Ijma’, Apa Ya ?

    0
    158
    Pertanyaan :

    Apa yang dimaksud dengan ijma’ ?

    Jawaban :

    Ijma’ secara istilah berarti consensus atau kesepakatan para ulama setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat terhadap hukum agama dari sebuah masalah.

    Kesepakatan itu adalah satu dari sumber hukum baku dalam agama, tidak boleh diselisihi. Arahan demikian, sebagaimana tuntunan yang diajarkan dalam Al Quran dan sunnah. Allah berfirman;

    فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ ‌فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

    “Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”. (An Nisaa’; 59). Dalam ayat ini Allah mengarahkan kaum muslimin untuk kembali rujuk kepada Al Quran dan sunnah jika ada perbedaan pendapat diantara mereka dalam sebuah masalah. Maka dipahami dari ayat itu pula bahwa jika mereka tidak berselisih (mereka ijma’) dalam sebuah masalah, maka tidak lagi harus mengembalikannya kepada Al Quran dan sunnah, karena ijma’ dalam masalah itu telah tercapai, dan ijma’ itu adalah sumber hukum (setelah Al Quran dan sunnah) yang tidak lagi boleh dipermasalahkan.

    Dalam ayat lain Allah berfirman :

    وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

    “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”. (An Nisa’; 115) . Dalam ayat ini, Allah peringatkan mereka yang menyimpang dari jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang mukmin, yaitu dengan menyelisihi ijma’ mereka; kelak Allah akan membiarkannya terombang-ambing dalam kesesatannya dan kelak Ia akan memasukkannya ke dalam api neraka.”. Penjelasan ayat ini, selanjutnya dipertegas lewat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

    لا تجتمع أمتي على ضلالة

    “Ummatku ini tidak akan bersepakat dalam sebuah kesesatan.”. (Silsilah Al Ahaadiits As Shahiihah, 4/13).

    Olehnya, maka seorang yang menyelisihi kesepakatan kaum muslimin (sabiilul mukminin), dengan itu berarti ia –disadari atau tidak disadarinya- telah menyimpang dari makna hadits yang telah disebutkan dan Allah mengancamnya, “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam.”.

     

    Baca juga di link ini