Memantaskan Diri Sebagai Orang Tua

    0
    81

    Anak adalah anugerah yang indah dari Allah untuk orang tua, betapa tidak, dengan hadirnya anak akan meningkatkan kebahagiaan sebuah keluarga. Berbagai mimpi dirajut seiring hadirnya anak, berbagai cara dan usaha ditempuh demi melihatnya tumbuh dan berkembang dengan baik, berbagai lembaga pendidikan dipilah dan dipilih untuk kemudian dijadikan tempat untuk menempa anaknya demi satu tujuan, menjadikannya anak yg shaleh.

    Itu semua hanyalah bentuk ikhtiar/usaha dari orang tua demi kebaikan anaknya. Tentu yang bisa mewujudkan itu semua, membimbing anak dalam kebaikan, menjaganya, menjadikannya sebagai anak sholeh adalah Allah Azza Wa Jalla saja. Oleh karena itu, setelah semua upaya kita tempuh dalam mendidik anak menjadi shaleh, hal yang kemudian harus dilakukan adalah menitipkannya kepada Allah, mendoakannya. Di dalam Al-Quran Allah menghikayatkan bagaimana Ibu dari Siti Maryam menitipkan putrinya kepada Allah seraya berkata:

    وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

    “Dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.”. (QS Ali Imron; 36)

    Nabi Ibrohim alihi as-salam pun banyak sekali mendoakan anak dan keturunannya, di antaranya :

    رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ

    “Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.”. (QS Ibrohim; 40)

    Selain itu, orang tua-pun harus memperbanyak mengerjakan kebaikan dan amal shalih, karena itu semua memiliki pengaruh yang besar bagi anak. Keberkahan amal shalih orang tua bisa jadi akan dinikmati pula oleh anak-anaknya dalam bentuk Allah menjadikan mereka shalih, menjaga dan melindungi mereka, melapangkan rizki mereka dan menjaga keselamatan mereka.

    Dalam Al-Quran Allah berfirman ketika menghikayatkan tentang Nabi Musa dan Nabi Khidhir alaihima as-salam,

    وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَن يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ

    “Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang Ayahnya adalah seorang yang saleh, Maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu; (QS Al-Kahfi; 82)

    Sebaliknya, akibat buruk yang timbul dari perbuatan-perbuatan jelek dan balasan dari Allah serta hukuman-Nya yang ditimpakan kepada orang tua, bisa jadi akan menimpa pula kepada anak-anak dalam bentuk penyimpangan anak dari kebenaran, penyakit, atau berbagai macam problematika hidup yang harus mereka hindari, wal iyadzu billah.

    ✍️ Penulis : Ustadz Irfan Halim, Lc
    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa