Jalan Lurus & Jalan Menyimpang

    0
    198

    Surah dalam al Quran yang selalu dibaca berulang-ulang dalam setiap shalat adalah surah al Faatihah. Olehnya maka surah ini selain dinamakan al Faatihah, juga dinamakan “as Sab’ul Matsaani”, yang berarti tujuh yang selalu (dibaca) berulang-ulang.

    Perintah untuk membacanya setiap kali shalat, tentu menjadi isyarat yang jelas akan keutamaan yang dimiliki oleh surah ini. Dan olehnya itu, Rasulullah ketika berada di masjid bersama Abu Sa’ied Ibnu al Mu’alla pernah berkata kepadanya;

    لَأُعَلِّمَنَّكَ أَعْظَمَ سُورَةٍ فِي الْقُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ

    “Sungguh saya akan mengabarimu surah termulia dalam Al Quran sebelum engkau keluar dari masjid.”. (Tafsir Ibnu Katsiir)

    Ketika akan keluar masjid, Beliau kembali mengingatkan Rasulullah akan janjinya, hendak memberitahu Beliau surah termulia di dalam al Quran. Lantas Rasulullah bersabda;

    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ هِيَ: السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ الْعَظِيمُ الَّذِي أُوتِيتُهُ

    “Surah Al Faatihah, dia adalah surah yang terdiri dari tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang. Surah itu adalah surah termulia yang diwahyukan kepadaku.”.

    Diantara ayat yang terdapat dalam surah yang mulia ini adalah tuntunan bagi setiap muslim untuk meminta kepada Allah petunjuk ke jalan yang lurus;

    اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ

    “Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus (dan kokohkanlah kami di atas jalan tersebut).”. Tuntunan ini memberi sinyal yang kuat bahwa jalan yang ditempuh oleh setiap manusia ada dua, yaitu; jalan lurus dan jalan menyimpang.

    Apa jalan yang lurus itu ?.

    Dalam ayat ini, Allah menjelaskannya dengan berfirman;

    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

    Jalan yang lurus itu adalah jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat kepadanya.

    Ayat ini, kemudian dirincikan lagi oleh Allah lewat firman Nya;

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

    “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul Nya, maka mereka itu kelak akan bersama orang-orang yang diberi nikmat atas mereka, dari kalangan para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada dan orang-orang shaleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.”. (An Nisaa; 69)

    Kalau demikian, maka maksud dari “orang-orang yang telah diberi nikmat kepadanya” adalah para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada dan orang-orang shaleh.

    Mengapa mereka diberi nikmat ?.

    Nikmat yang mereka peroleh itu tidak lain sebagai buah dari ketaatan yang telah mereka tumbuh suburkan dalam kehidupannya;

    وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

    “Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul Nya, maka mereka itu kelak akan bersama orang-orang yang diberi nikmat atas mereka, dari kalangan para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada dan orang-orang shaleh. Mereka itulah sebaik-baik teman.”. (An Nisaa; 69). Dan ketaatan itu tentu tidak akan tumbuh dengan baik melainkan dengan ilmu yang benar.

    Kalau demikian, maka jalan yang lurus itu hanya dapat ditempuh dengan ilmu yang benar dan ketaatan (amalan shaleh);

    صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

    Jalan yang lurus itu adalah jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat kepadanya, nikmat berupa ilmu yang benar dan ketaatan (amal shaleh).

    Dan bila demikian jalan yang lurus itu, maka diketahui bahwa jalan yang menyimpang adalah;

    *) Jalan orang-orang yang tidak berilmu atau memiliki ilmu yang keliru

    *) Jalan orang-orang yang berilmu tapi tidak taat (tidak mengamalkan ilmu yang dimilikinya)

    Kedua jalan inilah yang setelahnya dinyatakan oleh Allah lewat firman Nya dalam kelanjutan ayat tadi;

    غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

    “Bukan jalan mereka yang dimurkai (tidak mau dan menolak mengamalkan ilmu yang dimilikinya) dan bukan pula jalan mereka yang sesat (beramal tanpa landasan ilmu yang benar).”.

    Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata;

    خَطّ لنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – خَطّاً، ثم قال: “هذا سبيل الله”، ثم خط خطوطاً عن يمينه وعن شماله، ثم قال: “هذه سُبُل”، قال يزيد: “متفرقةٌ، علي كل سبيل منها شيطانٌ يدعو إليه”، ثم قرأ : وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah membuat garis lurus. Beliau berkata; Beginilah jalan Allah yang lurus itu. Setelah itu, Beliau membuat beberapa garis lagi yang menyimpang. Setelahnya, Beliau berkata; inilah jalan-jalan lain yang menyimpang. Di setiap jalan menyimpang itu ada syaithan yang mengajak orang-orang untuk melalui jalan tersebut. Selanjutnya, Rasulullah membaca firman Nya ; “Inilah jalan Ku yang lurus, maka ikutilah. Dan janganlah mengikuti jalan-jalan lain yang menyimpang, yang akan mencerai-beraikanmu dari jalan Allah yang lurus.”.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here