Kearifan Lokal

    0
    184

    Kata ‘Arif’ dalam kamus besar Bahasa Indonesia berarti bijaksana; cerdik dan pandai; berilmu. Kearifan/ke·a·rif·an/ n kebijaksanaan; kecendekiaan.

    Sesungguhnya kata ‘arif’ tersebut berasal dari Bahasa Arab yang akar katanya adalah ‘arafa’, berarti tahu, paham, dan yang sepadan dengan itu. Dari akar kata itulah diambil istilah ‘ma’ruuf’ yang secara Bahasa berarti sesuatu yang dikenal.

    Dalam konteks keagamaan, tidak semua yang dikenal (ma’ruuf) dinilai sebagai sesuatu yang baik oleh agama. Demikianlah tradisi atau adat atau kebiasaan, baik yang bersifat individu atau kelompok atau komunitas; tidaklah semuanya dinyatakan sebagai hal yang baik dalam agama. Justru agama hadir di tengah masyarakat yang memiliki peradaban menyimpang yang hendak diluruskan dan dibenarkan. Olehnya ada beberapa kebiasaan dan tradisi jahiliyyah yang dibatalkan dan dihapuskan oleh Islam, diantaranya adalah :

    1. Tradisi thawaf dalam keadaan telanjang

    Allah berfirman :

    ‌وَإِذا ‌فَعَلُوا ‌فاحِشَةً ‌قالُوا ‌وَجَدْنا ‌عَلَيْها ‌آباءَنا ‌وَاللَّهُ ‌أَمَرَنا ‌بِها ‌قُلْ ‌إِنَّ ‌اللَّهَ ‌لَا ‌يَأْمُرُ ‌بِالْفَحْشاءِ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami melakukan yang demikian, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah, “Sesungguhnya Allah tidak pernah menyuruh berbuat keji. Mengapa kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (Al A’raaf; 28)

    Kebanyakan ulama tafsir berkata;

    هِيَ طَوَافُ الْمُشْرِكِينَ بِالْبَيْتِ عُرَاةً

    “Perbuatan keji yang dimaksud dalam ayat ini adalah kebiasaan orang-orang musyrik melakukan thawaaf di baitullah dalam keadaan telanjang (atau setengah telanjang).”. (Fathul Qadiir).

    Dalam ayat ini Allah sebutkan tentang sebab mereka melakukan tradisi itu adalah karena mengikut tradisi orang-orang sebelumnya dan karena mereka menyangka bahwa demikianlah perintah Allah kepada mereka.

    Lantas Allah pun menurunkan ayat ini berisi pembatalan terhadap tradisi itu dan sanggahan terhadap persangkaan mereka yang salah itu.

    2. Tradisi wanita-wanita jahiliyyah yang keluar rumah dengan menampakkan bagian telinga dan dadanya.

    Imam As Syaukaani rahimahullah berkata ;

    إِنَّ نِسَاءَ الْجَاهِلِيَّةِ كُنَّ يُسْدِلْنَ خُمُرَهُنَّ مِنْ خَلْفِهِنَّ، وكانت جيوبهنّ من الأمام واسعة، فكان تَنْكَشِفُ نُحُورُهُنَّ وَقَلَائِدُهُنَّ، فَأُمِرْنَ أَنْ يَضْرِبْنَ مَقَانِعَهُنَّ عَلَى الْجُيُوبِ لِتَسْتُرَ بِذَلِكَ مَا كَانَ يَبْدُو

    “Para wanita jahiliyyah biasa memakai kain penutup kepala dengan ujung kain yang tidak menutup bagian dada hingga kelihatanlah dada dan perhiasannya. Karena kebiasaan itu, maka Allah menurunkan ayat Nya dalam surah An Nuur, ayat 31; agar seorang wanita menutup bagian yang nampak itu.”. (Fahul Qadiir). Ayat yang dimaksud adalah firman Nya;

    وَلۡيَضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَىٰ ‌جُيُوبِهِنَّۖ

    “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada-dadanya.”. (An Nuur; 31)

    3. Tradisi minum khamar

    Sangat banyak lantunan syair di masa jahiliyyah menggandeng kata “khamr” menghiasi bait-baitnya. Khamr adalah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Olehnya, pengharamannya pun berlangsung secara berangsur-angsur. Hingga pada akhirnya, hukumnya ditetapkan haram secara mutlak. Allah berfirman;

    يا أيها الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأَنصَابُ وَالأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ • إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ والْبَغْضَآءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلاَةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُّنتَهُونَ • وَأَطِيعُواْ اللَّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَاحْذَرُواْ فَإِن تَوَلَّيْتُمْ فاعْلَمُوا أَنَّمَا عَلَى رَسُولِنَا الْبَلاَغُ الْمُبِينُ

    “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu), dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”. (al Maidah; 90-92)

    Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata;  “Dahulu saya adalah orang yang bertugas menyajikan khamar di rumah Abi Thalhah –radhiyallahu ‘anhu-. Ketika turun ayat pengharaman khamar, dan seorang penyeru menyampaikan hal itu, Abu Thalhah berkata (kepadaku); keluarlah dan dengar apa yang disampaikannya !. Anas berkata; saya pun keluar, dan setelah mendengarnya, saya pun kembali dan berkata; dia itu adalah sahabat yang ditugasi untuk menyatakan bahwa khamar telah diharamkan. Mendengarnya, Abu Thalhah berkata kepadaku, pergi dan tuanglah khamar-khamar itu. Anas berkata; Demi Allah,ketika itu tidaklah sahabat yang mendengar perintah itu berusaha mengkonfirmasi ulang validitas berita itu. Anas berkata; maka jalan-jalan kota Madinah pun dibanjiri dengan khamar.”.

    4. Tradisi tabarruk ke benda-benda yang dikramatkan

    Meminta berkah dari benda-benda yang dikramatkan, kuburan, pohon-pohon, dan yang semisalnya adalah satu diantara tradisi orang-orang jahiliyyah terdahulu. Hal demikian terdeskripsi dalam hadits Dzatu Anwaath.

    عَنْ أَبِى وَاقِدٍ اللَّيْثِىِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا خَرَجَ إِلَى خَيْبَرَ مَرَّ بِشَجَرَةٍ لِلْمُشْرِكِينَ يُقَالُ لَهَا ذَاتُ أَنْوَاطٍ يُعَلِّقُونَ عَلَيْهَا أَسْلِحَتَهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْوَاطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم-  سُبْحَانَ اللَّهِ هَذَا كَمَا قَالَ قَوْمُ مُوسَى (اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ) وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَرْكَبُنَّ سُنَّةَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

    Dari Abu Waqid al-Laitsi, “Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat menuju Khoibar, beliau melewati pohon orang musyrik yang dinamakan Dzatu Anwath. Mereka menggantungkan senjata mereka pada pohon itu (untuk mendapatkan keberkahan). Lalu mereka (para sahabat yang baru masuk Islam) berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah juga untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Subhanallah! sungguh permintaan kalian itu sama dengan perkataan kaum nabi Musa kepada nabi Musa ‘alaihissalaam: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan.” (QS. Al A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.”. (HR. Tirmidzi)

    Demikianlah empat dari beberapa hal yang terlah menjadi tradisi di masa jahiliyyah yang dibatalkan oleh Islam. Keempat hal yang disebutkan adalah hal yang telah ma’ruuf (dikenal) di masa jahiliyyah. Tetapi tidak berarti bahwa seluruh hal yang ma’ruuf adalah baik dalam pandangan agama. Ketika sebuah tradisi bertentangan dengan agama, maka tradisi itu bukanlah sesuatu yang ma’ruuf dalam pandangan agama. Ketika hal itu tidak menjadi ma’ruuf dalam pandangan agama, maka bukanlah sesuatu yang arif bagi seorang muslim untuk melakukannya, terlebih membudayakannya dengan dalih menjaga kearifan lokal. Wallahul musta’aan