Kebenaran Absolut dan Relatif

Setiap muslim wajib mengikuti kebenaran. Tingkat kebenaran itu ada dua, yaitu; kebenaran yang bersifat absolut dan kebenaran yang bersifat relatif.

Kebenaran itu bersifat absolut manakala didasarkan pada dalil-dalil yang pasti qathi’e. Diantara contohnya adalah firman Allah:

وَمَن يَبۡتَغِ ‌غَيۡرَ ‌ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.”. (Ali Imran; 85). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ. رواه مسلم

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam genggaman Nya tidak seorangpun dari umatku yang mendengar tentang aku, baik dia itu Yahudi maupun nashrani, kemudian ia tidak beriman dengan risalahku melainkan dia akan menjadi penghuni neraka.”. (HR. Muslim)

Kebenaran itu bersifat relatif manakala didasarkan pada dalil-dalil yang mungkin (dzhanni). Diantara contohnya adalah firman Allah ketika menjelaskan tentang kewajiban mengusap kepala ketika wudhu:

‌وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ

“Dan usaplah kepala-kepala kalian” (Al Maaidah; 6); apakah wajib mengusap seluruh kepala atau cukup sebagiannya?. Huruf “baa” dalam ayat ini mengakomodir kedua makna tersebut.

Hal yang harus dipahami bahwa kebenaran yang berasal dari dalil-dalil dzhanni meski sifatnya relative, tetapi dalil-dalil itu juga bersifat mengikat. Ilustrasinya seperti demikian; suatu ketika ada beberapa orang mendaki gunung. Ketika tiba waktu shalat, mereka dikepung oleh kabut tebal sedangkan kompas mereka tidak berfungsi. Untuk menentukan arah kiblat, mereka wajib mengira-ngira berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Dan ketika mereka telah menetapkan perkiraan yang kuat, bolehkah saat itu mereka shalat tidak menghadap arah yang dalam persangkaan kuat mereka itu adalah arah kiblat?. Jawabannya adalah tidak boleh. Mereka wajib shalat menghadap arah yang dalam persangkaan kuat mereka adalah arah kiblat. Meski kebenaran yang mereka yakini itu sifatnya relative, tetapi hal itu bersifat mengikat. Frase relatif yang digunakan dalam konteks ini berbeda dengan frase relative yang diyakini dalam paham relativisme.

Kesimpulannya bahwa kebenaran yang terkonfirmasi dengan dalil-dalil yang benar adalah kebenaran yang siftnya mengikat. Jika menyelisihi dalil-dalil tersebut maka apa yang menyelisihi itu adalah produk hawa nafsu, tidak dinilai sebagai sebuah kebenaran dalam agama.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: