Koleksi Boneka Bagi Remaja, Bolehkah ?

    0
    219
    Pertanyaan :

    Apa boleh remaja wanita (bukan anak-anak) mengoleksi boneka yang :

    • Berbentuk hewan lengkap dengan mata dan mulut
    • Berbentuk karakter fiktif hidup seperti pokemon
    • Berbentuk bukan makhluk hidup tetapi diberi mata dan mulut seperti boneka awan yang ada mata dan mulutnya
    Jawaban :

    Dalam Islam ada larangan bagi ummatnya untuk menggambar atau membuat patung makhluk bernyawa. Diantara sebabnya bahwa membuat gambar atau bentuk makhluk bernyawa itu adalah satu diantara pekerjaan Allah yang Ia tidak mau seorangpun menyerupai Nya dalam pekerjaan tersebut. Olehnya, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda mengancam orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut, kelak mereka akan disuruh untuk menghidupkan makhluk bernyawa yang digambar atau dibentukya itu. Abudullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhuma- berkata,  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

    يُعَذَّبُ الْمُصَوِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَيُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

    “Para pembuat shuurah akan diadzab pada hari kiamat, dan akan dikatakan kepadanya; hidupkanlah apa yang telah engkau buat di dunia berupa gambar atau patung makhluk bernyawa.”[HR. Thabraani]. Abu Zur’ah –rahimahullah- berkata;

    دَخَلْتُ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ دَارًا بِالْمَدِينَةِ فَرَأَى أَعْلَاهَا مُصَوِّرًا يُصَوِّرُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ كَخَلْقِي

    “Saya bersama Abu Hurairah pernah masuk ke suatu rumah di Medinah. Ketika itu Beliau melihat seorang pembuat shurah tengah membuat shurah di atas rumah tersebut. Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata kepadanya; saya mendengar  Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda (bahwa Allah berfirman); Siapakah manusia yang lebih dzhalim daripada seorang yang meniru pencipataan Ku (terhadap makhluk bernyawa) ?.”[HR. Bukhari].

    Atas dasar keterangan umum ini maka disimpulkan bahwa objek larangan menggambar atau membuat patung tersebut adalah makhluk hidup (memiliki ruh), meski makhluk hidup itu fiktif, seperti kuda bersayap, kucing dalam bentuk pokemon, dan yang semisalnya. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata;

    قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَفَرٍ، وَقَدْ سَتَّرْتُ عَلَى بَابِي دُرْنُوكًا فِيهِ الْخَيْلُ ذَوَاتُ الْأَجْنِحَةِ، فَأَمَرَنِي فَنَزَعْتُهُ

    “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari safar. Saat itu saya menutupi pintu dengan tirai bergambar kuda bersayap. Melihatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk melepas tirai itu.”. (HR. Muslim)

    Adapun jika objek itu bukan makhluk bernyawa, seperti gambar manusia yang terpisah dengan kepalanya atau gambar kepala manusia tanpa badan atau gambar tangan manusia tanpa badan atau gambar awan atau pohon dengan mata dan mulut, maka sebagian ulama menyatakan bahwa gambar-gambar itu bukanlah merupakan objek yang dilarang, karena asalnya bukanlah gambar makhluk hidup atau bukan merupakan gambar yang akan dinyatakan hidup hanya dengan anggota tubuh yang nampak dalam gambar. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata ;

    فَإِنْ قَطَعَ رَأْسَ الصُّورَةِ، ذَهَبَتْ الْكَرَاهَةُ. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: الصُّورَةُ الرَّأْسُ، فَإِذَا قُطِعَ الرَّأْسُ فَلِيس بِصُورَةٍ … وَإِنْ قَطَعَ مِنْهُ مَا لَا يُبْقِي الْحَيَوَانَ بَعْدَ ذَهَابِهِ، كَصَدْرِهِ أَوْ بَطْنِهِ، أَوْ جُعِلَ لَهُ رَأْسٌ مُنْفَصِلٌ عَنْ بَدَنِهِ، لَمْ يَدْخُلْ تَحْتَ النَّهْيِ، لِأَنَّ الصُّورَةَ لَا تَبْقَيْ بَعْدَ ذَهَابِهِ، فَهُوَ كَقَطْعِ الرَّأْسِ. وَإِنْ كَانَ الذَّاهِبُ يُبْقِي الْحَيَوَانَ بَعْدَهُ، كَالْعَيْنِ وَالْيَدِ وَالرِّجْلِ، فَهُوَ صُورَةٌ دَاخِلَةٌ تَحْتَ النَّهْيِ. وَكَذَلِكَ إذَا كَانَ فِي ابْتِدَاءِ التَّصْوِيرِ صُورَةُ بَدَنٍ بِلَا رَأْسٍ، أَوْ رَأْسٍ بِلَا بَدَنٍ …. ، لَمْ يَدْخُلْ فِي النَّهْي؛ لِأَنَّ ذَلِكَ لَيْسَ بِصُورَةِ حَيَوَانٍ.

    Apabila seorang menghilangkan bagian kepala (dari gambar), maka hukum makruh (tidak boleh) dari keberadaan gambar itu menjadi lenyap.  Ibnu ‘Abbas berkata; “Gambar itu adalah kepala. Maka bila kepala (dari gambar itu) telah dilenyapkan, maka hukum makruh (tidak bolehnya) gambar pun menjadi lenyap … Bila dilenyapkan dari gambar itu bagian tubuh yang tidak mungkin makhluk bernyawa akan dapat hidup tanpa bagian tersebut, maka gambar seperti itu tidaklah masuk dalam kategori gambar yang terlarang. Sebabnya karena makhluk dengan gambaran seperti yang disebutkan tidaklah akan hidup (bukan makhluk bernyawa). Contohnya; gambar makhluk bernyawa tanpa dada, atau tanpa perut, atau kepalanya dijadikan terpisah dengan badannya. Seluruh gambar demikian sama dengan gambar makhluk bernyawa tanpa kepala (sebagaimana pernyataan Ibnu ‘Abbas). Tetapi jika yang dihilangkan dari gambar itu adalah mata, atau tangan atau kaki saja; maka hukum gambar seperti itu adalah terarang. Termasuk juga gambar yang dibolehkan adalah gambar badan sendirinya tanpa kepala  atau gambar kepala saja tanpa badan … tidaklah gambar-gambar ini terlarang; karena gambar seperti itu bukanlah gambar makhluk bernyawa.”. (al Mughni, 7/282)

    Wallahu a’lam bis shawaab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here