Gambar Makhluk Bernyawa Yang Tidak Utuh

    0
    59

    Pertanyaan :

    Bagaimana sebuah gambar bisa dikatakan sebagai gambar makhluk bernyawa? Apakah hanya gambar kesatuan utuh dari kepala sampai kaki atau termasuk juga gambar yang hanya sebagian tubuh misalnya dari kepala sampai dada ?

    Jawab :

    Jawaban dari permasalahan gambar dengan berbagai cabang masalahnya banyak terdapat beda pendapat dikalangan ulama. Termasuk didalamnya “apakah yang dimaksud dengan gambar makhluk bernyawa yang terlarang ?. Apakah hanya dengan menggambar seluruhnya atau termasuk juga menggambar wajah atau bagian tubuh tertentu ?.”.

    Namun jawaban yang lebih tepat –wallahu a’lam- adalah pernyataan Al Imam Ibnu Qudamah rahimahullah bahwa larangan menggambar makhluk bernyawa itu hanya tertuju pada gambar yang dinyatakan bahwa makhluk itu hidup dengan anggota-anggota tubuh yang ada pada gambar tersebut. Beliau berkata;

    فَإِنْ قَطَعَ رَأْسَ الصُّورَةِ، ذَهَبَتْ الْكَرَاهَةُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الصُّورَةُ الرَّأْسُ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلِيس بِصُورَةٍ … وَإِنْ قَطَعَ مِنْهُ مَا لَا يُبْقِي الْحَيَوَانَ بَعْدَ ذَهَابِهِ، كَصَدْرِهِ أَوْ بَطْنِهِ، أَوْ جُعِلَ لَهُ رَأْسٌ مُنْفَصِلٌ عَنْ بَدَنِهِ، لَمْ يَدْخُلْ تَحْتَ النَّهْيِ، لِأَنَّ الصُّورَةَ لَا تَبْقَيْ بَعْدَ ذَهَابِهِ، فَهُوَ كَقَطْعِ الرَّأْسِ. وَإِنْ كَانَ الذَّاهِبُ يُبْقِي الْحَيَوَانَ بَعْدَهُ، كَالْعَيْنِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ، فَهُوَ صُورَةٌ دَاخِلَةٌ تَحْتَ النَّهْيِ. وَكَذَلِكَ إذَا كَانَ فِي ابْتِدَاءِ التَّصْوِيرِ صُورَةُ بَدَنٍ بِلَا رَأْسٍ، أَوْ رَأْسٍ بِلَا بَدَنٍ …. ، لَمْ يَدْخُلْ فِي النَّهْي؛ لِأَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ بِصُورَةِ حَيَوَانٍ.

    Apabila seorang menghilangkan bagian kepala (dari gambar), maka hukum makruh (tidak boleh) dari keberadaan gambar itu menjadi lenyap. Ibnu ‘Abbas berkata; “Gambar itu adalah kepala. Maka bila kepala (dari gambar itu) telah dilenyapkan, maka hukum makruhnya (tidak bolehnya) gambar pun menjadi lenyap … Maka bila di lenyapkan dari gambar itu bagian tubuh yang tidak mungkin makhluk bernyawa akan dapat hidup tanpa bagian tersebut, maka gambar seperti itu tidaklah masuk dalam kategori gambar yang terlarang. Sebabnya karena makhluk dengan gambaran seperti yang disebutkan tidaklah akan hidup (bernyawa). Contohnya; gambar makhluk bernyawa tanpa dada, atau tanpa perut, atau kepalanya dijadikan terpisah dengan badannya. Seluruh gambar demikian sama dengan gambar makhluk bernyawa tanpa kepala (sebagaimana pernyataan Ibnu ‘Abbas). Tetapi jika yang dihilangkan dari gambar itu adalah mata, atau tangan atau kaki saja; maka hukum gambar seperti itu adalah terlarang. Termasuk juga gambar yang dibolehkan adalah gambar badan sendirinya tanpa kepala  atau gambar kepala saja tanpa badan … tidaklah gambar-gambar ini terlarang; karena gambar seperti itu bukanlah gambar makhluk bernyawa.”. (al Mughni, 7/282)

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here