MENJADI KELUARGA BAHAGIA

    0
    238

    Dalam Islam, keluarga merupakan al-labinah al-ula (batu pertama) dalam bangunan masyarakat muslim. Baik tidaknya suatu masyarakat bermula dari keluarga yang hidup di lingkungan masyarakat tersebut. Keluarga juga memiliki peranan yang penting bagi tiap orang, karena keluarga merupakan tempat berteduh yang nyaman dan tentram setelah lelah beraktivitas.

    Begitu besarnya peranan keluarga, maka setiap orang harus berupaya mewujudkan keluarga yang bahagia dan harmonis. Di antara upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

    1. Jaga Hubungan Baik Dengan Allah.

    Orang bijak berkata: “Aku mengetahui kedudukanku di sisi Allah dari akhlak istriku.”. Ketika seorang hamba menjaga hubungannya dengan Allah, maka setiap urusannya akan dimudahkan termasuk urusan rumah tangganya (keluarga). Allah akan bimbing anggota keluarganya untuk mencintainya, patuh kepadanya dan berkhidmat kepadanya.

    Oleh karena itu, maka dalam membina keluarga harus dilandasi ketakwaan kepada Allah agar limpahan kebahagiaan senantiasa mengalir di dalamnya. Sebaliknya, jika bangunan rumah tangga berlandaskan kemaksiatan kepada-Nya, maka setan akan banyak mengambil peran untuk melakukan kerusakan dalam keluarga tersebut,

    2. Menyadari konsekuensi dari membina keluarga.

    Dalam kehidupan berkeluarga, masing- masing dari suami dan istri memiliki hak dan kewajiban. Hal ini sudah Allah tegaskan dalam Al-Quran Surat Al-Baqoroh ayat 228, “dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut”. Terkait ayat ini, Imam Ibnu Katsir -rohimahullah- menjelaskan, “Adapun firman Allah : “dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut” , maknanya adalah para istri memiliki hak atas suami mereka sama seperti para suami memiliki hak atas istri mereka, maka hendaknya masing-masing menunaikan hak pasangannya dengan cara yang baik.”.

    Oleh karena itu, seorang suami harus menghormati istrinya sebagaimana ia ingin dihormati, harus menjaga penampilannya di hadapan istri sebagaimana ia ingin melihat istrinya dalam penampilan yang baik, bersikap jujur dan menghargai perasaan istrinya sebagaimana ia ingin diperlakukan seperti itu oleh istrinya.

    Hal inilah yang dipraktekkan oleh Ibnu Abbas –rodhiyallahu anhuma-, beliau berkata, “ Aku senang berhias untuk istriku, sebagaimana aku senang istriku berhias untukku, karena Allah berfirman, dan mereka (para perempuan) mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.”.

    3. Bergaul Dengan Cara Yang Baik.

    Di dalam Al-Quran surat An-Nisa ayat 19, Allah berfirman, “dan bergaullah dengan mereka dengan cara yang baik.”. Sebagian ahli tafsir menjelaskan bahwa “bergaul dengan cara yang baik” bukan sekedar tidak menyakiti pasangan tetapi juga bersabar dalam menghadapi tindakan yang kurang baik dari pasangan.

    Ibarat pepatah tiada gading yang tak retak, maka tentu saja baik suami ataupun istri memiliki kekurangan atau kelemahan. Berkenan dengan keadaan inilah, seorang Qodhi (Hakim) yang sangat terkenal dalam sejarah Islam yang bernama Syuraih pernah berwasiat kepada istrinya setelah pernikahan mereka, “Jika kamu melihat kebaikan dalam diriku maka tidak mengapa untuk diceritakan, tetapi jika kamu melihat keburukan dalam diriku maka janganlah kamu sebarkan (rahasiakanlah).”.

    4. Memahami makna kepemimpinan suami.

    Dalam Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 228 Allah berfirman, “akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.”. Tingkatan yang dimaksud dalam ayat ini adalah segi kepemimpinan, karena pernikahan atau keluarga itu ibarat sebuah lembaga yang membutuhkan seorang pemimpin, seorang pengambil keputusan. Hal ini diperkuat dengan firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 34, “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita.”.

    Hal yang perlu diperhatikan oleh suami adalah ketika dia menjalankan tugasnya sebagai kepala (pemimpin) keluarga, maka terkadang dia harus meminta pendapat dan saran dari istrinya, seperti yang sudah disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran surat Ath-Thalaq ayat 6, “dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik.” Disebutkan dalam sejarah, ketika Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam berada di Hudaibiyyah (dalam peristiwa Hudaibiyyah), Beliau meminta pendapat istrinya, Ummu Salamah –rodhiyallahu anha- dalam masalah yang dihadapinya. Maka Ummu Salamah pun memberikan solusi yang menyelesaikan masalah tersebut. Suami istri harus bermusyawarah, bertukar pendapat, dan selanjutnya keputusan ditetapkan oleh suami sebagai pemimpin.

    Inilah tugas dan tanggung jawab yang harus dijalankan seorang suami sebagai pemimpin. Ini juga satu derajat kelebihan suami atas istri.

    Olehnya, janganlah dipahami bahwa dengan satu derajat ini suami bisa sewenang-wenang atas istrinya, karena satu derajat ini hanya merupakan tambahan tugas dan tanggung jawab. Umar bin Abdul Aziz -rohimahullah- ketika dibaiat sebagai Khalifah (pemimpin kaum muslimin), dalam khutbahnya mengatakan, “Ketahuilah, bahwasanya diriku bukanlah yang terbaik di antara kalian, aku sama seperti kalian, hanya saja Allah memberikanku tugas yang lebih berat dari kalian.”. Suami bisa menganalogikan perannya dengan peran Umar bin Abdul Aziz, “Aku bukan yang terbaik di antara anggota keluarga, hanya saja aku diamanahi beban dan tanggung jawab yang lebih besar.”.

    5. Memberikan Perhatian.

    Di antara bentuk perhatian kepada keluarga adalah:

    ➰Memberi pujian.

    Tidak ada salahnya antara anggota keluarga saling memberikan pujian agar tercipta kebahagiaan. Dalam satu hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Di antara amal yang paling Allah cintai adalah membahagiakan sesama muslim.”. Kalau membahagiakan sesama muslim merupakan bagian dari amal yang di cintai Allah, apalagi membahagiakan orang yang di cintai (suami/istri). Oleh karena itu, pujilah pasangan dengan mengharap pahala dari Allah.

    ➰Perkataan yang baik dan memberikan senyuman.

    Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “Ucapan yang baik adalah shodaqoh.”. Dalam hadits lain beliau bersabda, “Senyum adalah shodaqoh.”. Maka, yang paling berhak mendapatkan ucapan baik dan juga senyuman tentu adalah keluarga.

    ➰Memberikan hadiah.

    Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda, “saling menghadiahilah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.”.

    ➰Gunakan cara yang baik dalam mengoreksi kesalahan.

    Ketika salah seorang anggota keluarga melakukan kesalahan, maka janganlah mengoreksinya di depan orang lain apalagi di hadapan anak-anak. Apabila istri melakukan kesalahan, pilihlah kata-kata yang baik dalam mengoreksinya, karena hati dan perasaan wanita sangat lembut dan rapuh. Berkenaan dengan sifat wanita ini Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam menyebutkan:

    رِفْقًا بِالْقَوَارِيْرِ

    “lembutlah kepada kaca-kaca (para wanita).”.

    6. Suami membantu pekerjaan rumah.

    Mengerjakan pekerjaan rumah bukanlah aib untuk suami, hal tersebut tidak serta merta menurunkan kedudukan sosialnya di masyarakat. Rasulullah shollallahu alaihi wa sallam biasa mengerjakan pekerjaan rumah sebagaimana diriwayatkan dalam hadits bahwa Aisyah rodhiyalahu anha ditanya: “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam di rumahnya ?”. Aisyah menjawab: “Beliau adalah seorang manusia biasa yang menambal pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan melayani dirinya sendiri.”.

     

    ✒️ Penulis : Ustadz Irfan Halim, Lc

    Tim Rubrik Kajian Ilmiyah Al Binaa Menyapa

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here