Jilbab Modis

    0
    34

    Secara fisik, laki-laki adalah makhluk yang lebih kuat dari wanita. Hal inilah –diantaranya- yang menjadikan wanita rentan menjadi korban kejahatan laki-laki.

    Untuk meminimalisasi kejahatan tersebut agama –diantaranya- menetapkan beberapa ketentuan yang diberlakukan baik kepada laki-laki maupun kepada wanita, serta juga menetapkan hukuman yang tidak sederhana bagi mereka yang melanggarnya.

    Maka diantara ketentuan itu adalah kewajiban menutup aurat bagi wanita. Allah berfirman menyikapi keadaan wanita jahiliyyah yang biasa keluar rumah dengan menampakkan leher, bagian atas dada dan telinganya ;

    وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ

    “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,.”. (an Nuur; 31). (al Quran; 59). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengingatkan wanita agar menutup auratnya dan tidak menyepelekan hal tersebut, Beliau nyatakan ;

    ‌صِنْفَانِ ‌مِنْ ‌أَهْلِ ‌النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا، قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

    “Dua golongan yang tidak akan mencium bau surga, padahal baunya telah dapat tercium pada jarak perjalanan demikian dan demikian adalah kaum yang memegang cambuk yang digunakannya untuk memukul orang-orang; dan wanita yang berpakaian tetapi telanjang (memakai pakaian yang tipis atau ketat sehingga menampakkan atau membentuk aurat), jalannya berlenggak-lenggok, kepalanya tinggi bagai punuk onta.”. (HR. Muslim)

    Tentang batasan aurat wanita, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Asma ;

    يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ ‌أَنْ ‌يُرَى ‌مِنْهَا ‌إِلَّا ‌هَذَا ‌وَهَذَا» وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ

    “Wahai Asma, jika seorang wanita telah haid (baligh) maka tidak boleh kelihatan dari bagian tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangannya.”. (HR. Abu Daud)

    Dari dalil dan uraian yang telah disampaikan maka tidak boleh bagi siapapun wanita yang beriman kepada Allah dan RasulNya menyepelekan persoalan ini, terlebih bahwa syari’at ini sesungguhnya ditujukan secara khusus untuk kebaikan mereka sendiri dan secara umum untuk kebaikan seluruh komponen masyarakat.

    Termasuk kategori menyepelekan adalah cara berjibab yang lagi trend akhir-akhir ini dan kemudian dipopulerkan melalui berbagai grup jilbabers. Model jilbab yang disebutkan (modis, kain yang kebanyakannya tipis, ketat, belum lagi ditambah dengan semerbak wewangian yang menggoda) sungguh telah melunturkan nilai dan tujuan yang sesungguhnya dikehendaki dari perintah berjilbab itu, yaitu “untuk menghindarkan pandangan lelaki asing kepadanya.”.

    Termasuk juga dalam kategori menyepelekan itu adalah model jilbab yang menampakkan bagian rambut depan dari wanita.

    Hal-hal demikian hendaknya dijauhi oleh wanita, –khususnya- yang telah memilih untuk berjilbab. Seharusnya mereka bersyukur telah diberi petunjuk untuk berhijab; dan olehnya itu, hendaknya ia kembali meluruskan niatnya dalam melakukan ibadah mulia tersebut.