Istri Yang Wafat Suaminya Dalam Keadaan Marah

    0
    334

    Pertanyaan :

    Bagaimana jika seorang wanita ditinggal wafat oleh suaminya sedang suaminya itu tidak ridha (marah) atasnya ?. Benarkah bahwa ia tidak akan masuk surga ?. Bagaimana ia dapat mencari keridhaannya ?. Dan bagaimana jika sebaliknya, seorang suami ditinggal wafat oleh istrinya, dan selama hidupnya ia berlaku dzhalim kepada sang istri ?

    Jawab :

    Masing-masing dari suami dan istri memiliki tugas dan fungsinya berkenaan dengan pasangannya. Masing-masing dari mereka wajib melaksanakan tugas dan kewajibannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا

    “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian pasti akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin, dan ia akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dalam keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya. Demikian juga istri, pun adalah pemimpin yang bertanggungjawab terhadap rumah suaminya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya itu.”. (HR. Bukhari). Allah berfirman :

    هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لهن

    “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”. (Al Baqarah; 187)

    Barangsiapa dari keduanya berbuat dzhalim dan abai terhadap kewajibannya kepada pasangannya maka sungguh ia akan mempertanggungjawabkan kedzhaliman atau sikap abainya tersebut. Sebaliknya, barangsiapa yang melaksanakan kewajiban mereka dengan penuh amanah, maka sungguh Allah tidaklah akan menyia-nyiakan sekecil apapun kebaikan yang dilakukan hamba-Nya. Allah berfirman :

    أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى

    “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan.”. (Ali Imraan; 195).

    Demikianlah keterangan-keterangan umum tentang hak dan kewajiban serta balasan yang Allah akan berikan kepada masing-masing dari pasangan suami istri berkenaan dengan hak dan kewajibannya itu. Adapun jika ada penyebutan secara khusus tentang balasan yang akan diterima oleh salah satu dari keduanya berkenaan dengan hak dan kewajibannya itu, maka hal tersebut tidaklah berarti penafian akan balasan yang sama bagi pasangannya berkenaan dengan hak dan kewajiban yang sama, jika dikerjakan atau ditinggalkan. Diantara fungsi penyebutan secara khusus adalah penekanan makna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    أيما امرأة ماتت وزوجها عنها راض دخلت الجنة

    “Siapapun wanita yang meninggal sedang suaminya ridha kepadanya, niscaya ia akan masuk surga.”. (HR. Hakim).

    Olehnya, bagi seorang istri yang ditinggal wafat oleh suaminya yang tengah bersengketa dengannya hendaklah ia banyak beristighfar kepada Allah, menutup masalahnya dengan suami, tidak menyebar aibnya, menyebut hal-hal baik berkenaan dengan suaminya, mendoakan suaminya, memelihara silatur rahim dengan kerabat suaminya, mentarbiyah anak-anaknya, dan yang semisalnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    اذكروا محاسِنَ موتاكم، وكفُّوا عن مساويهم

    “Sebutlah hal-hal posotif dari orang yang telah meninggal dan diamlah terhadap hal-hal buruk darinya.”. (HR. Abu Daud. Syaikh Al Arnauuth berkata; shahih li ghairihi).

    لَا تسبوا الأموات فتؤذوا الأحياء

    “Janganlah kalian mencela orang-orang yang telah meninggal, hal yang akan menyakiti orang (kerabatnya) yang masih hidup.”. (HR. Ibnu Hibban)

    Wallahu a’lam bis shawaab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here