbagai kondisinya sesuai dengan kemampuannya.
    2. Dalam kondisi ketika jam kerjanya sudah selesai atau sebelum mulai kerja ia masih mendapati waktu shalat, maka wajib melaksanakan shalat fardlu sebagaimana mestinya.
    3. Dalam kondisi ia bertugas mulai sebelum masuk waktu zhuhur atau maghrib dan berakhir masih berada di waktu shalat ashar atau isya’ maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ ta’khir.
    4. Dalam kondisi ia bertugas mulai saat waktu zhuhur atau maghrib dan diperkirakan tidak dapat melaksanakan shalat ashar atau isya maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’ taqdim.
    5. Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu dua shalat yang bisa dijamak (zhuhur dan ashar serta maghrib dan isya’), maka ia boleh melaksanakan shalat dengan jama’.
    6. Dalam kondisi ketika jam kerjanya berada dalam rentang waktu shalat dan ia memiliki wudlu maka ia boleh melaksanakan shalat dalam waktu yang ditentukan meski dengan tetap memakai APD yang ada.
    7. Dalam kondisi sulit berwudlu, maka ia bertayamum kemudian melaksanakan shalat.
    8. Dalam kondisi hadas dan tidak mungkin bersuci (wudlu atau tayammum) maka ia tetap melaksanakan shalat dengan kondisi yang ada (faqid al-thahurain) dan tidak wajib mengulangi shalatnya (i’adatu al-shalah).

    Wallahu a’lam bis shawaab, dan untuk melihat kelengkapan fatwa tersebut, silahkan unduh di link unduh fatwa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here