Memaknai Hakikat Berhari Raya

    0
    218

    Allah berfirman;

    وَلِتُكْمِلُواْ الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ اللّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

    “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan puasamu dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (takbir hari raya) atas petunjuk-Nya  yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”.

     

    Idul fithri merupakan salah satu diantara dua hari raya yang senantiasa dirayakan oleh ummat Islam pada setiap tahunnya, selain hari raya idul adha. Bagi ummat Islam tiada hari yang patut dirayakan kecuali kedua hari tersebut. Selain kedua hari tersebut maka bukanlah hari yang pantas untuk dirayakan oleh ummat Islam. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat bernama Anas Ibn Malik :

    قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟ قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ الْأَضْحَى، وَيَوْمَ الْفِطْرِ

    Artinya : ”Ketika Rasulullah sampai di Madinah, dimana pada saat itu penduduk Madinah sedang merayakan dua hari raya, yang mana mereka bersenang-senang di hari tersebut. Lalu Rasulullah pun bertanya : ”hari apakah ini?”. Penduduk Madinah pun menjawab : “Kedua hari tersebut adalah hari dimana kami terbiasa bermain-main/bersenang-senang ketika jahiliyah dahulu”. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Seseungguhnya Allah telah memberikan pengganti dua hari raya yang lebih baik dari kedua hari (yang kalian peringati tersebut), yaitu idul fithri dan idul adha”.

    Kata ‘Iedul Fithri terdiri dari 2 suku kata. Pertama ‘Ied yang berarti perayaan yang dirayakan secara rutin dalam setiap tahunnya. Sedangkan fithri berarti berbuka. Artinya Idul Fithri ialah hari raya yang setiap tahunnya dirayakan oleh ummat islam disaat mereka diperintahkan untuk berbuka setelah berpuasa selama 29-30 hari lamanya pada bulan Ramadhan. Dan seluruh ulama bersepakat diharamkannya berpuasa pada hari tersebut.

    Sebagaimana lazimnya hari raya, tentu semua orang merayakan hari raya idul fithri dengan penuh suka cita. Namun, bukan dengan cara-cara yang salah sebagaimana yang banyak kita temukan di tengah masyarakat kita saat ini. Dimana hari raya dijadikan sebagai ajang untuk memenuhi kebutuhan lahiriah saja serta melupakan pemenuhan aspek ruhiyah dan bathiniahnya.  Mereka memaknai hari raya dengan keharusan berburu pakaian baru sehingga mereka pun rela mengorbankan keutamaan 10 hari terakhir dengan sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan rela menggadaikan keselamatan diri mereka di tengah masa pandemi seperti saat ini. Tentunya hal ini merupakan kelalaian dan jauh dari hakikat berhari raya yang sesungguhnya.

    Lalu bagaimana cara memaknai hakikat berhari raya?. Berikut kami sampaikan beberapa riwayat dari para salafus shalih :

    √ Ibnu Rajab Al Hanbaliy memberikan nasehat kepada kita tentang hakikat sebenarnya dari perayaan hari raya. Beliau berkata :

    ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد ليس العيد لمن تجمل باللباس والركوب إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

    “ Hari raya itu bukanlah bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, namun hari raya bagi mereka yang ketaatannya senantiasa bertambah. Hari raya bukanlah untuk mereka yang mempercantik diri dengan pakaian dan kendaraannya, namun hari raya yang sesungguhnya ialah untuk mereka yang diampuni dosa-dosanya”.

    √ Sebuah riwayat yang mengisahkan tentang cara Ali Ibn Abi Thalib ketika memaknai hakikat berhari raya :

    دخل رجل على أمير المؤمنين علي بن أبي طالب – رضي الله عنه – يوم عيد الفطر ،فوجده يتناول خبزا فيه خشونة، فقال : يا أمير المؤمنين ، يوم عيد وخبز خشن ! فقال علي : اليوم عيد من قبل صيامه وقيامه ، عيد من من غفر ذنبه  وشكر سعيه وقبل عمله ، اليوم لنا عيد وغدا لنا عيد  وكل يوم لا يعصى الله فيه فهو لنا عيد .

    Artinya : “Seorang laki-laki mendatangi Khalifah Ali Ibn Abi Thalib-radhiyallahu anhu- pada hari raya idul fithri,. Ketika itu laki-laki tersebut mendapati sang Khalifah tengah menyantap roti yang keras. Lalu laki-laki tersebut berkata kepada Ali ibn Abi Thalib : Wahai Amirul Mukminin, Roti kering/keras di hari raya?. Lalu Ali pun berkata : “Hari ini adalah hari raya bagi orang-orang yang diterima amalan puasa dan shalatnya, hari raya bagi orang-orang yang diampuni dosa-dosanya, dibalas usahanya (dalam melakukan kebaikan) dan diterima amalannya. Hari ini adalah hari raya, esok pun adalah hari raya dan setiap hari ketika kita tidak bermaksiat kepada Allah dihari-hari tersebut maka sesungguhnya itulah hakikat hari raya bagi kita (ummat islam)”.

    Ikhwati, berhari raya bukan tentang gaya-gayaan dengan pakaian baru yang dikenakan, kendaraan baru yang ditunggangi. Tidak juga dengan banyaknya perhiasan yang kita pertontonkan. Namun, hakikat sebenarnya dari berhari raya ialah :

    √ Diterimanya amal ibadah selama Bulan Ramadhan

    √ Keluar dari bulan Ramadhan dalam keadaan mendapatkan ampunan dari Allah Ta’ala

    √ Bertambahnya ketaatan dan menjaga amal ibadah selama Ramadhan agar terus dapat dipraktekkan di luar Ramadhan.

     

    Wallahua’lam wa baarakallahufiikum

     

    ✍️ Penulis : Ustadz Rafael Afrianto, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here