Mengikutkan Niat Puasa Syawwal Ke Niat Puasa Qadha

    0
    402

    Menggabungkan dua niat atau lebih dalam melakukan satu ibadah telah dibahas secara panjang lebar oleh para ulama dalam masalah niat, ikhlash, tadaakhulu an niyaat atau at tasyriik fi an niyyaat (silahkan menggunakan kata kunci tersebut untuk mencari dan memperluas wawasan)

    Secara umum hal tersebut boleh saja dilakukan berdasarkan keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam; “Sesungguhnya setiap amalan itu akan terpaut dengan niat pelakunya. Dan sesungguhnya setiap orang akan diberi balasan sesuai dengan niatnya masing-masing.”.

    Olehnya,

    *) Barangsiapa pergi ke masjid dengan niat untuk shalat berjama’ah (dan demikianlah kebiasaannya), dan disamping itu ia pun berniat I’tikaf, dan berniat menjumpai dan bersilaturrahim dengan Fulan yang didengarnya akan datang hari itu, dan berniat menyampaikan zakat fitrahnya ke pengurus masjid, dan berniat menyampaikan sedekahnya, dst; maka ia akan mendapatkan pahala dari seluruh amalan shaleh yang diniatkannya itu, jika ia berhasil menyelesaikan seluruhnya.

    *) Barangsiapa membuka fb dengan niat belajar agama lewat status atau catatan para ustadz, bertanya masalah agama yang hendak diketahuinya, bersilaturrahim dari jarak jauh, dst; maka tentu ia akan mendapat pahala mempelajari agama dan pahala-pahala lain dari niat yang ia tetapkan dalam hatinya.

    *) Para ulama kontemporer yang membuka situs atau membuat akun resmi via fb atau twitter, dan yang semisal, dengan niat untuk menyebarkan agama, mengarsipkan catatan dan tulisan, menerima dan menjawab pertanyaan-pertanyaan agama, meramaikan dunia maya dengan kebaikan, menangkal syubhat-syubhat agama yang banyak disebarkan melalui internet, dst; maka tentu ia akan mendapat pahala yang lebih dari mereka yang sekedar membuat akun tersebut untuk tetap menjaga hubungan kekerabatannya dengan keluarga jauh.

    Dan karena itu pula, maka dikenal dalam sebuah pernyataan; “niat itu adalah perdagangan para ulama”. Ali bin Fudhail bin ‘Iyaadh berkata, saya pernah mendengar ayahku bertanya kepada Abdullah bin Mubarak, “Engkau biasa menyeru kami untuk berlaku zuhud dan sederhana. Namun saat ini kami melihatmu dengan barang dagangan yang begitu banyak. Bagaimana engkau menjelaskannya ?!.”. Beliau menjawab;

    يا أبا علي، إنما أفعل هذا لأصون وجهي، وأكرم عرضي، وأستعين على طاعة ربي

    “Wahai Abu Ali, saya melakukannya untuk menjaga kehormatan dan harga diriku, serta agar aku dapat menggunakan (hasilnya) untuk melakukan ketaatan kepada Rabb-ku.”. Mendengarnya, Fudhail berkata;

     يا ابن المبارك، ما أحسن ذا، إن تم ذا

    “Wahai Ibnu Mubarak sungguh baik (perolehanmu) jika engkau berhasil mengkompromikan seluruhnya dalam satu jenis ketaatan yang engkau lakukan itu.”. (Siyarul a’laam)

    Alasan besar dari bolehnya penggabungan demikian selain dari keumuman makna hadits niat yang telah disampaikan adalah bahwa seluruh pekerjaan itu memiliki sifat yang selaras dan tidak bertolakbelakang atau tidak saling bertentangan. Maka tidak mengapa menggabungkan niat yang berbeda pada waktu bersamaan dari satu jenis ibadah yang dilakukan, yaitu jika perbuatan-perbuatan tersebut memiliki sifat yang selaras dan tidak bertolakbelakang atau tidak saling bertentangan –sebagaimana telah disebutkan-.

    Hanya saja, dalam penjabarannya, ulama berbeda pandang dalam menilai jenis amalan yang memiliki sifat yang telah disebutkan tadi. Diantara masalah yang menuai kontroversi panjang akibat dari perbedaan tersebut adalah hukum menggabungkan niat puasa qadha dengan puasa enam hari di bulan syawwal.

    Penjabaran masalah ini cukup panjang dan berikut ini hanya disampaikan pendapat yang menyatakan bolehnya penggabungan itu;

    Ibnu Hajar al Haytsami rahimahullah berkata;

    إن صيام هذا التطوع مِن الإثنين، والخميس، وستٍ مِن شوّال، وصيام عشر مِن ذي الحجة، وعاشوراء تعظيمُ هذه الأيام بالصوم وإحياؤها بهذه العبادات، وهذا القصد يتحقق بوجود أي صوْمٍ في هذه الأيام _ انظر , الفتاوى الفقهية 2/ 83

    Berpuasa Sunnah pada hari senin, kamis, enam hari di bulan syawwal dan berpuasa pada hari asyuura’ adalah bentuk pengagungan terhadap hari-hari (mulia) tersebut. Dan maksud / tujuan (baik) ini akan tercapai dengan melakukan jenis puasa apa pun pada hari-hari tersebut.

    Dalam pernyataan yang lain, Beliau berkata;

    وقياس التداخل بين الصوْم الواجب وصوْم التطوّع على التداخل بينَ صلاتيْ الظهر وتحية المسجد، فكما أن تحية المسجد حصل بصلاة الظهر، كذلك صوْمُ ست شوال وعرفة وعاشوراء وأمثاله يحصل بصوم القضاء والكفارة، بجامع أن القصد مِن تحية المسجد: شغل البقعة _ انظر : الفتاوى الفقهية 2/ 90

    Qiyas bolehnya menggabungkan (niat) puasa wajib dengan Sunnah dapat dilakukan dengan berdasar pada kebolehan menggabungkan shalat dzhuhur dan shalat tahiyyatul masjid dalam satu niat. Maka sebagaimana shalat tahiyyatul masjid telah tercukupi dengan shalat dzhuhur, demkianlah puasa 6 hari bulan syawwal, puasa arafah, puasa asyuura, dan yang sejenisnya; pun telah tercukupi ketika seorang berpuasa qadha atau kaffarah (bertepatan dengan hari-hari tersebut). Sebabnya karena maksud dari syari’at shalat tahiyyatul masjid itu adalah terlaksananya shalat (secara mutlak) pada waktu itu (ketika masuk masjid dan sebelum duduk); demikian juga dengan syari’at puasa Sunnah pada hari-hari tersebut, pun tujuannya adalah agar waktu-waktu tersebut dihidupkan dengan berpuasa (apa pun jenis puasanya).

    Imam Suyuthi rahimahullah berkata;

    لو صام في يوم عرفة مثلاً قضاءً أو نفلاً أو كفارة ونوى معه الصوْم عن عرفة، فأفتى البازري بالصحة والحصول عنهما، قال : وكذا إن أطلق فألحقه بمسألة التحية _ انظر, الأشباه والنظائر : ص 64

    Seandainya ada seorang melakukan puasa qadha atau puasa Sunnah atau puasa kaffarat bertepatan dengan hari ‘Arafah, dan disamping berniat melakukan salah satu dari jenis puasa tersebut, pun ia sertakan niat puasa ‘Arafah bersamanya; maka berkenaan dengan masalah itu, al Baazariy berfatwa bahwa puasanya sah dan ia mendapat keutamaan dua jenis ibadah yang disatukannya tersebut.

    Demikian juga pandangan serupa dinyatakan oleh beberapa ulama, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu al Hamaam, seorang tokoh ulama bermadzhab Hanafi.

    Berkenaan dengan puasa syawwal yang niatnya diikutkan dengan puasa qadha, Syaikh Albaani rahimahullah berkata ;

    ثلاث مراتب في صيام الست من شوال لمن عليه قضاء:ـ

    1_ يصوم القضاء ثم يصوم الست ، وهي الأفضل .

    2_ يصوم القضاء فيدخل في هذه نية الست من شوال, وفي هذه الحالة يحصل عشر حسنات عن الفرض ,وحسنة واحدة عن نية صيام الست .

    3_ صوم القضاء فقط

    Terdapat tiga tingkatan puasa syawwal bagi seorang yang memiliki kewajiban qadha;

    1. Mereka yang mengqadha terlebih dahulu, kemudian berpuasa syawwal; inilah tingkatan paling utama.
    2. Mereka yang berpuasa qadha dan menyertakan niat puasa syawwal. Untuk puasa qadhanya, ia memperoleh 10 pahala kebaikan. Adapun dari puasa syawwalnya, maka ia memperoleh 1 pahala kebaikan berupa niat puasa syawwal tersebut.
    3. Mereka yang hanya berpuasa qadha saja (dan tidak menyertakannya dengan puasa syawwal).

    Demikian penjelasan umum berkenaan masalah ini. Dengannya semoga bisa memberi pencerahan kepada mereka yang ingin lebih mendalami masalah tersebut.

     

    Wallahu a’lam bisshawaab

     

     

    _____________

    Beberapa sumber:

    http://www.baiyt-essalafyat.com/vb/showthread.php?t=21068

    http://www.alukah.net/spotlight/0/89416/

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here