Jangan Baper, Tapi Hadirkanlah Bukti dan Alasanmu

Allah berfirman :

وَجَآءُوٓ أَبَاهُمۡ عِشَآءٗ يَبۡكُونَ ١٦ قَالُواْ يَٰٓأَبَانَآ إِنَّا ذَهَبۡنَا نَسۡتَبِقُ وَتَرَكۡنَا يُوسُفَ عِندَ مَتَٰعِنَا فَأَكَلَهُ ٱلذِّئۡبُۖ وَمَآ أَنتَ بِمُؤۡمِنٖ لَّنَا وَلَوۡ كُنَّا صَٰدِقِينَ ١٧ وَجَآءُو عَلَىٰ قَمِيصِهِۦ بِدَمٖ كَذِبٖۚ قَالَ بَلۡ سَوَّلَتۡ لَكُمۡ أَنفُسُكُمۡ أَمۡرٗاۖ فَصَبۡرٞ جَمِيلٞۖ وَٱللَّهُ ٱلۡمُسۡتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ ١٨

    1. (Kemudian,) mereka datang kepada ayahnya pada petang hari sambil menangis.
    2. Mereka berkata, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu serigala memangsanya. Engkau tentu tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami berkata benar.”
    3. Mereka datang membawa bajunya (yang dilumuri) darah palsu. Dia (Ya‘qub) berkata, “Justru hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan (yang buruk) itu, maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Allah sajalah Zat yang dimohonkan pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan.”

Pelajaran Dari Rangkaian Ayat :

Potongan ayat ini adalah cuplikan dari kisah panjang perjalanan hidup nabiullah Yusuf ‘alaihissalam bersama para saudaranya.

Ketika telah berhasil membujuk ayahnya (nabiullah Ya’kub) agar mengizinkan mereka pergi bermain bersama dengan Yusuf ‘alaihissalam, dan setelah berhasil menjalankan makar mereka kepada nabiullah Yusuf ‘alaihissalam; maka datanglah mereka menghadap ayahnya dengan membawa bukti palsu hendak mengelabuhi nabiullah Ya’kub ‘alaihissalaam, ayahnya. Dan untuk memperkuat bukti tersebut, mereka juga datang dalam keadaan menangis untuk menunjukkan kesedihan dan luka mendalam yang mereka rasakan.

Tangis saudara-saudara Yusuf ‘alaihissalam, tangis kebohongan. Berkenaan dengan tangis seperti demikian, Syuraih al Qadhi pernah didatangi oleh seorang wanita yang bersengketa dan mengadukan masalahnya. Wanita itu datang dengan menangis sejadi-jadinya. Melihat pemandangan memilukan demikian, seorang yang menghadiri majelis tersebut berkata kepada Syuraih; “Sungguh wanita ini sedang terdzhalimi.”. Syuraih berkata; bukankah dahulu saudara-saudara Yusuf juga datang ke ayah mereka dalam keadaan menangis ?!. Sungguh –kata Beliau- saya tidak akan memutuskan perkara karena sebuah tangisan. Namun saya akan memutuskannya secara adil berdasarkan bukti-bukti yang benar.

Dari kisah tersebut dipetik pelajaran bahwa tidak boleh bagi seorang tergesa-gesa dalam memutuskan perkara semata dengan bermodalkan perasaan. Namun hendaknya dia betul-betul meneliti keterangan dan bukti-bukti yang dihadirkan oleh pihak-pihak yang bersengketa agar dengan itu ia bisa menetapkan hukum secara benar.

You may also like...

%d bloggers like this: