Membangun paradigma masyarakat Islami

    0
    53

    Setiap individu tentu hidup dalam suatu lingkungan masyarakat. Seorang muslim tentu bercita-cita agar masyarakat yang dia hidup bersama mereka merupakan masyarakat yang Islami.

    Berikut ini adalah beberapa point yang yang harus menjadi paradigma berpikir seorang muslim dalam membangun masyarakatnya.

    1. Hendaknya setiap muslim mengembalikan seluruh urusannya kepada apa yang menjadi ketentuan Allah Azza Wa Jalla.

    وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

    “Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin apabila Allah telah menetapkan suatu ketetapan akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. (Al-Ahzab 36)

    1. Hendaknya tidak tergesa-gesa dalam menghukumi sesuatu sebelum mengetahui apa yang menjadi hukum Allah dalam hal tersebut.

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui.”. (Al-Hujurat 1)

    1. Satu-satunya sumber dalam membangun masyarakat yang Islami adalah Al-Quran dan As-Sunnah

    Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu saat ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dan bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”. (HR. Ahmad)

    1. Hendaknya senantiasa bertanya kepada para Ulama yang amanah dan mengikuti mereka untuk mengenal hukum Allah.

    فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

    “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”. (An-Nahl 43)

    1. Menyakiti seorang muslim sama seperti menyakiti seluruh masyarakat.

    Oleh karena itu Islam mengharamkan penyebaran berita-berita bohong. Dalam hal ini Allah menurunkan lebih dari satu ayat untuk menepis tuduhan dusta terkait peristiwa ifk  Haaditsatul Ifki sebagai pelajaran bagi ummat. (lihat penjelasannya di alamat ini, klik!)

    1. Sesama anggota masyarakat hendaknya senantiasa mengajak kepada kebaikan dan mencegah adanya kemunkaran.

    ✍️ Penulis : Ustadz Irfan Halim, Lc