Menggabungkan Niat Dzikir Shalat Dengan Dzikir Pagi dan Petang

    0
    63
    Pertanyaan  :

    Assalamualaikum ustad. Ana ingin bertanya, Kan kalau habis sholat subuh kita dianjurkan dzikir ba’da shalatnya baca ayat kursi dan surah Al Ikhlash, Al Falaq serta surah An Naas. Nah, sama kan kayak dzikir pagi petang. Kalo kita baca dzikir abis shalat subuh kayak gitu, itu udah termasuk dzikir pagi belum ya ustad?. Apa pas dzikir pagi kita harus baca lagi?, Atau tidak perlu dibaca ulang?. Kalua dibaca lagi berarti baca enam kali dong ya?. Mohon jawabannya, syukron sebelumnya

    Jawaban  :

    Menggabungkan dua niat atau lebih dalam melakukan satu ibadah telah dibahas secara panjang lebar oleh para ulama dalam masalah niat, ikhlash, tadaakhulu an niyaat atau at tasyriik fi an niyyaat (silahkan menggunakan kata kunci tersebut untuk mencari dan memperluas wawasan)

    Secara umum hal tersebut boleh saja dilakukan berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; “Sesungguhnya setiap amalan itu akan terpaut dengan niat pelakunya. Dan sesungguhnya setiap orang akan diberi balasan sesuai dengan niatnya masing-masing.”.

    Olehnya,

    *) Barangsiapa yang pergi ke masjid dengan niat untuk shalat berjama’ah (dan demikianlah kebiasaannya), dan disamping itu ia pun berniat I’tikaf, dan berniat menjumpai dan bersilaturrahim dengan Fulan yang didengarnya akan datang hari itu, dan berniat menyampaikan zakat fitrahnya ke pengurus masjid, dan berniat menyampaikan sedekahnya, dst; maka ia akan mendapatkan pahala dari seluruh amalan shaleh yang diniatkannya itu, jika ia berhasil menyelesaikan seluruhnya.

    *) Barangsiapa membuka fb dengan niat belajar agama lewat status atau catatan para ustadz, bertanya masalah agama yang hendak diketahuinya, bersilaturrahim dari jarak jauh, dst; maka tentu ia akan mendapat pahala mempelajari agama dan pahala-pahala lain dari niat yang ia tetapkan dalam hatinya. 

    *) Para ulama kontemporer yang membuka situs atau membuat akun resmi via fb atau twitter, dan yang semisal, dengan niat untuk menyebarkan agama, mengarsipkan catatan dan tulisan, menerima dan menjawab pertanyaan-pertanyaan agama, meramaikan dunia maya dengan kebaikan, menangkal syubhat-syubhat agama yang banyak disebarkan melalui internet, dst; maka tentu ia akan mendapat pahala yang lebih dari mereka yang sekedar membuat akun tersebut untuk tetap menjaga hubungan kekerabatannya dengan keluarga jauh.

    Dan karena itu pula, maka dikenal dalam sebuah pernyataan; “niat itu adalah perdagangan para ulama”. Ali bin Fudhail bin ‘Iyaadh berkata, saya pernah mendengar ayahku bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, “Engkau biasa menyeru kami untuk berlaku zuhud dan sederhana. Namun saat ini kami melihatmu dengan barang dagangan yang begitu banyak. Bagaimana engkau menjelaskannya ?!.”. Beliau menjawab;

    يا أبا علي، إنما أفعل هذا لأصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين على طاعة ربي

    “Wahai Abu Ali, saya melakukannya untuk menjaga kehormatan dan harga diriku, serta agar aku dapat menggunakan (hasilnya) untuk melakukan ketaatan kepada Rabb-ku.”. Mendengarnya, Fudhail berkata;

    يا ابن المبارك، ما أحسن ذا، إن تم ذا

    “Wahai Ibnu Mubarak sungguh baik (perolehanmu) jika engkau berhasil mengkompromikan seluruhnya dalam satu jenis ketaatan yang engkau lakukan itu.”. (Siyarul a’laam)

    Maka berdasarkan penjelasan umum tadi disimpulkan bahwa boleh menggabungkan antara dzikir setelah shalat subuh dengan dzikir pagi (yang memiliki teks sama) dalam satu niat. Seorang yang membaca dzikir shalat setelah subuh berupa ayat kursi, dan membaca surah Al Ikhlash, Al Falaq serta surah An Naas (masing-masing sebanyak tiga kali); maka dengan itu mereka dinyatakan telah juga membaca dzikir pagi, jika dilakukannya dengan niat menggabungkan dua jenis ibadah yang disebutkan.

    Wallahu A’lam bis Shawaab