Mengarang Lafadz Dzikir Dalam Shalat

    0
    164

    عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ

    Rifa’ah bin Raafi’e az Zuraqy berkata; “Suatu ketika pernah kami shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai makmum. Di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri hendak I’tidal, Beliau berkata; “Sami’allahu liman hamidah”. Setelahnya, seorang laki-laki di belakang Beliau berkata; “Rabbana walakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi”. Usai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya; “Siapa yang tadi membesarkan suaranya mengucapkan ‘Rabbana walakal hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi’ ?”. –Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa saat itu tidak ada seorangpun yang menjawab pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut. Maka Beliau mengulangnya sebanyak 3 kali dan berkata, “Tidak ada persoalan dengan perkataan itu.”-. Setelahnya, barulah Rifa’ah berkata; “Saya yang mengatakannya wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam -dan tiada yang saya inginkan kecuali kebaikan.”-. Mendengarnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda; “Sungguh saya menyaksikan lebih dari 33 malaikat berebut untuk dapat lebih awal mencatat perkataan itu.”. (HR. Bukhari dengan beberapa sisipan tambahan riwayat dari penjelasan al Hafidz Ibnu Hajar dalam “al Fath”)

     

    Beberapa pelajaran
    1. Hukum asal dari sebuah ibadah adalah tauqiif (harus dilandaskan pada dalil). Hal ini nampak dari diamnya para sahabat ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka, “Siapa yang tadi mengucapkan doa I’tidal yang disertai lafadz tambahan [ … hamdan katsiran thayyiban mubarakan fiihi ] ?.

    Diamnya mereka saat itu mengisyaratkan adanya kekhawatiran bahwa mereka telah melakukan hal yang tidak disenangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selanjutnya, barulah Rifa’ah berani menjawab pertanyaan itu, setelah mendengar pernyataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tidak ada persoalan dengan perkataan itu.”. Kemudian Beliau berkata –seakan memberi alasannya-; ” … tiada yang saya inginkan –dengan mengucapkan lafadz tambahan itu- kecuali kebaikan.”

    1. Apa kiranya yang menjadi dalil dari Rifa’ah hingga mengucapkan lafadz tambahan tersebut ?.

    Dikatakan bahwa yang menjadi landasannya adalah sebuah keterangan umum, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang shalat;

    إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا شَىْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآن

    “Tidak dibenarkan bercakap-cakap dalam shalat. Yang dikatakan di dalam shalat hanyalah tasbih, takbir dan membaca al Quran.”. (HR. Muslim)

    1. Ibnu Hajar rahimahullah berkata;

    وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى جَوَاز إِحْدَاث ذِكْر فِي الصَّلَاة غَيْر مَأْثُور

    “Hadits Rifa’ah ini dijadikan dalil oleh beberapa ulama menyatakan bolehnya membuat dzikir dalam shalat yang tidak dicontohkan sebelumnya.”.

    1. Syaikh Ibnu Baaz –rahimahullah- berkata memberi komentar terhadap pernyataan al Hafidzh pada point ke-3;

    هذا فيه نظر , ولو قيده الشارح بزمن النبي صلى الله عليه وسلم لكان أوجه , لأنه في ذلك الزمن لا يقر على باطل , خلاف الحال بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم فان الوحي قد انقطع والشريعة قد كملت ولله الحمد فلا يجوز أن يزاد في العبادات ما لم يرد به الشرع. والله أعلم

    Inti dari pernyataan Syaikh rahimahullah menyatakan bahwa nukilan al Hafidz adalah pandangan yang perlu dikaji ulang. Karena dalam kenyataannya kejadian itu terjadi di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, masa dimana wahyu belum menjadi sempurna.

    Adapun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, maka wahyu telah lengkap dan sempurna. Olehnya maka tidak lagi dibolehkan mengadakan syari’at baru dalam beribadah. (lihat kembali keterangan pada point pertama).

     

    Wallahu a’lam bisshawaab

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here