Fiqih Salam

Daftar Isi Tutup

Hadits Bahasan

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ، لَا يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا لِلْمَعْرِفَةِ

Dari Ibnu Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sesungguhnya diantara tanda dekatnya kiamat yaitu ketika seorang tidak lagi memberi salam kepada saudaranya seiman kecuali ketika ia mengenalnya.”. (HR. Ahmad, 6 / 398)

Urgensi Bahasan

Diantara ciri orang-orang beriman adalah senantiasa membesarkan syiar Allah. Allah berfirman;

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.”. (al Hajj; 32).

Namun dewasa ini ada sebuah fenomena yang cukup memprihatinkan, yaitu ketika orang-orang Islam tidak lagi merasa bangga dengan agama mereka, bahkan sebagian dari mereka –mungkin- merasa risih ketika menampakkan ciri keislamannya, hal mana sungguh amat berbeda dengan kenyataan yang ada pada generasi awal dari ummat ini, yang tergambar melalui firman Allah;

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku inilah muslim (termasuk orang-orang yang menyerah diri?).”. (Fushshilat; 33)

Maka salah satu diantara syi’ar agama Allah adalah memberi salam. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

ما حسدتكم اليهود على شيء ما حسدتكم على السلام والتأمين

“Tiadalah orang-orang Yahudi hasad kepadamu selain hasadnya kepadamu terhadap syari’at menebar salam dan mengucapkan amin.”. (HR. Ibnu Majah, 1 / 278)

Tetapi lagi-lagi adalah hal yang amat menyedihkan ketika menyaksikan realita bahwa banyak orang yang tidak lagi bangga dengan syari’at ini, bahkan sebagian mereka merasa risih ketika menyuarakannya di tengah-tengah forum resmi, sebagian lagi –seakan- memandang tabu jika tidak menggandengkannya dengan ucapan salam resmi yang dianut bersama di Negara ini “assalaamu ‘alaikum dan salam sejahtera”, dan sebagian lagi hanya memberi salam kepada orang-orang yang dikenalnya.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُسَلِّمَ الرَّجُلُ عَلَى الرَّجُلِ لَا يُسَلِّمُ عَلَيْهِ إِلَّا لِلْمَعْرِفَةِ

“Sesungguhnya diantara tanda dekatnya kiamat yaitu ketika seorang tidak lagi memberi salam kepada selainnya kecuali ketika ia mengenalnya.”. (HR. Ahmad, 6 / 398)

Olehnya, sebagai upaya untuk mengembalikan dan menghidupkan syi’ar ini, berikut ini adalah beberapa hukum berkenaan dengan salam. Semoga Allah memberi petunjuk-Nya kepada ummat ini dan mengembalikan mereka kepada sunnah Rasul-Nya dan menjadikan mereka berjaya sebagaimana kejayaan yang telah diraih oleh para pendahulu yang shaleh. Innahu waliyyu dzaalik wa al qaadiru ‘alaih.

Mengapa Salam ?

Salam adalah satu diantara syari’at Allah. Beberapa urgensi salam adalah;

1. Ibadah

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda tentang kewajiban muslim terhadap saudaranya, diantaranya adalah;

إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ

“Apabila engkau menjumpainya, maka berilah salam kepadanya.”. (HR. Muslim, 5778). Abdullah bin ‘Amr bin al Ash –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أن رجلا سأل النبي : أي الإسلام خير؟ قال: تطعم الطعام ، وتقرأ السلام على من عرفت وعلى من لم تعرف

“Seorang laki-laki bertanya kepada  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ; beritahulah saya tentang amalan yang baik dalam Islam.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; memberi makan, dan memberi salam kepada siapa yang engkau kenal dan kepada siapa yang tidak engkau kenal.”. (HR. Bukhari, 28). Terkait dengan syari’at memberi salam kepada orang yang tidak dikenal, Imam an Nawawi -rahimahullah- berkata, sebagaimana tersebut di dalam Fathu al Baari;

وَفِي ذَلِكَ إِخْلَاص الْعَمَل لِلَّهِ وَاسْتِعْمَال التَّوَاضُع وَإِفْشَاء السَّلَام الَّذِي هُوَ شِعَار هَذِهِ الْأُمَّة

“Memberi salam kepada seorang yang tidak dikenal adalah perbuatan yang mencerminkan keikhlasan seorang dalam beribadah kepada Allah, mencerminkan ketawadhuannya dan perbuatan itu adalah upaya untuk menyebarkan salam yang merupakan syiar dari ummat ini.”. (Fathu al Baari, 17/459)

2. Menumbuhkan iman dan membangun persaudaraan.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

لا تدخلون الجنة حتى تؤمنوا ، ولا تؤمنوا حتى تحابوا ، أولا أدلكم على شيء إذا فعلتموه تحاببتم؟ أفشوا السلام بينكم

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian kutunjuki sebuah amalan, yang jika kalian lakukan, niscaya kalian akan saling mencintai.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; sebarkanlah salam diantara kalian.”. (HR. Muslim, no. 203)

3. Menggugurkan dosa

Maksudnya adalah ketika ia memberi salam dan mengiringinya dengan berjabat tangan. Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidak seorang pun dari dua orang muslim bertemu, lantas keduanya saling berjabat tangan, melainkan mereka akan diampuni hingga usai berjabat tangan.”. (HR. Ahmad, 30 / 629)

4. Menunjukkan ketinggian akhlak

Bersikap tawadhu adalah hal yang sangat dianjurkan di dalam Islam. Maka salah satu indikasi ketawadhu’an seseorang adalah keringanan hati dan lisannya untuk mengucapkan salam kepada saudaranya; siapapun saudaranya itu, bahkan kepada anak kecil sekalipun. Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يزور الأنصار فيسلم على صبيانهم ويمسح برؤوسهم ويدعو لهم

“Beberapa kali –pernah-  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berziarah ke sahabat-sahabatnya dari kalangan anshar. Ketika itu, Beliau memberi salam kepada anak-anak mereka, mengusap kepala-kepalanya dan mendoakan mereka.”. (HR. Nasaa’I, 5 / 92)

Bagaimana Lafadz Salam

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-;

أن رجلاً مر على رسول الله صلى الله عليه وسلم وهو في مجلس، فقال: السلام عليكم. فقال: عشر حسنات. فمر رجل آخر، فقال: السلام عليكم ورحمة الله. فقال: عشرون حسنة. فمر رجل آخر، فقال: السلام عليكم ورحمة الله وبركاته. فقال: ثلاثون حسنة

“Seorang lelaki pernah melalui majelis  Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wasallam-  dan berkata; “Assalamu ‘alaikum”, maka  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Ia mendapat 10 kebaikan”. Lalu lewat lagi orang kedua, dan berkata; “Assalamu ‘alaikum warahmatullah”, maka  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Ia mendapat 20 kebaikan”. Kemudian lewat lagi orang ketiga, dan berkata; “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuhu”, maka Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Ia mendapat 30 kebaikan.”. (Shahih Adab al Mufrad, 1 / 385). Maka dari keterangan yang telah disebutkan, diketahui bahwa lafadz salam yang masyru’ (disyari’atkan) adalah;

1)      السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

2)      السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

3)      السَّلَامُ عَلَيْكم

Adapun tentang lafadz “السَّلَامُ عَلَيْكم”, maka disebutkan di dalam “Jaami’e al Ushuul (6/604)” bahwa ada dua cara pengungkapannya, yaitu;

1. Seperti lafadz yang telah disebutkan, dengan mencantumkan “alif laam”.

2. Dengan tidak mencantumkan “alif laam” pada kalimat tersebut “سلَام عَلَيْكم”. Allah berfirman;

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ

“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, maka Katakanlah: “Salaamun alaikum”.”. (al An’aam; 54)

Apakah disyari’atkan menambah lafadz salam setelah pernyataan seorang “wabarakatuhu” ?

Umar –radhiyallhu ‘anhu- berkata –sebagaimana disebutkan di dalam “Fathu al Baari”- (17/444);

انتهى السلام إلى : وبركاته

“Salam itu berakhir dengan pernyataan seorang ((wabarakaatuhu))”. Pendapat yang serupa –pun dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas –sebagaimana disebutkan oleh imam Malik di dalam al Muwaththa’-.

Namun terdapat juga beberapa riwayat yang menunjukkan bolehnya menambah lafadz tersebut, yaitu ketika menjawab salam. Zaid bin Arqam –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

كنا إذا سلم النبي صلى الله عليه و سلم علينا قلنا وعليك السلام ورحمة الله وبركاته ومغفرته

“Dahulu ketika  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi salam kepada kami, maka kami menjawab salam tersebut dengan mengucapkan ((wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullahi wa barakaatuhu wa maghfiratuhu)).”. (at Taariikh al Kabiir, 1/329). Syaikh Abdul Rahman as Suhaim berkata setelah menyebutkan rekomendasi syaikh al Baani terhadap hadits ini;

ومِن فقه هذا الحديث أن هذه الزيادة لا تكون إلا في الردّ ، أي لا يقول ابتداء : السلام عليكم ورحمة الله وبركاته ومغفرته

“Diantara pelajaran yang dipetik dari hadits ini bahwa ucapan seperti ini disyari’atkan untuk disampaikan tatkala menjawab salam dan bukan ketika memulainya.”. (al Fataawa al ‘Ammah, 1/3)

Bagaimana jika seorang memberi salam dengan berkata; “عليك السلام” ?

Abi Juray al Hujaimiy –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أَتَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقُلْتُ عَلَيْكَ السَّلاَمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ : لاَ تَقُلْ عَلَيْكَ السَّلاَمُ فَإِنَّ عَلَيْكَ السَّلاَمُ تَحِيَّةُ الْمَوْتَى

“Saya pernah datang menemui  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan berkata kepada Beliau; ((wahai  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, ‘alaikas salaam)). Ketika itu  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata; janganlah engkau katakan, ((‘alaikas salaam)). Sesungguhnya salam seperti demikian adalah ucapan salam yang biasanya ditujukan kepada seorang yang telah meninggal.”. (HR. Abu Daud, 4 / 520)

Apa defenisi salam ?

“السَّلَامُ” adalah satu diantara nama-nama Allah. Bertolak darinya, maka makna ucapan ini adalah “semoga Allah senantiasa bersamamu; menjaga dan memeliharamu”, sama seperti pernyataan seorang “اللَّهُ مَعَك” (semoga Allah selalu bersamamu).

“السَّلَامُ” juga bisa berarti keselamatan. Bertolak darinya, maka makna salam ini adalah “semoga keselamatan senantiasa menyertaimu.”.

Apa hukum memberi salam ?

Memberi salam adalah satu diantara semulia-mulianya ibadah kepada Allah. Hukum menyampaikannya adalah sunnah yang sangat ditekankan.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

أَنَّ أَفْضَلَ الْأَعْمَالِ إطْعَامُ الطَّعَامِ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْت وَعَلَى مَنْ لَمْ تَعْرِفْ

“Sesungguhnya semulia-mulia amalan adalah memberi makan dan mengucapkan salam kepada seorang yang engkau kenal dan kepada yang tidak engkau kenal.”. (HR. Bukhari, 28).

Bagaimana hukum menjawabnya ?

Hukum menjawabnya adalah wajib berdasarkan firman Allah;

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu dengan yang semisal.”. (an Nisaa; 86)

Berkenaan dengan hukum memberi dan menjawab salam maka ulama –diantaranya adalah imam al Qurthubi, Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm, dan syaikhul islam Ibnu Taimiyyah rahimahumullah- telah sepakat menyatakan bahwa hukum memberi salam adalah sunnah yang ditekankan, dan hukum menjawabnya adalah wajib.

Bolehkah seorang tidak memberi atau menjawab salam seorang untuk memberi efek jera?

Bila seorang memiliki masalah dengan seorang, maka tidak mengapa tidak menjawab salamnya dalam jangka tiga hari untuk memberi efek jera kepadanya.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

“Jadilah kalian semua sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk mengucilkan dan memboikot saudaranya (tidak memberi salam kepadanya) lebih dari tiga hari.”. (HR. Bukhari, 15 / 277)

Siapa yang lebih utama; yang memberi salam atau yang menjawabnya ?

Meskipun memberi salam adalah ibadah yang sifatnya sunnah dan menjawabnya adalah wajib, namun yang lebih utama adalah seorang yang lebih dahulu memberikan salam. Hal ini disebabkan –wallahu a’lam- karena selain ia telah melaksanakan satu diantara semulia-mulia ibadah kepada Allah (memberi salam), ia pun telah menjadi sebab bagi saudaranya untuk mendapatkan pahala, yaitu ketika ia menjawab salam yang diucapkannya. Abu Umamah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلَانِ يَلْتَقِيَانِ أَيُّهُمَا يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ فَقَالَ أَوْلَاهُمَا بِاللَّهِ

“Ditanyakan kepada  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-; jika dua orang berjumpa, siapakah yang hendaknya mulai memberi salam?.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; yang lebih dahulu memberi salam adalah seorang yang lebih utama di sisi Allah.”. (HR. Tirmidzi, 5/56)

Dari hadits ini diketahui bahwa seorang yang terlebih dahulu memberi salam adalah seorang yang akan mendapatan keutmaan lebih dari Allah. Tetapi meski demikian ketentuan umum ini, agama –juga- memberikan spesifikasi, siapa yang seharusnya terlebih dahulu mulai memberi salam. Spesifikasi demikian, -tentu- didasarkan pada norma-norma umum dan ideal dalam kehidupan bermasyarakat. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata, dari  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

لِيُسَلِّمْ اَلصَّغِيرُ عَلَى اَلْكَبِيرِ, وَالْمَارُّ عَلَى اَلْقَاعِدِ, وَالْقَلِيلُ عَلَى اَلْكَثِيرِ (رواه البخاري). وَفِي رِوَايَةٍ له: يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي

“Hendaklah  seorang yang lebih muda memberi salam –terlebih dahulu- kepada seorang yang lebih tua, yang berjalan kepada yang duduk, kelompok yang lebih sedikit kepada kelompok yang lebih banyak.” (HR. Bukhari, 15/516). Disebutkan  dalam redaksi lain –juga- dari Beliau (15/518); “Hendaklah seorang yang berkendara terlebih dahulu memberi salam kepada seorang yang berjalan.”.

Bisakah menjawab salam dengan jawaban yang lebih ringkas dari lafadz salam yang diucapkan ?

Berdasarkan firman Allah;

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا

“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu dengan yang semisal.” (an Nisaa; 86), maka ulama menyatakan bahwa haram menjawab salam seorang mukmin dengan jawaban yang tidak sepadan. Hukum ini lebih ditegaskan lagi dengan sabda  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

لاَ غِرَارَ فِى صَلاَةٍ وَلاَ تَسْلِيمٍ

“Tidak boleh mengurangi hak shalat dan tidak boleh mengurangi hak seorang yang memberi salam (yaitu dengan menjawab salam dengan jawaban yang tidak sepadan).”. (HR. Abu Daud, 1/348)

Bagaimana hukum menjawab salam dengan isyarat ?

Memberi salam adalah satu diantara syiar Islam. Olehnya maka  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- telah menjelaskan secara detail tentang cara dan hal-hal lain yang berkenaan dengannya. Karena itu pula, maka  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang seorang untuk menyerupai kebiasaan orang-orang kafir dalam syiar ini.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

ليس منا من تشبه بغيرنا لا تشبهوا باليهود ولا بالنصاري فإن تسليم اليهود الإشارة بالأصابع وتسليم النصارى الإشارة بالأكف

“Tidak masuk dalam golongan kami orang-orang yang menyerupai kebiasaan orang-orang selain kami. Janganlah kalian menyerupai orang-orang yahudi dan nashrani. Sesungguhnya salamnya orang-orang yahudi dengan memberi isyarat dengan jari jemari, sedangkan salamnya orang-orang nashrani yaitu dengan memberi isyarat dengan telapak-telapak tangan.”. (HR. Tirmidzi, 5 / 56)

Apakah tetap disyari’atkan memberi salam bila sebelumnya seorang telah memberi salam kepada saudaranya, namun ia terpisah karena terhela oleh dinding atau pohon dan yang semisalnya ?

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

وَإِذَا لَقِيَ أَحَدُكُمْ صَاحِبَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ فَإِنْ حَالَ بَيْنَهُمَا شَجَرَةٌ أَوْ جِدَارٌ ثُمَّ لَقِيَهُ فَلْيُسَلِّمْ عَلَيْهِ

“Apabila salah seorang dari kalian berjumpa dengan saudaranya, maka hendaklah ia memberi salam kepadanya. Apabila mereka berdua terpisah oleh sebuah pohon atau dinding, lantas berjumpa kembali, maka hendaklah ia kembali memberi salam kepada saudaranya itu.”. (Subulus Salaam, 7/8). Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَمَاشَوْنَ فَإِذَا لَقِيَتْهُمْ شَجَرَةٌ أَوْ أَكَمَةٌ تَفَرَّقُوا يَمِينًا وَشِمَالًا فَإِذَا الْتَقَوْا مِنْ وَرَائِهَا يُسَلِّمُ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ

“Dahulu para sahabat biasa berjalan beriring. Maka ketika berjumpa dengan pohon atau bukit kecil, mereka pun berpisah, sebagian ke kanan dan sebagian ke kiri. Lantas ketika kembali bertemu, mereka pun kembali saling memberi salam.”. (Subulus Salaam, 7/8)

Apakah memberi salam juga disyari’atkan bagi seorang yang hendak berpisah ?

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

إذَا قَعَدَ أَحَدُكُمْ فَلْيُسَلِّمْ وَإِذَا قَامَ فَلْيُسَلِّمْ وَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ

“Apabila salah seorang dari kalian duduk dalam sebuah majelis, maka hendaklah ia memberi salam kepada orang-orang yang berada dalam majelis itu. Dan apabila ia hendak beranjak pergi dari majelis itu, hendaklah pula ia memberi salam. Tidaklah ucapan salam pertama lebih utama dari ucapan salam kedua.”. (HR. Nasaai, 6/100)

Bagaimana jika seorang memberi salam kepada sekumpulan orang, wajibkah seluruh orang yang mendengarnya menjawab salam orang itu ?

Hukum memberi salam bagi sekumpulan orang kepada yang lainnya adalah sunnah kifayah. Maksudnya, bila seorang dari sekumpulan itu telah memberi salam; maka dengan itu mereka semua terhitung telah melaksanakan kewajibannya kepada saudara mereka itu.

Adapun menjawab salam seorang yang ditujukan kepada sekumpulan orang, maka hukumnya adalah wajib kifayah. Maksudnya, bila seorang dari sekumpulan itu telah menjawabnya; maka dengan itu gugurlah kewajiban seluruh orang yang ada dalam kumpulan itu untuk menjawabnya. Tetapi jika tidak satupun dari mereka yang menjawabnya, maka seluruh orang yang ada dalam kumpulan tersebut akanlah berdosa.

Apakah ketika memberi salam disyari’atkan berjabat tangan ?

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَتَفَرَّقَا

“Tidak seorang pun dari dua orang muslim bertemu, lantas keduanya saling berjabat tangan, melainkan mereka akan diampuni hingga usai berjabat tangan.”. (HR. Ahmad, 30 / 629)

Apakah disyari’atkan juga saling berpelukan ?

Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا

“Wahai  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, apakah salah seorang kami menunduk (untuk memberi penghormatan) kepada yang lainnya ?.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Tidak”. Kami berkata; “Apakah saling memeluk ?”.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; “Tidak, namun hendaklah mereka saling bersalaman.”. (HR. Ibnu Majah, 2 / 1220)

Dari keterangan ini diketahui bahwa yang disyari’atkan ketika seorang mengucapkan salam pada saat berjumpa atau akan berpisah dengan saudaranya adalah berjabat tangan. Adapun berpelukan, maka hal ini adalah perkara mubah, dan bukanlah merupakan hal yang disyari’atkan. Terkecuali jika seorang bertemu dengan saudaranya yang telah lama tidak berjumpa dengannya, misalnya karena safar. Maka ketika itu disyari’atkan –juga- untuk berpelukan, selain memberi salam dan berjabat tangan. Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم إذا تلاقوا تصافحوا، وإذا قدموا من سفر تعانقوا

“Dahulu para sahabat  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- saling berjabat tangan apabila bertemu. Adapun bila mereka kembali dari safar, maka mereka saling berpelukan.”. (Majma’ Az Zawaaid, 7/347). Riwayat lain yang menyatakan adanya contoh berpelukan pada saat berjumpa ketika seorang tiba dari safar adalah riwayat yang disampaikan oleh Abdullah bin Muhammad bin Aqiil, bahwasanya Beliau mendengar Jabir bin Abdullah –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

بَلَغَنِي حَدِيثٌ عَنْ رَجُلٍ سَمِعَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاشْتَرَيْتُ بَعِيرًا ثُمَّ شَدَدْتُ عَلَيْهِ رَحْلِي فَسِرْتُ إِلَيْهِ شَهْرًا حَتَّى قَدِمْتُ عَلَيْهِ الشَّامَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أُنَيْسٍ فَقُلْتُ لِلْبَوَّابِ قُلْ لَهُ جَابِرٌ عَلَى الْبَابِ فَقَالَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ قُلْتُ نَعَمْ فَخَرَجَ يَطَأُ ثَوْبَهُ فَاعْتَنَقَنِي وَاعْتَنَقْتُهُ فَقُلْتُ حَدِيثًا بَلَغَنِي عَنْكَ أَنَّكَ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْقِصَاصِ فَخَشِيتُ أَنْ تَمُوتَ أَوْ أَمُوتَ قَبْلَ أَنْ أَسْمَعَهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ قَالَ الْعِبَادُ عُرَاةً غُرْلًا بُهْمًا قَالَ قُلْنَا وَمَا بُهْمًا قَالَ لَيْسَ مَعَهُمْ شَيْءٌ

“Saya pernah mendengar seorang laki-laki menyampaikan sebuah hadits yang didengarnya langsung dari  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Maka saya pun membeli seekor unta, kemudian saya segera melakukan safar untuk menemui orang tersebut. Setelah sebulan melakukan perjalanan, akhirnya saya pun tiba di Syam, dan ketika itu tahulah saya bahwa laki-laki itu adalah Abdullah bin Unais –radhiyallahu ‘anhu-. Saya berkata kepada penjaga; katakan kepada Abdullah bahwa Jabir ingin menemuinya. Abdullah bin Unais berkata; maksudnya Jabir bin Abdullah. Saya berkata; Ia.  Maka Beliau (Abdullah bin Unais) bersegera menemuiku hingga ia berjalan dengan menginjak kain pakaiannya. Ketika bertemu, Ia pun memelukku dan akupun memeluknya. Saya (Jabir) berkata –menjelaskan maksud kedatanganku menemuinya; saya mendengar ada sebuah hadits  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang bersumber darimu tentang balasan yang akan diterima oleh seorang di akhirat (qishash). Olehnya saya merasa khawatir jika engkau meninggal (sebelumku) atau saya meninggal terlebih dahulu, sedang saya belum mendengar hadits itu. Abdullah bin Unais berkata; saya mendengar  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; Kelak pada hari kiamat, manusia akan dikumpulkan dalam keadaan tidak berbusana dan tidak berkhitan.”. (HR. Ahmad,  25 / 431)

Apakah hukum memberi salam sama dengan hukum menitip salam?

Hukum memberi salam sebagaimana telah disebutkan pada bahasan yang lalu adalah sunnah yang sangat ditekankan. Hukum ini –juga- berlaku sama dengan hukum menitip salam; pun hal demikian adalah perbuatan yang disyari’atkan. Beberapa dalilnya adalah;

1) Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أَنَّ فَتًى مِنْ أَسْلَمَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى أُرِيدُ الْجِهَادَ وَلَيْسَ لِى مَالٌ أَتَجَهَّزُ بِهِ. قَالَ : اذْهَبْ إِلَى فُلاَنٍ الأَنْصَارِىِّ فَإِنَّهُ كَانَ قَدْ تَجَهَّزَ فَمَرِضَ فَقُلْ لَهُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ وَقُلْ لَهُ ادْفَعْ إِلَىَّ مَا تَجَهَّزْتَ بِهِ

“Seorang pemuda yang berasal dari “Aslam” berkata, Wahai  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- sesungguhnya saya ingin berjihad, tetapi saya tidak memiliki perbekalan.  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata; pergilah ke Fulan dari Anshar. Sesungguhnya Dia itu telah mempersiapkan perbekalan, namun dia batal berangkat karena sakit. Sampaikan salamku kepadanya dan mintalah perbekalannya …”. (HR. Abu Daud, 3/46).

2) Aisyah –radhiyallahu ‘anha- pernah berkata, bahwa  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah berkata kepadanya;

يا عائش هذا جبريل يقرىء عليك السلام قالت وعليه السلام ورحمة الله.  قالت وهو يرى ما لا أرى

“Wahai Aisy, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu. Aisyah berkata;

“وعليه السلام ورحمة الله”

(semoga keselamatan dan rahmat Allah pun menyertainya).

Aisyah berakta;  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melihat sesuatu yang tidak saya lihat.”. (al Adab al Mufrad; 1/288).

3) Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أتى جبريل عليه الصلاة و السلام إلى النبي صلى الله عليه و سلم و عنده خديجة رضي الله عنها فقال : إن الله يقرئ خديجة السلام فقالت : إن الله هو السلام و عليك السلام و رحمة الله

“Jibril alaihissalam pernah datang menemui  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang ketika itu tengah bersama Khadijah radhiyallahu anha. Jibril berkata; Allah menyampaikan salam buat Khadijah. Mengetahui hal itu, Khadijah berkata;

إن الله هو السلام و عليك السلام و رحمة الله

“Sesungguhnya Allah, Dialah as Salaam (sumber keselamatan), semoga salam dan rahmat Allah senantiasa tertuju kepadamu.”.

Dari beberapa keterangan ini diketahui bahwa menitip dan menjawab salam titipan adalah dua hal yang disyari’atkan; hukumnya sama dengan penjabaran hukum yang telah lalu tentang hukum memberi dan menjawab salam. Ibnu Muflih (al Aadaab, 1/7) berkata;

ويستحب أن يسلم على الرسول . قيل لأحمد : إن فلاناً يقرئك السلام . قال : عليك وعليه السلام . وقال في موضع آخر : وعليك وعليه السلام . ا هـ

“Disunnahkan untuk –juga- memberi salam kepada orang yang menyampaikan salam. Pernah disampaikan kepada imam Ahmad –rahimahullah-; Fulan menitip salam kepadamu. Imam Ahmad berkata;

عليك وعليه السلام

dalam kesempatan lain Beliau berkata;

وعليك وعليه السلام

(Semoga keselamatan tertuju kepadamu dan juga kepadanya)

Pernyataan serupa –juga- disampaikan oleh imam an Nawawi –rahimahullah- di dalam al Adzkaar, hal. 212.

Adapun menyampaikan titipan salam, maka hukumnya hendaklah dilihat dari keadaan orang yang menerima titipan salam tersebut;

*) Bila orang tersebut menyetujui permintaan seorang agar menyampaikan salam kepada orang tertentu, maka wajiblah baginya untuk menyampaikan amanah itu, berdasarkan keumuman perintah untuk menyampaikan amanah.

*) Namun bila orang itu tidak menyatakan menerima amanah itu secara mutlak, maka tidaklah ia wajib menyampaikannya.

Hukum memberi dan menjawab salam orang kafir

Mayoritas ulama berpendapat bahwa tidak boleh memberi salam terlebih dahulu kepada orang-orang Yahudi dan Nashrani. Demikianlah makna asal yang ditunjukkan oleh dalil-dalil tentang pelarangan hal tersebut. (Subul as Salaam, 7/39). Ali –radhiyallahu ‘anhu- berkata, dari  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ;

لَا تَبْدَؤُوا اَلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى بِالسَّلَامِ

“Janganlah kalian memberi salam terlebih dahulu kepada seorang nashara dan seorang yahudi.”. (HR. Muslim, 7/5)

Selain makna tekstual dari hadits ini, pelarangan ini –juga- dikuatkan dengan alasan yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa “as salaam” itu adalah satu diantara nama-nama Allah. Olehnya, tidaklah pantas jika nama Allah yang mulia ini disandarkan kepada orang-orang yang memusuhi dan dimurkai oleh Nya.

Adapun jika seorang muslim melalui sekumpulan orang yang terdiri dari orang-orang muslim dan orang-orang non muslim, maka tidak mengapa ia memberi salam dengan memaksudkan orang-orang muslim diantara mereka dan bukan orang-orang selain mereka.

Berdiri menyambut kedatangan seorang

Terkadang jika seorang datang menemui saudaranya, maka orang yang menyambut kedatangan saudaranya itu berdiri menyambutnya. Apakah hal demikian diperbolehkan ?. Sebelum menjawab pertanyaan ini, perlu diketahui bahwa ada beberapa keadaan berdirinya seorang karena orang tertentu. Beberapa keadaan itu adalah;

1. Berdiri untuk seorang yang tengah duduk

Berdiri untuk seorang yang tengah duduk adalah perkara yang diharamkan karena hal itu adalah sesuatu yang mencerminkan sifat sombong atau dapat menjebak seorang ke dalam sifat tersebut. Disebutkan dalam sebuah riwayat oleh Jabir –radhiyallahu ‘anhu-;

اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا فَصَلَّيْنَا بِصَلاَتِهِ قُعُودًا فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ ؛ إِنْ كِدْتُمْ آنِفِا لَتَفْعَلُونَ فِعْلَ فَارِسَ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلاَ تَفْعَلُوا

“Pernah  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- shalat duduk ketika sakit, sedangkan kami shalat berdiri di belakang Beliau. Ketika itu, Abu Bakar –radhiyallahu ‘anhu- yang mengeraskan suara, menyampaikan takbir kepada para jama’ah shalat. Mengetahui kami shalat berdiri –di belakang-,  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- kemudian memberi isyarat kepada kami agar juga shalat duduk, maka kamipun shalat duduk. Ketika Beliau telah salam, Beliau bersabda; “Hampir-hampir saja –tadi- kalian melakukan perbuatan yang sama dengan perlakuan pemimpin-pemimpin bangsa Romawi dan Persia. Mereka berdiri untuk mengagungkan para pemimpinnya, sedangkan para pemimpin tersebut duduk. Janganlah kalian lakukan hal tersebut”. (HR. Muslim, 2/19)

2. Berdiri untuk memberi ucapan selamat atau belasungkawa bagi seorang.

Berdiri semacam ini tidaklah masuk dalam kategori berdiri yang diharamkan. Diantara keterangan yang mengecualikan jenis berdiri demikian adalah kisah Ka’ab bin Malik, ketika Beliau ke masjid memenuhi panggilan  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang akan mengabari Beliau tentang diterimanya taubatnya oleh Allah. Maka ketika tiba, Thalhah bin Ubaidillah segera bangkit, menyambut dan menjabat tangan Beliau, sementara Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak mengingkari hal itu. (HR. Bukhari, 10/115)

Diikutkan pula dengan keadaan mereka, yaitu orang yang tengah dirundung musibah. Bila seorang boleh berdiri untuk memberi ucapan salamat kepada seorang, maka berdiri untuk memberi ucapan belasungkawa tentu lebih utama untuk diperbolehkan.

3. Berdiri menyambut kedatangan seorang dari safar.

Jenis berdiri demikian –pun adalah jenis berdiri yang dikecualikan dari pelarangan berdiri bagi seorang. Pengecualiaan ini didasarkan pada keterangan Anas –radhiyallahu ‘anhu- tentang kebiasaan para sahabat yang saling berpelukan jika tiba dari safar. Ibnu Muflih –rahimahullah- berkata;

والمعانقة لا تكون إلا بالقيام

“Berpelukan tidak akan mungkin dilakukan kecuali dengan berdiri.”. (al Aadaab; 1/459)

4. Berdiri menyambut kedatangan suami atau ayah atau sebaliknya.

Berdiri jenis ini –juga- adalah jenis berdiri yang dikecualikan dari jenis berdiri yang diharamkan, sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah –radhiyallahu ‘anha- tentang diri Beliau bersama  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika peristiwa ifk, yaitu disaat  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- mendatangi Aisyah hendak menyampaikan kabar gembira dari Allah akan bersihnya Beliau dari tuduhan berbuat serong. Ketika itu –kata Aisyah- ibuku berkata;

قُومِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ لَا وَاللَّهِ لَا أَقُومُ إِلَيْهِ وَلَا أَحْمَدُ إِلَّا اللَّهَ

“Berdiri dan sambutlah  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-!. Saya berkata; demi Allah, saya tidak akan berdiri menyambutnya, dan saya tidak akan memuji siapapun melainkan Allah –semata-.”. (HR. Bukhari, 6/576)

Dari keterangan ini diketahui bahwa perbuatan seorang istri, berdiri menyambut kedatangan suaminya adalah tidak mengapa. Seandainya perbuatan itu tidak dibenarkan, maka niscaya  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- akanlah menegur ibu Aisyah –radhiyallahu ‘anha- ketika memerintah Aisyah berdiri menyambut  Beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Hukum yang serupa –pun dikatakan bagi seorang ayah yang berdiri menyambut kedatangan anaknya atau sebaliknya. Aisyah –radhiyallahu ‘anha- berkata;

ما رأيت أحدا كان أشبه حديثا وكلاما برسول الله صلى الله عليه و سلم من فاطمة وكانت إذا دخلت عليه قام إليها فرحب بها وقبلها وأجلسها في مجلسه وكان إذا دخل عليها قامت إليه فأخذت بيده فرحبت وقبلته وأجلسته في مجلسها فدخلت عليه في مرضه الذي توفي فرحب بها وقبلها

“Saya tidak pernah melihat seorang yang lebih serupa ucapan dan perkataannya dengan  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melebihi Fathimah –radhiyallahu ‘anha-. Apabila Fathimah masuk menemui  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka Beliau berdiri menyambutnya, mencium dan mendudukkannya di tempat duduknya. Sebaliknya, jika  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- datang menemuinya, maka Beliau juga berdiri menyambut  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, mencium dan mempersilahkannya duduk di tempat duduknya. Namun ketika Fathimah datang menjenguk  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika sakit, maka Beliau hanya dapat menyambut dan menciumnya.”. (Adab al Mufraad, 1 / 337)

Maka dari dua keterangan ini diketahui bahwa berdiri menyambut kedatangan keluarga yang sangat disayangi adalah jenis berdiri yang tidak masuk dalam kategori yang diharamkan.

5. Berdiri ketika melihat seorang sebagai bentuk penghormatan.

Gambaran dari keadaan ini adalah bila ada seorang yang masuk dalam suatu ruangan, dan orang itu bukanlah keluarga dekat, misalnya; seorang guru, pemimpin, atau yang semisalnya, lantas orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berdiri untuk memberi penghormatan kepadanya, apakah jenis berdiri seperti ini diperbolehkan?.

Berkenaan dengan jenis berdiri semacam ini, Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

لم يكن شخص أحب إليهم من رسول الله صلى الله عليه و سلم قال وكانوا إذا رأوه لم يقوموا لما يعلمون من كراهيته لذلك

“Tiada seorang pun yang lebih dicintai oleh para sahabat melainkan  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-. Namun bila mereka melihat  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak seorang pun dari mereka yang berdiri untuk  menyambut kedatangannya, karena mereka mengetahui bahwa  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak menyukai hal tersebut.”. (HR. Tirmidzi, 5 / 90)

Berapa kali memberi salam ketika hendak masuk ke rumah seorang ?

Bila seorang hendak masuk ke rumah seorang maka diwajibkan untuk memberi salam hingga tiga kali. Dan jika pada kali ketiga ia belum juga mendapatkan izin dari penghuni rumah, maka hendaklah ia pergi. Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- jika mengucapkan salam, maka Beliau mengucapkannya sebanyak tiga kali.”; maksudnya ketika memberi salam hendak masuk ke rumah seorang atau jika seorang yang diberi salam tidak mendengar salam yang disampaikan pada kali pertama. Abu Sa’id al Khudry –radhiyallahu ‘anhu- berkata;

إِذَا اسْتَأْذَنَ أَحَدُكُمْ ثَلَاثًا فَلَمْ يُؤْذَنْ لَهُ فَلْيَرْجِعْ

“Apabila salah seorang dari kalian telah meminta izin sebanyak tiga kali dan ia belum diizinkan untuk masuk, maka –ketika itu- hendaklah ia pulang.”. (HR. Bukhari, 15 / 538)

Bila rumah yang hendak dimasuki oleh seorang tidak berpenghuni, maka tetaplah ia disyari’atkan mengucapkan salam sebelum memasukinya. Allah berfirman;

فَإِذَا دَخَلْتُمْ بُيُوتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”. (an Nuur; 61). Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

إذا دخل البيت غير المسكون فليقل السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين

“Apabila seorang masuk ke rumah yang tidak berpenghuni hendaklah dia berkata assalamu ‘alaina wa ala ibaadillahi as shaalihiin (semoga keselamatan senantiasa tercurah kepada kami dan kepada seluruh hamba Allah yang shaleh).”. (al Adab al Mufrad; 1/363)

Berjabat tangan ketika usai shalat

Secara umum dikatakan bahwa berjabat tangan ketika bertemu atau berpisah adalah hal yang disunnahkan dan dapat menumbuhkan serta mengokohkan nilai-nilai persaudaraan. Maka bila seorang berjumpa di masjid dengan saudaranya, ketika itu disunnahkan untuk berjabat tangan dengannya. Dan bila ia tidak sempat berjabat tangan dengannya ketika itu, maka boleh ia berjabat tangan setelah mengucapkan zikir-zikir yang disyari’atkan usai shalat.

Demikianlah ketentuan umum tentang syari’at berjabat tangan. Namun, hal yang dilakukan oleh kaum muslimin saat ini yaitu bersegera menjabat tangan para makmun ketika usai shalat lima waktu sebelum melafadzkan zikir-zikir yang disyari’atkan; maka pekerjaan ini adalah perkara yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan para sahabat setelahnya.

Olehnya, hendaknya seorang muslim senantiasa berupaya untuk meneladani  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam setiap perlakuannya, karena sesungguhnya sebaik-baik perbuatan adalah apa yang dicontohkannya, dan seburuk-buruk perbuatan adalah perkara yang diada-adakan. (Lihat Fataawa Mawqi’e al Aluukah, no. 1419, di jawab oleh syaikh Abdul Aziz bin Bazz)

Hukum memberi salam kepada wanita yang bukan mahram

Hukum asal bahwa anjuran memberi salam adalah anjuran yang bersifat umum bagi sesama jenis ataupun yang berlainan jenis. Asma binti Yaziid –radhiyallahu ‘anha- berkata;

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا وَعُصْبَةٌ مِنْ النِّسَاءِ قُعُودٌ فَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَيْهِنَّ بِالسَّلَامِ

“Pernah suatu hari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- melewati masjid dan sekumpulan wanita tengah duduk-duduk. Saat itu,  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memberi isyarat dengan tangannya kepada mereka, memberi salam.”. (HR. Ahmad, 45 / 569)

Namun tersebab pertimbangan maslahat mafsadat, maka ulama pun berbeda pandang tentang hukum memberi salam bagi laki-laki kepada wanita atau sebaliknya. Tetapi setelah melihat dan mempelajari dalil-dalil dari kelompok-kelompok ulama yang berbeda pendapat, maka nampak –wallahu a’lam- bahwa pendapat yang lebih tepat adalah yang menyatakan bahwa hukumnya adalah boleh, sesuai dengan hukum asal yang telah disebutkan, terkecuali jika dikhawatirkan ada mafsadat yang akan ditimbulkannya.

Diantara ulama yang berpandangan demikian adalah imam Bukhari rahimahullah. Beliau mengangkat judul bab di dalam kitab “Shahih”nya;

باب تَسْلِيمِ الرِّجَالِ عَلَى النِّسَاءِ وَالنِّسَاءِ عَلَى الرِّجَالِ

“Bab tentang (bolehnya) laki-laki memberi salam kepada wanita dan wanita memberi salam kepada laki-laki.”. Mengomentari judul ini, imam Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata;

أشار بهذه الترجمة إلى رد ما أخرجه عبد الرزاق عن معمر عن يحيى بن أبي كثير: بلغني أنه يكره أن يسلم الرجال على النساء والنساء على الرجال

“Dengan judul ini (imam Bukhari –rahimahullah-) hendak menyatakan ketidaksetujuannya terhadap riwayat yang disampaikan oleh Abdul Razzaq, dari Ma’mar, dari Yahya bin Abi Katsiir, Beliau berkata; telah sampai kabar kepadaku bahwa dimakruhkan bagi laki-laki memberi salam kepada wanita, dan demikian juga sebaliknya.”. Selanjutnya Beliau berkata;

والمراد بجوازه أن يكون عند أمن الفتنة

“Maksud pembolehan ini adalah ketika seorang merasa aman dari fitnah.”. Beliau juga berkata, menukil pernyataan imam al Hulaimiy;

كان النبي صلى الله عليه وسلم للعصمة مأمونا من الفتنة، فمن وثق من نفسه بالسلامة فليسلم وإلا فالصمت أسلم

“Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- adalah seorang yang terjaga dari fitnah karena ‘ishmah yang Beliau miliki (penjagaan khusus dari Allah). Maka barangsiapa yang merasa yakin tidak akan timbul fitnah, tidaklah mengapa ia memberi salam kepada lawan jenisnya. Namun jika ia tidak merasa yakin akan hal tersebut, maka diam itu lebih selamat baginya.”. Al Imam an Nawawi –rahimahullah- berkata;

قال أصحابنا : ولو سلم رجل على امرأة أو امرأة على رجل فإن كان بينهما محرمية أو زوجية أو كانت أمته كان سنة ، ووجب الرد ، وإلا فلا يجب إلا أن تكون عجوزا خارجة عن مظنة الفتنة

“Ulama semadzhab kami berkata; bila seorang laki-laki memberi salam kepada seorang wanita; maka jika antara keduanya ada ikatan mahram, atau ikatan pernikahan, atau jika sang wanita itu adalah budaknya; ketika itu hukum memberi salam adalah sunnah dan menjawabnya adalah wajib. Tetapi bila tidak demikian, maka menjawabnya tidaklah wajib. Terkecuali bagi seorang wanita tua yang tidak lagi dikhawatirkan timbul fitnah dengannya, maka wajib baginya menjawab salam yang ditujukan kepadanya.”. (al Majmu’; 4 / 506)

Maka berdasarkan keterangan-keterangan yang telah disebutkan disimpulkan bahwa;

*) Hukum asal memberi salam, baik bagi sesama jenis atau yang berlawanan jenis adalah sunnah dan menjawabnya adalah wajib.

*) Dikecualikan dari hukum asal ini adalah jika dikahwatirkan timbulnya fitnah, maka ketika itu hukum memberi salam adalah makruh dan menjawabnya pun adalah makruh sesuai dengan kaidah yang menyatakan bahwa hukum dari sebuah perlakuan yang merupakan wasilah terhadap sebuah pekerjaan adalah sama dengan hukum pekerjaan itu.

*) Adanya kekhawatiran yang dimaksud bukanlah sesuatu yang tidak beralasan. Justru adanya kekhawatiran itu adalah sesuatu yang sungguh amat beralasan sebagaimana peringatan  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam-;

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ

“Tidaklah saya meninggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki melainkan fitnah wanita.”. (HR. Bukhari, 12 / 583)

Bila seorang tengah buang hajat, wajibkah atasnya menjawab salam?

Berkaitan dengan masalah ini, Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata;

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَبُولُ فَسَلَّمَ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

“Seorang laki-laki pernah berjalan dan –ketika itu-  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- buang air kecil. Laki-laki itu memberi salam kepada  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang tengah buang air kecil, namun Beliau tidak menjawabnya.”. (HR. Muslim, 1/194).

Mengomentari hadits ini, Imam an Nawawi –rahimahullah- berkata;

فِيهِ أَنَّ الْمُسْلِم فِي هَذَا الْحَال لَا يَسْتَحِقّ جَوَابًا ، وَهَذَا مُتَّفَق عَلَيْهِ . قَالَ أَصْحَابنَا : وَيُكْرَه أَنْ يُسَلِّم عَلَى الْمُشْتَغِل بِقَضَاءِ حَاجَة الْبَوْل وَالْغَائِط ، فَإِنْ سَلَّمَ عَلَيْهِ كُرِهَ لَهُ رَدّ السَّلَام . قَالُوا : وَيُكْرَه لِلْقَاعِدِ عَلَى قَضَاء الْحَاجَة أَنْ يَذْكُر اللَّه تَعَالَى بِشَيْءٍ مِنْ الْأَذْكَار … وَكَذَلِكَ لَا يَأْتِي بِشَيْءٍ مِنْ هَذِهِ الْأَذْكَار فِي حَال الْجِمَاع ، وَإِذَا عَطَسَ فِي هَذِهِ الْأَحْوَال يَحْمَد اللَّه تَعَالَى فِي نَفْسه وَلَا يُحَرِّك بِهِ لِسَانه وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ مِنْ كَرَاهَة الذِّكْر فِي حَال الْبَوْل وَالْجِمَاع هُوَ كَرَاهَة تَنْزِيه لَا تَحْرِيم ، فَلَا إِثْم عَلَى فَاعِله, وَكَذَلِكَ يُكْرَه الْكَلَام عَلَى قَضَاء الْحَاجَة بِأَيِّ نَوْع كَانَ مِنْ أَنْوَاع الْكَلَام ، وَيُسْتَثْنَى مِنْ هَذَا كُلّه مَوْضِع الضَّرُورَة ، كَمَا إِذَا رَأَى ضَرِيرًا يَكَاد أَنْ يَقَع فِي بِئْر … فَإِنَّ الْكَلَام فِي هَذِهِ الْمَوَاضِع لَيْسَ بِمَكْرُوهٍ بَلْ هُوَ وَاجِب ، وَهَذَا الَّذِي ذَكَرْنَاهُ مِنْ الْكَرَاهَة فِي حَال الِاخْتِيَار هُوَ مَذْهَبنَا وَمَذْهَب الْأَكْثَرِينَ ، وَحَكَاهُ اِبْن الْمُنْذِر عَنْ اِبْن عَبَّاس ، وَعَطَاء ، وَسَعِيد الْجُهَنِيّ ، وَعِكْرِمَة رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ ، وَحُكِيَ عَنْ إِبْرَاهِيم النَّخَعِيِّ وَابْن سِيرِينَ أَنَّهُمَا قَالَا : لَا بَأْس بِهِ

“Pelajaran dari hadits ini bahwa seorang muslim yang memberi salam kepada seorang yang tengah buang hajat, tidak berhak mendapatkan jawaban atas salamnya. Yang demikian adalah perkara yang telah disepakati oleh para ulama. Para ulama semadzhab kami berkata; dimakruhkan bagi seorang memberi salam kepada seorang yang tengah membuang hajat. Apabila ada seorang yang memberi salam kepada orang yang tengah buang hajat, maka dimakruhkan bagi orang tersebut untuk menjawab salam itu. Ulama semadzhab kami berkata; dimakruhkan juga (tidak diharamkan) bagi seorang ketika tengah buang hajat demikian pula ketika berjima’ untuk menyebutkan satu pun bentuk dzikir kepada Allah. Maka bilamana –misalnya- seorang bersin pada saat-saat yang disebutkan, hendaknya ia bertahmid di dalam hati dan tidak menggerakkan lisannya untuk mengucapkan tahmid. Selain itu, dimakruhkan juga berbicara ketika tengah buang hajat, apa pun jenis pembicaraan itu. Tetapi dikecualikan dari hukum ini keadaan-keadaan darurat, contohnya jika seorang melihat seorang buta yang akan terjatuh ke dalam sumur, maka ketika itu (berbicara) memberi peringatan kepadanya tidaklah makruh bahkan menjadi wajib. Pendapat yang kami ungkapkan ini bahwa dimakruhkan untuk berbicara ketika tengah buang hajat adalah pendapat dari madzhab kami (syafi’e) dan pendapat dari kebanyakan ulama. Diantaranya -sebagaimana yang disebutkan oleh imam Ibnu al Mundzir- adalah Ibnu Abbas, Atha’, Sa’id al Juhani, dan ‘Ikrimah –radhiyallahu ‘anhum-. Adapun Ibrahim an Nakha’I dan Ibnu Siiriin, maka dinukil dari mereka berdua bahwa tidak mengapa bagi seorang berbicara ketika tengah membuang hajat.”. (Syarhu an Nawawi, 2 / 86).

Apakah dimakruhkan bagi seorang yang berhadats untuk menjawab salam hingga ia berthaharah ?

Asal pertanyaan ini adalah hadits Abu al Juhaim –radhiyallahu ‘anhu-;

أَقْبَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ نَحْوِ بِئْرِ جَمَلٍ فَلَقِيَهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَقْبَلَ عَلَى الْجِدَارِ فَمَسَحَ بِوَجْهِهِ وَيَدَيْهِ ثُمَّ رَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

“Pernah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tiba dari arah bi’ir jamal. Ketika itu, seorang laki-laki menjumpai Beliau dan memberi salam padanya. Namun Beliau tidak menjawabnya hingga Beliau mendapati sebuah tembok, dan membasuh wajah dan kedua tangannya (tayammum). Setelahnya, barulah Beliau menjawab salam yang disampaikan oleh Abu Juhaim.”. (HR. Bukhari, 1 / 347). Sinyal yang hendak disampaikan melalui hadits ini yaitu dimakruhkan bagi seorang yang berada dalam keadaan tidak suci untuk menjawab salam yang disampaikan kepadanya hingga ia bersuci. Namun imam at Tirmidzi –rahimahullah- berkata;

وإنما يكره هذا عندنا إذا كان على الغائط والبول

“Menurut kami hukum makruh menjawab salam hanyalah ditujukan kepada orang-orang yang sedang buang hajat besar atau kecil.”. (Sunan at Tirmidzi, 1 / 150). Adapun hadits yang disebutkan, maka diarahkan maknanya bahwa ketika itu  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ingin menjawabnya dalam keadaan suci meskipun keadaan itu bukanlah hal yang wajib. Keadaan ini sama dengan keadaan orang-orang yang dibolehkan berbuka puasa di bulan Ramadhan namun tetap saja ia berpuasa, karena ingin tampil serupa dengan orang-orang yang berpuasa ketika itu.

Apakah seorang yang tengah shalat disyari’atkan menjawab salam ?

Ulama telah sepakat menyatakan bahwa seorang yang tengah shalat tidak dibenarkan untuk menjawab salam orang yang memberi salam kepadanya ketika ia tengah melaksanakan shalat. Dalilnya adalah hadits Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-;

كُنَّا نُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَيَرُدُّ عَلَيْنَا فَلَمَّا رَجَعْنَا مِنْ عِنْدِ النَّجَاشِيِّ سَلَّمْنَا عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْنَا وَقَالَ إِنَّ فِي الصَّلَاةِ شُغْلًا

“Dahulu kami biasa memberi salam kepada  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- ketika Beliau tengah melaksanakan shalat, dan Beliau pun menjawabnya. Namun ketika kami kembali dari an Najasy, Beliau tidak lagi menjawab salam yang kami sampaikan ketika Beliau shalat, dan Beliau berkata; sesungguhnya di dalam shalat itu ada kesibukan.”. (HR. Bukhari, 3 / 83). Dalam riwayat lain, -juga- dari Beliau;

كنا نتكلم في الصلاة ونرد السلام ويسأل الرجل صاحبه عن حاجته قال ودخلت يوما والنبي صلى الله عليه وسلم يصلي بالناس فسلمت فلم يرد علي أحد فاشتد ذلك علي فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إنه لم يمنعني أن أرد عليك إلا أنا أمرنا أن نقوم قانتين لا نتكلم في الصلاة

“Dahulu kami biasa bercakap, menjawab salam, dan meminta tolong kepada seseorang dalam shalat. Maka suatu ketika saya masuk menemui Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang tengah mengimami orang-orang. Saya memberi salam dan tidak seorang pun menjawabnya, hingga saya pun merasa amat gelisah. Ketika shalat telah usai,  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata kepadaku; tidaklah yang menghalangiku untuk menjawab salammu melainkan karena Allah telah memerintahkan kita untuk diam, tidak berbicara ketika tengah shalat.”. (al Muharrar al Wajiiz, 1 / 316)

Namun pun demikian, jika seorang ingin menjawabnya, maka boleh menjawabnya dengan memberi isyarat dengan tangan atau boleh juga ia menjawabnya ketika telah selesai shalat. Dalinya adalah hadits Shuhaib –radhiyallahu ‘anhu-;

مررت برسول الله صلى الله عليه و سلم وهو يصلي فسلمت عليه فرد إلى إشارة

“Pernah saya melewati  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- dan memberi salam kepada Beliau ketika tengah shalat. Ketika itu, Beliau menjawab salamku dengan memberi isyarat (dengan tangan).”. (HR. Tirmidzi, 2 / 203)

Demikian beberapa hukum penting berkenaan dengan syari’at memberi salam. Semoga Allah menjadikan kami dan seluruh kaum muslimin sebagai orang-orang yang senantiasa tergerak hatinya untuk menghidupkan syiar agama. Innahu waliyyu dzalika wa al qaadiru ‘alaihi.

You may also like...

%d bloggers like this: