Sebagian orang berpandagan bahwa menyimpan makanan untuk persediaan adalah haram berdasarkan sabda Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- kepada Bilal radhiyallahu ánhu ketika mendapatinya menyimpan sekantung buah kurma;

 ويحك يا بلال أما تخاف أن يكون له بخار في النار انفق يا بلال ولا تخش من ذي العرش إقلالا

“Celaka engkau wahai Bilal. Tidakkah engkau takut jika sekiranya sekantung buah kurma itu kelak akan menjadi asap panas di neraka (yang akan membakarmu) ?. Sedekahkanlah wahai Bilal. Dan janganlah engkau khawatir kekurangan (rezki) dari Allah Sang Pemilik ‘Arsy.”. (HR. Thabraani)

Pendapat demikian adalah keliru, karena larangan yang dimaksud sesungguhnya bukanlah tertuju pada kegiatan menyimpan kurma (bahan makanan). Namun maksud yang benar dari larangan tersebut adalah bagi mereka yang menyimpannya karena rakus, bakhil dan tidak mau menginfakkannya bagi mereka yang memerlukannya, sedangkan mereka mampu untuk menginfakkannya. Atau bisa juga dikatakan bahwa maksud larangan itu tertuju bagi mereka yang sangat tergantung dengan materi, yang menyebabkan lenyapnya rasa tawakkal mereka kepada Allah, dan –justru- berganti dengan ketergantungan terhdap materi atau harta.

Menunjukkan bolehnya menyimpan bahan makanan adalah hadits Tsauban radhiyallahu ánhu, Rasulullah -shallallahu álaihi wa sallam- berkata kepadanya berkenaan denga daging sembelihan (udhiiyyah) Beliau –shallallahu álaihi wa sallam- ;

 يَا ثَوْبَانُ أَصْلِحْ لَحْمَ هَذِه

“Wahai Tsaubaan, simpanlah dengan baik daging sembelihan ini.”. Selanjutnya, Tsauban radhiyallahu ánhu berkata;

فَلَمْ أَزَلْ أُطْعِمُهُ مِنْهَا حَتَّى قَدِمَ الْمَدِينَةَ.

“Sayapun selalu menghidangkan buat beliau makanan dari daging sembelihan itu hingga tiba kembali di Medinah.”. (HR. Muslim)

Mengomentari hadits ini, Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata;

قَالَ اِبْن بَطَّالٍ : فِي الْحَدِيث رَدّ عَلَى مَنْ زَعَمَ مِنْ الصُّوفِيَّة أَنَّهُ لَا يَجُوز اِدِّخَار طَعَام لِغَدٍ

Ibnu Batthaal berkata; pada hadits ini terdapat bantahan terhadap kelompok sufi yang meyakini bahwa tidak boleh menyimpan makanan untuk dikonsumsi keesokan harinya.”. (Fathul Baari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here