Hadiah Pahala Buat Keluarga Yang Telah Wafat

Sampaikah pahala yang dihadiahkan seorang anak kepada orang tuanya yang telah meninggal ?

Jawaban dari pertanyaan ini telah dinyatakan oleh syaikhul Islam imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya, “Majmu’ al fataawa” (24/366) ;  

‌وَتَنَازَعُوا ‌فِي ‌وُصُولِ ‌الْأَعْمَالِ ‌الْبَدَنِيَّةِ: كَالصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ وَالْقِرَاءَةِ. وَالصَّوَابُ أَنَّ الْجَمِيعَ يَصِلُ إلَيْهِ فَقَدْ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: {مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ} وَثَبَتَ أَيْضًا: {أَنَّهُ أَمَرَ امْرَأَةً مَاتَتْ أُمُّهَا وَعَلَيْهَا صَوْمٌ أَنْ تَصُومَ عَنْ أُمِّهَا} . وَفِي الْمُسْنَدِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِعَمْرِو بْنِ العاص: {لَوْ أَنَّ أَبَاك أَسْلَمَ فَتَصَدَّقْت عَنْهُ أَوْ صُمْت أَوْ أَعْتَقْت عَنْهُ نَفَعَهُ ذَلِكَ} وَهَذَا مَذْهَبُ أَحْمَد وَأَبِي حَنِيفَةَ وَطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ

“Orang-orang berbeda pendapat tentang sampainya pahala amalan badaniyyah yang dihadiahkan kepada orang yang telah wafat, seperti amalan berupa puasa, shalat dan bacaan Al Quran. Namun pendapat yang benar dari beragam pendapat itu adalah sampainya seluruh jenis amalan yang dihadiahkan tersebut kepada orang yang telah wafat. Beberapa keterangan pendukungnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda; “Barangsiapa meninggal dengan menanggung utang puasa, maka hendaklah dipuasakan oleh keluarganya.”. Disebutkan pula dalam hadits bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seorang wanita berpuasa untuk melunasi utang puasa ibunya yang telah meninggal. Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu; “Andai saja ayahmu (yang telah meninggal) beragama Islam, lantas engkau bersedakah atau berpuasa atau memerdekakan budak untuknya; niscaya hal itu akanlah bermanfaat untuknya”. Demikianlah madzhab dari imam Ahmad, Abu Hanifah, dan madzhab dari beberapa ulama malikiyyah dan syafiyyah.”.

Jika Ditanyakan :

lantas bagaimana dengan firman Allah : وَأَن لَّيۡسَ لِلۡإِنسَٰنِ إِلَّا مَا ‌سَعَىٰ "Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya".

(An Najm; 39).

Dijawab :

Ayat tersebut tidaklah menafikan diterimanya amalan orang lain yang dihadiahkan kepadanya. Ayat tersebut tidaklah berkata, seorang itu tidaklah akan mendapat manfaat dari amalan orang lain yang dihadiahkan kepadanya. Ayat ini hanya berisi penegasan bahwa apa yang telah diusahakan oleh seorang, maka itulah yang menjadi miliknya. Namun tidak menafikan kemungkinan adanya penambahan dari sumber selain apa yang telah langsung dikerjakannya. Keadaannya sama seperti seorang yang mengatakan; harta orang itu sebanyak upah yang diterimanya dari pekerjaannya. Pernyataan itu tidak menafikan bahwa harta orang tersebut mungkin saja bertambah dari sumber selain upah yang diterimanya dari pekerjaannya.

Olehnya itu maka seorang mayit dishalatkan, didoakan dan dimohonkan ampunan kepada Allah; dan ulama sepakat menyatakan bahwa shalat, doa dan permohonan ampunan yang dilakukan oleh orang selainnya itu akan bermanfaat bagi sang mayit tersebut. 

Wallahu a’lam bis shawaab

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: