Jangan Mudah Berhutang !

    0
    20

    Ada sebagian manusia yang gemar berhutang, bahkan hutang seakan menjadi trend gaya hidup mayoritas masyarakat modern saat ini demi bergaya memiliki barang mewah.

    Berutang adalah satu transaksi yang diperbolehkan dalam Islam, namun tidak dianjurkan. Berutang dibolehkan bagi yang sangat membutuhkan dan merasa mampu untuk melunasinya. Maka tidak dianjurkan seorang muslim membeli barang yang bukan kebutuhan pokok dengan cara berhutang.

    Anas bin malik radiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa kepada Allah meminta perlindungan dari lilitan utang, dengan ucapan,

    اللَّهمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الحَزْنِ وَ العَجزِ وَالكَسَلِ وَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُبِكَ مِنْ ضَلْعِ الدَّيْنِ وَ غَلَبَةِ الرِّجَالِ

    Ya Allah, sesungguhnya akau berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan rasa sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat bakhil dan penakut, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan laki-laki yang menindas. ( HR. Bukhari).

    Dalam hadist lain dari Aisyah radiyallahu ‘anha bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa didalam shalatnya,

    اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِكَ مِنَ المَأْثَمِ وَ المَغْرَمِ

    “Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari berbuat dosa dan lilitan hutang.”. Ketika ditanya kenapa beliau berlindung dari lilitan hutang ? maka beliau menjawab,

    إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

    Sesungguhnya seseorang yang dililit hutang bila berbicara ia akan berbohong dan bila berjanji ia akan memungkirinya. (HR Bukhari).

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    لاَ تُخِيْفُوْا أَنْفُسَكُم بَعَدَ أَمْنِهَا قَالُوا : وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ : الدَّيْنُ

    Jangan kalian beri rasa takut ke dalam diri kalian setelah diri itu tenang! Para sahabat bertanya,apa hal tersebut wahai Rasulullah? Beliau bersabda : “hutang”. (HR. Ahmad).

    Umar bin khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata : “Hindarilah berhutang karena orang yang berhutang mengawali hidupnya dengan kegelisahan dan mengakhirinya dengan kebinasaan. (Atsar ini diriwayatkan oleh imam Malik dalam kitab Al Muwattha’).

    Dalil-dalil diatas menunjukkan bahwa berhutang tidak dianjurkan dalam islam, kecuali seseorang dalam keadaan sangat membutuhkan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Radiyallahu ‘anha,

    اِشْتَرَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عليه وسلم مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيْئَةٍ وَرَهَنَهُ دِرْعَهُ

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membeli bahan makanan dari seorang yahudi dengan cara tidak tunai dan memberikan baju besinya sebagai jaminan. (HR Bukhari).

    Dalam hadist diatas digambarkan bahwa Rasulullah berhutang untuk menutupi kebutuhan pokoknya yaitu mendapat bahan makanan untuk diri dan keluarganya, bukan untuk membeli barang mewah. Sungguh bertolak belakang sikap nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sikap sebagian orang muslim yang terlalu mudah membeli barang dengan berhutang.

    Yang menjadi warning bagi kita seorang mu’min adalah bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak menshalatkan jenazah seseorang yang diketahui masih meninggalkan hutang dan tidak meninggalkan harta untuk membayarnya. Dan dosa orang yang memiliki hutang tidak terhapuskan walaupun dia mati syahid. Sebagaimana hadist dari Abdullah amr bin ash radiyallahu ‘anhu bahwasannya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda :

    يُغْفَرُ الشّهِيدُ كُلَّ ذَنبٍ إِلاَّالدَّينُ

    “Akan diampuni seluruh dosa orang yang mati syahid kecuali hutang”.(HR Muslim).

    Seluruh yang telah dipaparkan adalah nasehat kepada saudaraku yang membaca tulisan ini agar tidak mengentengkan masalah utang dan agar tidak mudah berutang bila tidak mendesak. Namun tidak berarti bahwa berutang itu adalah aib yang akan mencoreng harga diri seseorang yang melakukannya karena kebutuhan, sedang ia berniat berusaha akan membayarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيد ُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

    “Barangsiapa berutang dengan niat akan melunasinya, niscaya Allah akan membantunya. Namun barangsiapa yang berutang dengan niat tidak akan melunasinya, niscaya Allah akan menghancurkannya.”. (HR. Bukhari)

    Sebagaimana uraian ini tidak menjadi pembenar bagi para pemberi utang untuk mencoreng harga diri saudaranya yang berutang dengan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam dalam menagih utangnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

    إنَّ اللَّهُ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِيَ دَيْنَهُ، مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ

    “Sesungguhnya Allah bersama orang yang berutang (dengan kriteria yang telah disebutkan dalam hadits sebelumnya, red) hingga ia melunasinya. Kecuali jika ia berutang untuk sebuah keperluan yang dilarang oleh Allah.”. (HR. Ibnu Majah)

    Wallahu a’lam bis shawaab dan semoga Allah senantiasa memudahkan seluruh urusan kaum muslimin.

    ✍️ Penulis : Ustadz Mukhtar, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here