Hati-Hati Dengan Talak

    0
    66
    Pertanyaan :

    Bismillah, ustadz jika suami istri berselisih paham (bertengkar) kemudian suami membentak dan bertanya “kamu ingin mas ceraikan?!” istrinya di luar kesadaran menjawab “ya” sambil menangis, tetapi kemudian suami beristighfar dan meminta maaf pada istrinya. Apakah perkataan suami tersebut termasuk talak atau tidak?

    Yang dijawab iya oleh istrinya, tapi di luar kesadaran (dalam keadaan emosi). Mohon penjelasannya ya Ustadz. Afwan

    Jawab :

    Talak dalam Islam bukanlah perkara yang ringan. Maka dari itu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan agar umat islam tidak menjadikannya sebagai bahan candaan ataupun gurauan. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

    ثَلَاثٌ جَدُّهُنَّ جَدٌّ، وَهَزْلُهُنَّ جَدٌّ: النِّكَاحُ، وَالطَّلَاقُ، وَالرَّجْعَةُ

    Artinya : “Ada tiga perkara yang serius dan candanya tetap terhitung sebagai sebuah keseriusan yaitu : Nikah, Talak dan Rujuk”. ( H.R. Abu Daud dan dihasankan oleh Syekh Al Albani )

    Talak itu dinyatakan jatuh (sah) jika ada pernyataan jelas dari suami bahwa ia mentalak istrinya. Adapun pertanyaan suami sebagaimana diungkapkan dalam soal, maka pertanyaan itu bukanlah pernyataan;

    *) terlebih bahwa sang suami tidak menanggapi pernyataan sang istri yang mengatakan “ya”

    *) bahkan sang suami beristigfar setelah itu.

    Adapun kata “talak” jika dinyatakan secara jelas oleh suami dalam keadaan marah kepada istrinya, maka para ulama mengklasifikasikannya menjadi dua jenis berdasarkan seberapa besar amarah dari orang yang menjatuhkan talak tersebut;

    1. Marah biasa yang masih bisa dikendalikan, dan si pelaku menyadari setiap perkataan yang keluar dari mulutnya ataupun perbuatan yang ia lakukan. Marah seperti ini adalah marah yang sering dilakukan oleh orang-orang pada umumnya. Apabila seseorang mentalak isterinya dalam keadaan marah seperti jenis ini, maka talaknya dinyatakan jatuh.

    2. Marah yang tidak bisa dikendalikan, hingga menyebabkan si pelaku melakukan perilaku-perilaku diluar batas kesadarannya layaknya seperti perilaku orang gila yang tertutup akalnya.  Apabila seseorang mentalak isterinya dalam keadaan diliputi amarah seperti ini, maka talaknya tidak jatuh karena ia dianggap melakukannya diluar dari kesadarannya. Berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

    لَا طَلَاقَ، وَلَا عَتَاقَ فِي غِلَاق

    Artinya : “Tidak ada (tidak sah) talak dan pembebasan budak dalam keadaan ghilaaq (tertutup akal)”. ( H.R.Abu Dawud dan dihasankan oleh Syekh Al Albani). Kata “ghilaaq” dalam hadits tersebut dimaknai dengan dua makna :

    1. Ghilaq berarti marah sebagaimana penafsiran dari Imam Abu Dawud yang meriwayatkan hadits tersebut.

    2. Ghilaq berarti terpaksa sebagaimana pendapat sebagian ulama lainnya.

    Maka berdasarkan hadits diatas, jatuh dan tidaknya talak seseorang dalam keadaan marah ditentukan oleh seberapa besar amarah yang keluar dari diri seseorang sebagaimana yang dijelaskan di atas.

    Namun seorang mukmin haruslah senantiasa bertakwa kepada Allah dalam memperlakukan masing-masing pasangannya dengan baik serta tidak terburu-buru mengucapkan lafal talak meskipun dalam keadaan marah, mengingat besarnya konsekuensi dari lafal yang diucapkannya serta agar tidak menjadi sebuah penyesalan di kemudian hari.

    Hendaklah masing-masing pasangan dapat menahan amarah ketika terjadi perselisihan, serta menyelesaikannya dengan kepala dingin dan sikap yang benar.

    Bersabar dengan kekurangan dari perilaku masing-masing pasangan merupakan ahklak mulia yang diajarkan dalam Islam.

    Wallahu a’lam bis shawaab

    ✏️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here