Manhaj Ahlus Sunnah Dalam Menilai Dan Mengkritik

BATASAN MATERI

Setiap manusia telah dikarunai oleh Allah berbagai potensi yang bisa digunakannya untuk menelaah, mengamati, mempelajari dan menilai sesuatu. Tentu hal ini adalah sangat lumrah dan manusiawi. Termasuk didalamnya penilaian yang ia berikan kepada sesamanya –pun tentu adalah sesuatu yang sangat wajar. Hal yang tidak wajar adalah jika seorang tidak memiliki penilaian kepada orang lain, yang berarti ia tidak berinteraksi, dan seorang yang tidak berinteraksi –sudah tentu- telah menyalahi kodrat hidupnya sebagai makhluk sosial.

Olehnya, maka penilaian seorang terhadap orang lain adalah hal yang wajar. Namun yang menjadi permasalahan adalah ketika penilaian tersebut sampai pada tataran mempublikasikan penilaian itu kepada orang lain. Belum lagi bila yang dipublikasikan itu adalah sifat negatif dari pribadi seorang muslim. Belum lagi bila sosok muslim tersebut adalah seorang yang ditokohkan di tengah masyarakat.

Karena itu, maka risalah ini akan memaparkan beberapa kaidah pokok yang hendaknya dipahami dalam menilai kepribadian seorang muslim; bukan penilaian yang ditujukan untuk konsumsi pribadi –karena semua orang pasti memilikinya-. Namun yang dimaksud adalah penilaian yang naik pada tataran mempublikasikan penilaian itu kepada orang lain.

Semoga Allah mengaruniakan kita keikhlasan dan petunjuk kepada jalan yang terbaik menuju ampunan, ridha dan Surga-Nya.

URGENSI MATERI

1. Banyaknya kaum muslimin yang terjebak dalam kesalahan berkenaan dengan masalah ini, yang menyebabkan tidak sedikit dari mereka melakukan hal-hal yang dapat meruntuhkan nilai-nilai ukhuwwah yang merupakan salah satu nilai inti yang hendak ditanamkan dalam ajaran Islam.

2. Kebutuhan masyarakat yang sangat besar untuk mengetahui kaidah-kaidah umum atau global dalam menilai dan mengkritik seseorang. Pengetahuan akan kaidah-kaidah umum (al kulliyyaat) adalah dasar untuk mengetahui perkara-perkara juz’I (perkara-perkara yang bersifat rinci). Seorang yang tidak memiliki pengetahuan akan al kulliyyaat (perkara-perkara yang bersifat global) –tentu- tidak akan mengetahui hal-hal yang bersifat juz’iyyaat (terperinci). Imam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- berkata;

لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ مَعَ الْإِنْسَانِ أُصُولٌ كُلِّيَّةٌ تُرَدُّ إلَيْهَا الْجُزْئِيَّاتُ لِيَتَكَلَّمَ بِعِلْمِ وَعَدْلٍ ثُمَّ يَعْرِفُ الْجُزْئِيَّاتِ كَيْفَ وَقَعَتْ ؟ وَإِلَّا فَيَبْقَى فِي كَذِبٍ وَجَهْلٍ فِي الْجُزْئِيَّاتِ وَجَهْلٍ وَظُلْمٍ فِي الْكُلِّيَّاتِ فَيَتَوَلَّدُ فَسَادٌ عَظِيمٌ

“Seorang yang ingin membahas masalah-masalah terperinci (al juz’iyyaat) secara baik dan benar wajiblah memiliki dasar-dasar global yang dijadikannya sebagai tolak ukur. Dengan itulah ia dapat mengetahui duduk masalah berbagai persoalan secara terperinci. Jika ia tidak mengetahui dasar-dasar global tersebut, niscaya ia akan tetap berada dalam kedustaan dan kebodohan terhadap masalah-masalah yang terperinci, -sebagaimana- ia –juga- akan tetap berada dalam kebodohan dan kedzhaliman terhadap perkara-perkara global, dan inilah yang menjadi cikal bakal munculnya kerusakan dan kehancuran yang besar.” (1).

3. Pentingnya menjaga kehormatan kaum muslimin. Allah berfirman;

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”. (al Ahzaab; 57-58)

4. Dampak yang sangat negatif, yang akan timbul sebagai akibat dari banyaknya orang-orang yang tidak paham –juga- turut membusungkan dada dan terlibat dalam masalah ini. Dampak yang dimaksud berupa perpecahan, permusuhan, saling hasad, dengki, saling tuduh, mengkafirkan, membid’ahkan, dan hal-hal lain yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip ukhuwwah dan persaudaraan Islam.

 

 

KAIDAH PERTAMA

BERTAKWA KEPADA ALLAH DALAM MELONTARKAN PENILAIAN

KEPADA SEORANG MUSLIM

Banyak keterangan dalam agama berisi ancaman kepada orang-orang yang masuk dalam perangkap ghibah. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”. (al Hujuraat; 12)

Apa defenisi ghibah ?. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Tahukah kalian apa yang dimaksud ghibah ?. Para sahabat berkata; Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; (ghibah adalah) engkau menceritakan sesuatu yang tidak baik berkenaan dengan saudaramu. Kemudian, Beliau ditanya; bagaimana jika yang saya ceritakan itu –benar- berada pada saudaraku tersebut ?. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; jika betul yang engkau ceritakan berkenaan dengan saudaramu itu, maka sungguh engkau telah menggibahnya. Namun bila cerita engkau itu tidak benar, maka sesungguhnya engkau telah mendzhaliminya. (2)

Maka dari ayat yang pertama dijelaskan haramnya menggibah seseorang, yang lantas diibaratkan bagaikan seorang yang memakan daging saudaranya sendiri. Dan pada hadits setelahnya diterangkan tentang defenisi dari ghibah. Selain itu –secara umum-, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- telah mengingatkan ummatnya tentang keharaman mendzhalimi dan menyakiti kaum muslimin, baik dengan tindakan maupun dengan perkataan, atau dengan segala hal yang dapat menyakiti mereka. Beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda pada hari Arafah;

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا إِلَى يَوْمِ تَلْقَوْنَ رَبَّكُمْ أَلَا هَلْ بَلَّغْتُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ اللَّهُمَّ اشْهَدْ فَلْيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى مِنْ سَامِعٍ فَلَا تَرْجِعُوا بَعْدِي كُفَّارًا يَضْرِبُ بَعْضُكُمْ رِقَابَ بَعْضٍ

“Sesungguhnya darah dan harta-harta kalian adalah haram sebagaimana haramnya hari, bulan dan tempat ini hingga hari perjumpaan dengan Allah. (Persaksikanlah) bukankah saya telah menyampaikannya ?!. Para sahabat berkata; Ia. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda; Ya Allah saksikanlah kesaksian mereka. Maka hendaklah orang yang menyaksikan secara langsung menyampaikan kepada yang tidak hadir saat ini. Sesungguhnya tidak sedikit diantara orang-orang yang tidak secara langsung menghadiri dan mendengar –ternyata- lebih paham dari yang hadir dan mendengar penyampaian secara langsung. Maka janganlah –setelah ini- kalian kembali kepada kekufuran, yaitu dengan saling menumpahkan darah kalian” [3]. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

يَا مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الإِيمَانُ قَلْبَهُ، لا تُؤْذُوا الْمُؤْمِنِينَ، وَلا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيهِ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ، وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai orang-orang yang telah islam lisannya namun belum beriman hatinya, janganlah kalian menyakiti orang-orang beriman dan jangan pula mencari-cari kesalahannya. Barangsiapa mencari-cari kesalahan dan kekurangan saudaranya, niscaya Allah –pun akan menyingkap kesalahannya meski ia berada pada bagian terdalam dari rumahnya.”[4].Maka bertolak dari keterangan-keterangan yang telah disebutkan, hendaknya seorang muslim –terlebih dahulu- bertanya kepada dirinya sebelum ia masuk lebih jauh ke wilayah yang berbahaya ini ;

1. Apa yang memotivasinya ikut serta dalam masalah ini ?. Benarkah karena ikhlas untuk amar ma’ruf nahi munkar, atau karena faktor-faktor lain yang sifatnya pribadi ?.

2. Apakah bahan pembicaraan tersebut adalah hal yang dibolehkan menggibah didalamnya ?

3. Hendaklah ia sadar secara sesungguhnya, apa jawaban yang akan dikemukakannya di hadapan Allah ketika –kelak- ia ditanya; “Mengapa engkau mengatakan ini dan itu kepada si Fulan?”. Hendaklah ia ingat firman Allah;

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي أَنْفُسِكُمْ فَاحْذَرُوهُ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”. (al Baqarah; 275)

 

KAIDAH KEDUA

BERSANGKA BAIK KEPADA SESAMA MUSLIM

Asal dari kaidah ini adalah firman Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلاَ تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang …”. (al Hujuraat; 12). Ketika terjadi peristiwa ifk, Allah berfirman kepada orang-orang mukmin yang masuk dalam perangkap syaithan dengan berburuk sangka kepada Aisyah –radhiyallahu ‘anha-;

لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ المُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْراً وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُّبِينٌ

“Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu’minin dan mu’minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”. (an Nuur; 12). Lantas Allah menasehatkan kaum muslimin –setelah itu- bahwa menyebarkan berita bohong, isu dan kabar burung yang menyangkut kehormatan kaum muslimin adalah sebuah perkara besar yang tidak boleh bagi seorang terlibat –terlebih- turut andil dalam penyebaran berita tersebut. Allah berfirman;

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُم مَّا لَيْسَ لَكُم بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّناً وَهُوَ عِندَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُم مَّا يَكُونُ لَنَا أَن نَّتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.”. (an Nuur; 15-16). Kemudian setelahnya, Allah memerintahkan kaum muslimin agar tidak lagi terjebak kepada kesalahan yang serupa untuk kedua kalinya. Allah berfirman;

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَن تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَداً إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.”. (an Nuur; 17)

Demikianlah nasehat Allah berkenaan dengan masalah prasangka mukmin dengan saudaranya; tidak dibenarkan bagi mereka untuk berburuk sangka kepada saudaranya. Olehnya itu, maka agama ini tidaklah membenarkan bagi seorang untuk menyebarkan seluruh informasi yang didengarnya kepada orang lain. Barangsiapa yang berlaku demikian, maka sungguh hal itu adalah salah satu indikasi kebohongan yang menghiasi pribadinya. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seorang itu (dinyatakan sebagai) pembohong, manakalah ia mengucapkan (memaparkan kepada orang-orang) seluruh yang didengarnya.”[5]. Abdul Rahman bin Mahdi –rahimahullah- berkata;

لَا يَكُونُ الرَّجُلُ إِمَامًا يُقْتَدَى بِهِ حَتَّى يُمْسِكَ عَنْ بَعْضِ مَا سَمِعَ

“Tidaklah seorang itu dapat menjadi seorang imam yang –pantas- diikuti hingga ia mampu menahan lisannya untuk tidak mengucapkan seluruh yang didengarnya.”[6]. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِين

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.”. (al Hujuraat; 6)

 

KAIDAH KETIGA

MEMBICARAKAN DAN MENILAI SEORANG WAJIB

DILAKUKAN SECARA ADIL

Berlaku adil kepada setiap orang adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap muslim. Sikap seperti ini adalah sikap yang telah diwasiatkan oleh Allah tidak saja kepada ummat Muhammad ––shallallahu ‘alaihi wasallam-, tetapi juga kepada ummat-ummat sebelumnya. Allah berfirman dalam sebuah ayat dari surat al An’aam, yang dikenal dengan sebutan “al Washaaya al ‘Asyr” (sepuluh wasiat Allah);

وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى

“Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (mu).”. (al An’aam; 152)

Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kaum muslimin agar senantiasa berlaku adil dalam perkataan, pengambilan keputusan dan seluruh tindakannya kepada setiap orang. Dan agar mereka tidak menjadikan kekerabatan sebagai alasan untuk tidak berlaku adil kepada orang lain. Yang pada intinya –pun berisi penegasan untuk tetap berlaku adil –meski- dengan musuh –sekalipun-. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”. (an Nisaa’; 135)

Olehnya itu, maka penilaian terhadap pribadi seorang muslim wajiblah didasarkan pada prinsip keadilan, dan berlandaskan ilmu serta data yang benar dan akurat. Tidak dibenarkan bagi seorang membicarakan pribadi saudaranya –apapun alasannya- jika tidak berdasarkan pada prinsip-prinsip yang telah disebutkan. Allah berfirman;

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”. (al Israa’; 36)

Selain itu, hal yang tentunya disadari bersama bahwa setiap manusia adalah makhluk yang tidak luput dari berbagai macam kesalahan dan kekeliruan. Tiada seorangpun dari manusia yang luput dari hal tersebut. Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap anak cucu Adam tidaklah luput dari berbagai macam kesalahan. Namun sebaik-baik orang yang banyak berbuat salah adalah orang-orang yang banyak bertaubat.”[7]. Menyadari hal ini, tentu jika parameter yang digunakan untuk menilai pribadi seorang adalah melulu kesalahannya, niscaya tidak ada seorangpun yang akan lulus dalam penilaian tersebut. Olehnya maka penilaian terhadap pribadi seorang hendaklah dilakukan secara adil, yaitu dengan melihat dan mempertimbangkan kebaikan dan juga kesalahannya. Sebagaimana air yang banyak, bila jatuh padanya najis dengan kadar yang sedikit dan tidak sampai menghilangkan kemutlakan air tersebut, maka tidaklah air tersebut serta merta berubah menjadi air najis. Demikian pula seorang muslim, tidaklah kesalahan yang dilakukannya sekali atau dua kali, serta merta menjadikannya seorang yang tidak lagi berada dalam wilayah keislaman. Allah berfirman;

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.”. (as Syu’araa’; 183)

Al Imam Ibnu Rajab –rahimahullah- berkata;

وَالْمُنْصِفُ مَنْ اغْتَفَرَ قَلِيلَ خَطَأِ الْمَرْءِ فِي كَثِيرِ صَوَابِهِ

“Orang yang adil (dalam menilai seorang) adalah seorang yang melebur sedikit dari kekeliruan seseorang dalam banyak kebaikannya.”. (8). Al Imam ad Zahabi –rahimahullah- berkata;

ونحب السنة وأهلها ، ونحب العالم على ما فيه من الاتباع والصفات الحميدة ، ولا نحب ما ابتدع فيه بتأويل سائغ ، وإنما العبرة بكثرة المحاسن

“Kami cinta kepada sunnah dan orang-orang yang menyandangnya. Kami cinta kepada seorang ulama disebabkan komitmennya terhadap sunnah dan sifat-sifat terpuji yang dimilikinya. Dan kami tidak senang terhadap bid’ah yang mereka lakukan berdasarkan pentakwilan yang dibolehkan. Namun meski demikian –tetaplah- yang menjadi tolak ukur dalam menilai seorang adalah banyaknya kebaikan yang telah dibuatnya.”[9].  Disebutkan dalam sebuah perkataan hikmah;

كفى بالمرء نبلاً أن تعد معايبه

“Cukuplah yang menjadi pertanda akan kemuliaan seorang, yaitu ketika kesalahan dan aibnya dapat dihitung.”.

Olehnya, bukanlah merupakan keadilan bila sedikit kesalahan yang dilakukan oleh seorang muslim menjadikannya masuk dalam jajaran orang-orang mujrim (pelaku dosa berat), orang-orang yang diragukan keislamannya atau bahkan masuk dalam jajaran orang-orang yang telah keluar dari wilayah keislaman –wal’iyadzu billah-. Bila ini dinyatakan kepada seorang muslim biasa, maka bagaimana dengan orang-orang alim diantara mereka –wallahul musta’aan-. Imam as Sya’bi –rahimahullah- berkata menggambarkan ketidakadailan demikian dalam menilai seorang;

والله لو أصبت تسعاً وتسعين مرة ، وأخطأت مرة ، لأعدوا على تلك الواحدة

“Demi Allah, jika seandainya saya benar 99 kali dan keliru sekali, niscaya yang akan mereka jadikan tolak ukur dalam menilaiku adalah kekeliruanku yang sekali (dan mereka lupakan seluruh kebaikanku itu.”. (10)

 

KAIDAH KEEMPAT

WAJIB MENJAGA PERSATUAN DAN UKHUWWAH

Menjaga ukhuwwah adalah hal wajib bagi setiap muslim. Allah menegaskan hal ini di dalam banyak keterangan agama, baik yang disampaikan lewat al Quran maupun lewat perantara Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam-. Diantara keterangan yang dimaksud adalah;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.”. (al Hujuraat; 10)

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”. (Ali Imraan; 105)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Permisalan seorang mukmin dalam jalinan kasih sayang yang mereka bangun ibarat sebuah jasad. Apabila satu dari anggota tubuh mengeluh sakit, maka anggota tubuh yang lain pun akan mengeluh, tidak nyaman, dan demam.”[11]. Olehnya maka Rasulullah ––shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda;

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya seperti apa yang ia cinta bagi dirinya.”. (12)

 

Demikianlah empat kaidah yang –kiranya- perlu diketahui berkenaan dengan penilaian seorang muslim kepada saudaranya semuslim. Maka bertolak dari keempat kaidah yang telah disebutkan diambil kesimpulan bahwa;

  1. Penilaian yang diberikan kepada sesama muslim hendaknya dibangun di atas asas baik sangka (husnu adzhan) dan bukan dibangun di atas perasangka buruk.
  2. Berlaku adil adalah hal yang diwajibkan –bahkan- kepada musuh sekalipun, maka perintah berlaku adil ini –tentu- lebih utama ditujukan kepada orang-orang muslim.
  3. Menjaga nilai-nilai ukhuwwah dan persaudaraan sesama muslim adalah hal yang wajib, dan mencorengnya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang menyakiti perasaan mereka adalah hal yang diharamkan, dan termasuk bentuk kedzhaliman.
  4. Penilaian yang diberikan oleh seorang muslim kepada saudaranya –selain dibangun diatas asas baik sangka- juga wajib dibangun diatas ilmu dan bukti yang kongkrit dan bukan dibangun diatas berita-berita yang simpangsiur dan tidak jelas validitasnya.
  5. Kewajiban berperasangka baik tidak berarti harus menghilangkan sikap mawas diri dari seseorang.

 

CATATAN PENTING

Kewajiban bersikap inshaf (adil) dalam menilai seseorang tidak berarti mengabaikan maslahat dan mafsadat yang akan timbul dari sikap tersebut. Dalam pemaparan biografi seorang tokoh, permasalahan inshaaf ini adalah hal yang wajib sebagaimana yang telah dijelaskan. Namun dalam tataran menjawab pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan kepabilitas seorang tokoh menyimpang untuk dijadikan sebagai sumber rujukan dalam masalah agama, -tentu- untuk menjawabnya dilihat maslahat dan mafsadatnya. Contoh;

Bila orang yang ditanyakan itu adalah seorang tokoh, cerdas, pemimpin di sebuah Negara, beraliran liberal –misalnya-. Maka ada dua pilihan jawaban yang mungkin diberikan kepada penanya sesuai dengan keadaan si penanya tersebut;

  1. Bila si Penanya itu adalah seorang cerdas dan diyakini betul kesungguhannya untuk mencari kebenaran, dan si Penjawab ingin memahamkan si Penanya akan prinsip keadilan di dalam Islam, maka si Penjawab bisa saja mengatakan; “Dia itu adalah seorang yang cerdas, ditokohkan, dan pemimpin. Namun ia adalah seorang yang sangat getol memperjuangkan dan membela liberalisme, banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh dari golongan yang memusuhi Islam, banyak mengeluarkan pendapat aneh yang menyelisihi pendapat yang telah disepakati oleh para ulama. Karena itu, janganlah menjadikannya sebagai rujukan dalam memahami agama.”.
  2. Bila dikhawatirkan bahwa si Penanya akan terfitnah dengan diungkapnya sisi lebih yang dimiliki oleh tokoh sesat tersebut, maka tidak boleh mengungkap kelebihan yang dimiliki oleh tokoh tersebut. Tetapi hendaknya langsung dijelaskan sebab mengapa tidak boleh menjadikannya sebagai rujukan dalam memahami Islam.
BEBERAPA CONTOH TERAPAN

Imam ad Dzahabi –rahimahullah- berkata ketika menyebutkan biografi dari Abdul Warits Ibnu Sa’id;

أحد الحفاظ … وكان يضرب المثل بفصاحته وإليه المنتهى في التثبت إلا أنه قدري

“Beliau adalah salah seorang hafidzh … sangat fasih hingga Ia dijadikan permisalan dalam kefasihan. Sebagaimana Ia pun adalah seorang yang sangat valid keterangannya. Hanya saja Ia adalah seorang yang beraliran Qadariyyah.”. (13)

Ketika menyebutkan biografi dari al-Waaqidi, imam ad Dzahabi –rahimahullah- berkata;

والواقدي – وإن كان لا نزاع في ضعفه – فهو صادق اللسان، كبير القدر

“Al Waqidi, meski tidak lagi diragukan kelemahannya, namun Beliau adalah seorang yang jujur dan memiliki kewibawaan yang besar.”. (14)

Ketika menyebutkan biografi dari khalifah al Ma’muun, -seorang yang banyak menimpakan fitnah bagi ulama ahlus sunnah, dan yang menganut pendapat bahwa al Quran adalah makhluk-, Beliau berkata;

كان من رجال بني العباس حزما وعزما ورأيا وعقلا وهيبة وحلما، ومحاسنه كثيرة في الجملة

“Dia adalah seorang diantara tokoh Bani ‘Abbas yang memiliki kekuatan tekad dan semangat, cerdas, disegani, tidak terburu-buru, dan ia memilki kebaikan yang banyak –secara global-.”. Dan sebelumnya, Beliau berkata;

ودعا إلى القول بخلق القرآن وبالغ ، نسأل الله السلامة

“Dia adalah seorang yang menyerukan pendapat bahwa al Quran adalah makhluk, bahkan Dia sangat gencar menyerukan pendapat ini, semoga Allah memberikan keselamatan (bagi kaum muslimin agar tidak terjerumus dalam fitnah). (15)

FATWA TENTANG MUWAZANAH

Pertanyaan :

Apa defenisi al Muwazanah?. Dan apakah wajib bagi kami ketika mengingatkan seorang akan penyimpangan tokoh tertentu (pelaku bid’ah) untuk juga menyebutkan sisi-sisi baik dari pelaku bid’ah tersebut?.

Jawab :

Segala puji bagi Allah. Salam dan shalawat kepada Rasulullah, keluarga dan kepada sahabat-sahabat Belau. Selanjutnya,

Secara bahasa kata “muwaazanah” berasal dari kata kerja “waazana” yang berarti menimbang dua hal atau benda. Dikatakan: “ini yuwaazinu ini”, maksudnya adalah ini serupa dengan ini atau sama timbangannya. Demikianlah hal ini disebutkan oleh Ibnu Mandzhuur di dalam Lisaan al ‘Arab. Adapun penggunaan istilah ini dikalangan para fuqaha yaitu ketika terjadi pertentangan antara sesuatu yang memiliki nilai mafsadat dan disaat bersamaan –pun memiliki nilai maslahat. Maka ketika itu dipilihlah sesuatu yang memiliki nilai kemaslahatan yang lebih dan ditinggalkan sesuatu yang memiliki nilai kemafsadatan yang lebih. Selain itu, mungkin pula kata ini digunakan pada yang selainnya.

Khusus berkenaan dengan masalah “tahdziir” (mengingatkan manusia akan penyimpangan) pelaku bid’ah, maka sungguh hal ini merupakan petunjuk ulama untuk mengingatkan manusia agar tidak terperdaya dengan pemikiran-pemikiran sesat mereka, yang pada akhirnya akan merusak agamanya. Adapun menyebutkan sisi-sisi lebih yang dimiliki oleh tokoh yang tengah diingatkan akan penyimpangannya, maka bukanlah hal yang tepat, disebabkan karena maksud dari peringatan yang diberikan ketika itu agar orang-orang menjauhi pemikirannya, sedangkan menyebutkan sisi-sisi lebih dari tokoh tersebut –justru- akan menarik orang-orang untuk mengetahui lebih dekat sang tokoh itu.

Namun demikian, mungkin saja menyebutkan sisi-sisi lebih dari tokoh tersebut adalah hal yang boleh dilakukan tetapi pada saat yang berbeda. Misalnya ketika menyebutkan biografi sang tokoh, atau menyebutnya dihadapan para penuntut ilmu dengan maksud membina mereka agar senantiasa bersikap adil kepada siapapun. Tetapi –tentunya- hal ini baru boleh dilakukan ketika tidak dikhawatirkan timbulnya fitnah bagi mereka. Wallahu a’lam

 


[1] Majmu’ Fataawa, (19/203) 

[2] HR. Muslim, no. 4690

[3] HR. Bukhari, no. 1741

[4] HR. Thabraani, di dalam al Mu’jam al Kabiir, (9/388)

[5] HR. Muslim, no. 7

[6] Shahih Muslim, (1/19)

[7] HR. Tirmidzi, no. 2687

[8] Al Qawaa’id al Fiqhiyyah, (1/2)

[9] Siyar A’laami an Nubalaa’, (20/46)

[10] Siyar al A’laam an Nubala’, (4/308)

[11] HR. Muslim, no. 6751

[12] HR. Ibnu Majah, no. 65

[13] Miizan al I’tidaal, (4/430)

[14] Siyar A’laami an Nubalaa’, (7/142)

[15] Siyar A’laam an Nubalaa’, (10/273)

Pages: 1 2 3

You may also like...

%d bloggers like this: