Mendidik Lewat Keteladanan

    0
    26

    Setiap metode ataupun teori, sehebat apapun, tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada yang menerapkan dan mengamalkannya, semuanya hanya menjadi buah pikiran yang tersimpan di kepala, tertulis di kertas. Hal ini berlaku juga dalam proses mendidik. Semua teori dan metode tentang pendidikan membutuhkan sosok yang bisa menjadi role model (teladan) sebagai penterjemah teori dan metode tersebut ke dalam sebuah tindakan sehingga bisa untuk diikuti.

    Konsep keteladanan ini sesuai dengan apa yang Allah -Azza Wa Jalla- ajarkan tentang cara mendidik hamba-hamba-Nya dan membimbing mereka menuju kebenaran. Dalam hal ini Allah Azza Wa Jalla mengutus “teladan” guna menterjemahkan nilai dan ajaran agama menjadi amalan yang nyata. Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam adalah contoh dari keteladanan ini, Allah Azza Wa Jalla berfirman;

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

    Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS AL-Ahzab:21)

    Dalam suatu kesempatan Aisyah rodhiyallahu anha ditanya tentang akhlak Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam, maka Aisyah menjawab, Akhlak beliau adalah Al-Quran.

    Sejarah banyak mencatat bagaimana metode pendidikan yang dilakukan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam dalam membentuk karakter umatnya adalah dengan memberikan keteladanan. Beliau ikut menggali parit dalam peristiwa Khandaq, beliau mengganjal lapar dengan mengikatkan batu di perut, beliau menikahi Zainab binti Jahsyin untuk menggugurkan kepercayaan Jahiliyyah terkait larangan menikahi istri dari anak angkat sehingga para shahabat tidak merasa sungkan dan berat hati.

    Konsep keteladanan inilah yang seyogyanya menjadi perhatian utama dalam proses mendidik generasi muda terkhusus adalah anak-anak. Dan yang harus diingat juga teladan terbaik bagi seorang anak adalah orang tuanya, sehingga tidak heran jika ada pepatah mengatakan Like Father, Like Son, Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

    Pepatah ini cukup menggambarkan betapa besar peranan orang tua dalam membentuk kepribadian anak. Sikap dan perilaku seorang anak adalah cerminan dari pola asuh orang tua di rumah, karena sebagian besar yang anak pelajari tidak berasal dari apa yang orang tua katakan ketika mengajari anaknya melainkan dari keteladanan yang dilihat anak dari orang tuanya.

    Seorang anak cenderung “menelan bulat” apa yang dia lihat dari orang tuanya, tidak peduli itu baik atau buruk, benar ataupun salah. Di sinilah titik kritis ketika seorang anak diasuh oleh selain orang tuanya.

    Menjadi sosok teladan untuk anak tentu bukanlah hal yang mudah dilakukan  semudah membalikkan telapak tangan. Itu semua membutuhkan proses dan pembiasaan, membiasakan melakukan hal-hal positif.

    Seorang Tabi’in bernama Amr bin Utbah (dalam riwayat lain Utbah bin Abi Sufyan) memberikan nasehat yang sangat baik dalam hal ini, nasehat yang sebenarnya dia tujukan untuk guru dari putranya, dia berkata, “hendaknya hal pertama yang anda lakukan dalam mendidik anak saya adalah memperbaiki terlebih dahulu diri anda karena mata anak saya akan senantiasa tertuju kepada anda. Hal yang baik menurut mereka adalah apa yang anda lakukan dan hal yang buruk menurut mereka adalah apa yang anda tinggalkan.” 

    Orang tua hendaknya berusaha untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya karena orang tua-lah yang paling sering dilihat oleh seorang anak. Contohkan hal-hal positif, sunnah-sunnah dan amalan baik lainnya. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Bakroh bertanya kepada ayahnya, “Wahai Ayah, setiap pagi dan sore saya selalu mendengar anda membaca :

    اللهم عافني في بدني، اللهم عافني في سمعي، اللهم عافني في بصري، لا إله إلا أنت

    “Ya Allah, selamatkanlah badanku, selamatkanlah pendengaranku, selamatkanlah pendengaranku, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau.”, sebanyak tiga kali. Mengapa anda melakukan hal tersebut?. Maka Abu Bakroh rodhiyallahu anhu menjawab, “Anakku, ayah mendengar Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam senantiasa berdoa dengan doa tersebut, maka ayah ingin mengikuti (mencontoh) Sunnah beliau.

    Oleh karena itu marilah kita berusaha menjadi teladan bagi anak-anak kita dengan cara meneladani Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam. 

    Waffaqanallahu wa iyyakum

    ✍️ Penulis : Ustadz Irfan Halim, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here